
"Jangan pernah ganggu suami orang lagi, atau lo akan tau akibatnya!!"
Akhirnya Alea bisa memabalaskan rasa sakit hati ibunya, pada perempuan yang sudah membuat keluarganya hancur. Bahkan tanpa di sengaja, Alea sudah menyelamatkan rumah tangga Erni, perempuan hamil yang baru saja ia kenal.
Beruntung, suaminya masih belum berhubungan terlalu jauh dengan Intan. Hingga akhirnya, rumah tangga Erni bisa terselamatkan.
"Lex bawa dia keluar." Ucap Adila pada bodyguardnya. Adila tidak ingin membuat keributan lagi di klub malam milik sahabatnya itu.
"Baik pak." Alex pun bergegas membopong tubuh Intan, dan membawanya keluar dari ruangan karaoke itu.
Kondisinya yang sudah tidak sadarkan diri, membuat Intan tidak melawan saat dibawa paksa keluar.
"Sayang, maafin aku." Ucap suami Erni, sembari terus mengengam tangan perempuan itu.
Namun Erni terlihat acuh, dan cuek ia malah berbicara dengan Alea, dan mengucapkan banyak terimakasih, padanya.
"Mba makasih banyak ya, kalau bukan karena mba, mungkin saya ngga akan tau gimana jadinya, rumah tangga saya." Ucap Erni.
"Sama-sama mba. Semoga ini jadi pelajaran buat mba, dan juga suami." Jawab Alea.
"Mba pulang, biar di antar sama supir saya yang tadi. Hari sudah sangat larut malam, belum lagi, mba lagi hamil." Sahut Adila.
"Baik pak. Sekali lagi terimakasih." Ucap Erni.
Alea tahu, Erni pasti menahan tangisnya, di depan Adila juga Alea.
Sementara suaminya, yang kini berdiri sempoyongan, terus mengenggam tangan istrinya.
"Jangan di ulangi lagi ya pak. Kasian, istri bapak lagi hamil. Jangan sampai penyesalan datang belakangan." Ucap Alea pada suami Erni. Ingin sekali berbicara banyak dengan pria itu, dan menasehatinya, meski usianya lebih tua dari Alea. Namun ia rasa akan percuma, karena kondisi nya sedang tidak sadarkan diri.
Pria itu hanya menganguk pelan. Erni akhirnya pamit, setelah dua bodyguard Adila kembali dan mengawal Erni serta suaminya keluar.
Setelah Erni dan suaminya pergi, seluruh tubuh Alea terasa lemas. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak bisa membayangkan, bagaiamana perasaan ibunya dulu, saat ayahnya selingkuh dengan Intan. Andai saat itu Alea sudah besar, dan punya kekuatan untuk melawan, sudah pasti keluarganya masih utuh.
"Kamu kenapa?" tanya Adila sembari mengenggam tangan Alea.
"Aku sakit hati." Alea lalu memeluk Adila dengan erat, dan menumpahkan rasa sakit hatinya di pundak suaminya.
__ADS_1
"Udah, semuanya udah berakhir. Saatnya kamu, dan ibu menata hidup ke depan. Ada aku, yang akan selalu menjaga kalian." Ucap Adila sembari mengelus pucuk kepala Alea.
"Makasih atas semua yang udah kamu lakuin. Andai saja aku ngga jadi istri kamu, mungkin aku masih belum bisa membalaskan rasa sakit hati ibu." jawab Alea.
Adila hanya menganguk pelan, lalu menghapus air mata istrinya, dan mengecup keningnya dengan lembut.
"Aduh, salah kamar."
Suara seorang pria yang tak lain adalah Kevin, membuat Alea dan juga Adila menoleh. Pria itu kembali menutup pintu ruangan itu dan keluar.
"Yuk, kita pamit sama Kevin." Ajak Adila, sembari mengenggam tangan Alea.
Keduanya pun keluar, dan kembali keruangab Kevin.
"Gimana? Udah aman?" tanya Kevin yang tengah sibuk memandangi layar komputernya.
"Aman. Thanks ya Vin. Ini semua berkat lo. Kalau bukan karena lo, mungkin ngga akan berjalan mulus bro." Jawab Adila.
