
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba di ajak kerumah, dengan tujuan ingin melamar. Laki-laki yang sangat penuh dengan kejutan dan teka-teki. Selama dekat dengan Adila, sudah banyak hal-hal yang menbuatnya kaget bukan main.
Dari awal memberikan uang dan furniture lengkap, di tambah apartment dan juga asisten rumah tangga, toko kue atas nama dirinya, dan sekarang, tiba-tiba ingin melamar.
"Ibuu udah tau, soal lamaran ini?" Tanya Alea pada ibunya.
Perempuan paruh baya itu hanya menganguk pelan, sembari tersenyum. Sebelum pergi kerumah ibunya, Adila sudah menghubungi ibunya lebih dulu. Karena ia ingin memastikan, ibunya setuju, dan lamaran tidak berujung penolakan.
Siapa yang akan menolak pria tampan, dan kaya raya. Mungkin setiap orang tua menginginkan hal seperti itu untuk anaknya. Sama dengan ibu Alea. Yang selalu berdoa, agar sang anak tidak bernasib sama seperti dirinya.
"Kenapa ngga bilang?" Bisik Alea.
"Ngga usah bisik-bisik sayang. Aku udah denger ko." Ucap pria tampan yang duduk di hadapanya itu.
Alea hanya mendelik kesal, lalu menatap ibunya kembali. Deg-deg an, sudah pasti. Tapi Alea tidak mungkin menolak lamaran itu.
Wajah Adila berubah menjadi serius. Ia meletakan ponselnya, lalu mengeluarkan kotak kecil, dari dalam saku celananya.
"Ibu, mohon maaf, kalau saya datang tiba-tiba. Dan mungkin ibu juga kaget, saya datang kesini, untuk yang kedua kalinya, tapi sudah berani melamar anak ibu. Apakah ibu mau terima lamaran saya?" Tanya Adila pada ibu Alea.
"Kalau ibu setuju saja. Selagi Alea bahagia, ibu ikut bahagia. Apapun keputusanya, ibu akan ikut saja. Yang penting, nak Adila sayang sama Alea, dan mau tanggung jawab."
"Saya tidak akan berjanji bu. Saya hanya bisa membuktikan pada ibu. Kalau saya, akan menjaga Alea dengan baik. Dan bukan hanya Alea, ibu dan adik Alea, akan menjadi tanggung jawab saya." Jawab Adila dengan tegas.
Alea terdiam mematung, menatap wajah Adila yang sangat serius. Ia tidak pernah menyangka, akan secepat ini, ada pria yang datang melamarnya.
Semua doa sang ibu, terjawab sudah. Tidak ada lagi ke khawatiran dari sang ibu. Walau perempuan paruh baya itu tidak tau, darimana sang anak bisa saling mengenal satu sama lain.
"Kamu gimana? Mau?" Tanya sang ibu pada Alea. Suara lembut dan genggaman tangan, serta mata yang berbinar penuh harap, kini ada di hadapan Alea.
"Alea mau bu." Jawab Alea lirih.
"Syukur lah nak. Ibu ikut senang. Semoga segala sesuatunya di lancarkan ya sayang." Ibu Alea lalu memeluk Alea dengan erat.
Ada perasaan haru, yang tidak pernah Alea rasakan sebelumnya. Rasanya bak di lamar seoranga raja tampan dan kaya. Walau ia belum tau, asal usul sang calon.
__ADS_1
"Kalau gitu, minggu depan kita adakan pestanya ya bu. Biar saya yang siapin semuanya. Ibu dan Alea hanya tunggu beres saja." Ucap Adila.
"Orang tua nak Adila bagaiamana? Apa tidak sebaiknya datang kesini dulu?" Tanya ibu Alea. Sejatinya, melamar seorang anak perempuan, memang harus di dampingi keluarga. Karena yang akan menikah, bukan hanya dua orang saja, tapi dua keluarga besar.
"Orang tua saya masih di luar negeri. Dan mereka akan pulang dua bulan lagi. Jadi kalau menunggu pasti akan lama. Tapi, nanti saya akan coba hubungi mereka." Jawab Adila.
Ibu Alea hanya menganguk pelan dan tersenyum. Pembicaraan pun akhirnya berkahir. Alea dan Adila pamit pada sang ibu. Karena mereka harus segera pergi, untuk menemui seseorang.
Di perjalanan, Alea terus memandangi cincin yang kini melingkar di jari manisnya. Cincin berlian, yang harganya sangat fantastis, kini ada di tanganya. Bermimpi pun rasanya tidak mungkin. Namun tuhan memberikan jalan yang lain untuk Alea.
"Ngga usah di pandangi terus sayang. Kamu akan jadi istriku ko." Ucap Adila. Ia meraih tangan Alea dan mencium punggung tanganya berkali-kali.
"Aku ngga pernah mimpi seperti ini sebelumnya. Tapi takdir yang membawa aku, ketemu sama kamu." Jawab Alea. "Semoga, setelah ini, kamu ngga akan kecewain aku lagi." Tukasnya.
"Ngapain mimpi? Orang udah jadi kenyataan ko. Mimpi itu ngga enak. Pas bangun harus melihat realita yang sesungguhnya lagi." Wajah tengil dan menyebalkan itu kembali terlihat. Padahal, baru sepersekian detik, Adila membuat Alea senang bukan main.
Alea lalu melepaskan tangan Adila, dan kembali menatap jalanan. Ia benar-benar kesal dengan jawaban pria itu. Padahal ia berharap akan diberikan jawaban yang membuatnya tersenyum manis. Tapi yang ada hanyalah kebalikanya.
"Ko di lepas?" Tanya Adila yang fokus pada kemudinya.
"Ih, udah marah lagi?"
"Siapa yang marah?"
"Itu, kamu kayanya marah."
"Udah ah. Fokus nyetirnya! Nanti di tilang!" Jawab Alea ketus.
Adila hanya tersenyum manis, lalu kembali fokus pada kemudinya.
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah showroom mobil. Adila keluar lebih dulu, dan seperti biasa, ia membuka pintu untuk Alea.
"Silahkan tuan puteri." Ucap Adila sembari membungkukan badanya.
"Apaan sih." Gumam Alea. Ia salah tingkah, jika di perlakukan seperti ini. Terlebih sekarang, ada dua orang pria yang berdiri di belakang Adila.
__ADS_1
"Selamat siang pak." Sapa dua orang pria itu.
"Siang." Jawab Adila tegas. Ia lalu masuk ke dalam sembari mengandeng tangan Alea.
Keduanya di sambut oleh seorang pria yang berpakaian rapih. Sepertinya pria itu bos showroom itu.
"Pesanan saya udah siap?" Tanya Adila pada lelaki itu.
"Sudah pak. Mau langsung di bawa? Atau kami antar pak?" Jawab pria itu dengan sopan.
"Liat dulu. Calon istri saya mau liat."
"Baik pak. Mari silahkan." Pria itu berjalan lebih dulu. Ia lalu menunjukan sebuah mobil berwarna putih. Mobil yang sangat bagus, dengan harga yang tidak murah tentunya.
"Yang putih kan pak?" Tanya pria itu pada Adila.
"Kamu suka putih?" Adila menatap Alea, yang kini tengah fokus menatap mobil di hadapanya.
"Sepertinya dia suka warna putih." Gumam Adila.
"Hah? Apa?" Tanya Alea kaget.
"Ya sudah pak, saya mau langsung ambil saja. Dan mobil saya, bisa langsung di antar ke kantor saya ya." Ucap Adila pada pria itu.
"Baik pak. Sebentar, saya siapkan dulu." Pria itu lalu bergegas pergi meninggalkan Adila dan Alea.
"Kamu suka?" Tanya Adila lalu mencium tangan Alea kembali.
Alea yang masih belum terbiasa dengan sikap Adila, ia merasa risih. Namun ia tidak mungkin melarang nya.
"Apanya?" Jawab Alea bingung.
"Mobilnya lah. Masa penjualnya. Suka ngga?" Tanya Adila lagi.
"Jangan bilang ini buat aku?"
__ADS_1
"Terus buat siapa lagi? Mobilku udah banyak. Ya tentu untuk kamu lah."