"Sama-sama. Yang penting kerja sama kita masih bisa berlanjut." Jelas Kevin lalu tersenyum.
"Lo emang sahabat gue Dil. Besok gue hubungi lo. Mending sekarang, lo bawa istri lo pulang dulu. Kasian dia." Kevin lalu menatap Alea, yang terus melamun.
"Oke lah. Nanti lo telpon gue ya." Adila pun menyalami tangan Kevin, dan pamit pergi, bersama Alea.
Saat keduanya keluar, menuju parkiran, tiba-tiba ada yang menarik tangan Alea, lalu menyiramnya dengan air.
"Aww!!" Teriak Alea. Ia kaget, saat melihat Nadia kini berdiri di hadapanya.
"Maksud lo apa nyiram istri gue hah!!" bentak Adila sembari mendorong Nadia sampai ia terjatuh.
"Itu pantas buat perempuan ngga tau terimakasih kaya dia! Kalau bukan karena gue, lo berdua ngga akan ketemu!" Teriak Nadia.
Alea terdiam, dan menatap sahabatnya itu. Apa yang di katakan Nadia memang benar. Jika bukan karena Nadia, Alea tidak mungkin bertemu dengan Adila.
"Terus mau lo apa? Lo mau gue kasih duit?" Bentak Adila. Tanpa menunggu lama, Adila mengeluarkan dompetnya, dan mengekuarkan uang pecahan seratus ribu rupiah, dan melemparkanya pada wajah Nadia.
"Sayang udah." bisik Alea. Meski Nadia menyebalkan, tapi Nadia yang menemaninya saat susah dulu.
__ADS_1
"Ngapain kamu belain dia? Dia udah nyiram kamu." ucap Adila.
Tanpa menjawab, Alea malah mengulurkan tanganya pada Nadia.
"Gue minta maaf." ucap Alea.
Perempuan itu, hanya terdiam dan menatap tangan Alea.
"Sayang! Kamu apa-apaan sih! Dia udah hina kamu!" bentak Adila.
"Tapi dia mantan sahabat aku." Alea lalu membantu Nadia untuk berdiri kembali.
Kedua sahabat itu saling menatap satu sama lain. Dengan wajah lusuh, Nadia pun memeluk Alea dan menangis pilu.
"Gue minta maaf. Gue salah." Sembari terisak tangis, Nadua terus memeluk Alea.
Adila hanya bisa melihat kedua sahabat itu, tanpa mengatakan apapun.
"Udah ya. Lo ngga salah. Gue minta maaf. semoga lo, bisa berubah." Alea lalu menghapus air mata Nadia, dan memungut uang yang sudah Adila lemparkan pada Nadia tadi, dan memberikanya pada Adila.
"Pulang yuk? Lo jangan kaya gini terus, lo harus mulai nata hidup lo." ucap Alea.
"Gue masih harus bayar hutang nyokap gue." jawab Nadia.
Alea menatap Adila, dan berharap suaminya akan membantu Nadia membayar hutang nya. Meski ia juga mampu, membayarkan hutang itu, dengan uang yang ia punya sekarang.
"Aku tunggu di mobil." Adila pun kembali ke mobil lebih dulu. Ia muak melihat wajah Nadia, yang sudah berani menyiram Alea, di tempat umum seperti tadi.
"Besok, gue tunggu di apartment yang dulu. Nanti gue bantu lo bayarin hutang nyokap lo. Sekarang, lo pulang, lo ngga usah kerja disini lagi. Perbaiki hidup lo." Jelas Alea.
"Ngga bisa Al. Gue harus habisin kontrak disini. Gue ngga mau harus bayar denda." Nadia pun tersenyum pada Alea, dan kembali masuk ke dalam klub malam itu.
Sebenarnya Alea kasian melihat Nadia seperti sekarang ini. Tapi ia juga tidak bisa memaksa Nadia untuk berhenti bekerja di dunia malam.
Alea pun menyusul Adila ke dalam mobil. Suaminya nampak menunduk, dengan wajah kesal.
"Maafin aku."
__ADS_1