CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 48 | Akhirnya tuntas


__ADS_3

Kalau sudah tidak suka, mau membuka fakta apapun, dengan bukti nyata sekalipun, tetap saja tidak akan merubah prinsip tidak sukanya.


Seperti yang nenek Alea lakukan sekarang. Sudah jelas-jelas buktinya ada, jika Mila bukan cucu kandung nya, tapi tetap saja di bela. Penjelasan Mila sekalipun, tidak membuat nenek Alea lantas berubah jadi baik.


"Nek, ini Mila yang rasain. Mila yang tau sendiri nek, gimana tersiksanya papah selama ini." Ucap Mila.


Sudah dengan berbagai cara, bahkan dari mulai berbicara lembut, sampai Mila sedikit lebih emosi.


"Kamu di bayar berapa Mila, buat ngarang cerita ini sama nenek? Kamu tega fitnah ibu kamu sendiri?" Jawab Nenek Alea.


Kesabaran Alea sudah mulai menipis. Ia lalu mengajak Adila untuk pergi dari rumah itu. Rasanya percuma, bagi nenek Alea tetap saja Intan adalah perempuan baik-baik.


"Kita pergi!" Tanpa menunggu jawaban Adila, Alea pergi begitu saja, meninggalkan rumah neneknya dan menunggu di mobil.


Perasaanya campur aduk. Niat ingin menyelamatkan ayahnya, yang ada malah hinaan terus menerus datang kepadanya.


Tidak berselang lama, Adila pun masuk ke dalam mobil, menyusul Alea yanh sudah lebih dulu menunggunya.


"Sayang, kamu harus lebih sabar sedikit saja. Kamu harus bantu papah kamu." Ucap Adila sembari mengenggam tangan Alea.


"Udah ya, aku capek. Aku mau istirahat. Kita pulang." jawab Alea. Ia terus memijat pelipisnya, yang sudah mulai terasa sakit.


Tanpa menunggu lama, Adila lalu menyuruh supir, untuk mengantarnya kembali kerumah.


Di sepanjanh perjalanan, Alea terus menutup matanya. Rasanya, lebih baik tidak tau sama sekali masalah ini, di banding harus berada dalam situasi seperti ini.


"Beb, ngga jadi ke apartment ibu?" Tanya Adila memecah keheningan.


"Ngga jadi. Kasian ibu, kalau harus tahu tentang semua ini." Jawab Alea.


"Tapi, ibu juga harus tahu. Jangan sampai, ibu terus menerus salah paham."


"Stop beb. Kepalaku sakit." Alea kembali memijat pelipisnya. Menjauh dari pembicaraan ini, sepertinya jalan terbaim untuk saat ini.


Setelah tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah. Alea keluar lebih dulu, dan berlarian menuju kamarnya. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya.


"Beb, udah ya. Jangan nangis." Ucap Adila lalu memeluk Alea dari belakang.


"Biarin aku sendirian ya, please aku mohon." Jawab Alea. Ia butuh waktu menenangkan dirinya, setelah masalah yang bertubi-tubi datang begitu saja.


Untung saja Adila mengerti. Tanpa banyak.protes atau pertanyaan, ia lalu mencium kening Alea, dan bergegas keluar dari kamar.


Setelah suaminya keluar Alea mencoba membaringkan tubuhnya, lalu menutup matanya. Berharap ia akan tertidur pulas, dan melupakan sejenak permasalahan yang ada.

__ADS_1


................


"Alea keluar!"


Samar Alea mendengar teriakan seseorang dari luar. Ia membuka mayanya, dan melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul delapan malam. Ternyata ia tertidur cukup lama.


"Mana istri kamu! Suruh dia keluar!!"


Teriakan itu kembali terdengar lagi. Dengan rasa penasaranya, Alea lalu keluar dari kamarnya, dan bergegas pergi ke lantai bawah.


Namun tidak ada seorang pun yang berada disana. Ruabg tamu nampak kosong. Hanya ada asisten rumah tangganya yang baru saja keluar dari dapur, setelah melihat Alea turun.


"Ibu cari siapa?" Tanya asisten rumah tangganya dengan sopan.


"Saya dengar ada yang teriak manggil saya, apa kamu denger juga?"


"Tidak bu. Saya daritadi di dapur tidak mendengar suara apapun."


Alea mulai terlihat bingung. Karena ia dengan jelas mendengar teriakan itu.


"Bapak kemana?" Tanya Alea lagi.


"Pergi bu. Tadi buru-buru kelihatanya."


"Oke deh maka...."


Ternyata benar, Alea tidak salah dengar. Ada seseorang yang berteriak dari luar. Tanoa menunggu lama, Alea melihat di layar monitor cctv, dan ternyata yang datang adalah ibu tirinya. Ia tengah berdiri di depan rumah Alea, sambil memegang helm nya.


"Mau di bukain pintu bu?" Tanya asisten rumah tangganya lagi.


"Ngga usah, panggil satpam dan usir perempuan itu." Jawab Alea lalu kembali ke kamarnya.


Alea lalu meraih ponselnya, dan mencoba menghubungi Adila. Setelah dua kali terdengar nada tunggu, akhirnya panggilan pun terhubunng.


"Kamu dimana?" Tanya Alea.


"Aku di jalan sayang. Ada apa? Kamu udah bangun?"


"Ada perempuan itu datang kesini. Dia teriak-teriak di depan rumah."


"Sudah pasti. Tunggu sayang, jangan kamu buka pintunya ya." Adila langsung mengakhiri panggilan telponya begitu saja.


Alea kembali melihat ke arah jendela, dan ternyata ibu tirinya masih berdiri disana. Ntah apa yang terjadi saat ia tertidur tadi.

__ADS_1


Tidak berselang lama, mobil Adila datang. Namun ia tidak sendirian, ia datang bersama ayah Alea dan juga Mila.


Dengan cepat Alea turun lalu keluar dari rumahnya. Ia melihat ayahnya tengah menarik tangan ibu tirinya dengan kasar.


"Pulang!" Bentak ayah Alea.


"Ngga! Aku ngga akan pernah pulang sebelum aku bertemu dengan anakmu!" Jawab ibu tirinya dengan suara lantang.


"Ngapain kamu cari saya?" Tanya Alea.


Ibu tirinya dan juga ayahnya menoleh dan melihat Alea sudah berdiri di belakangnya.


"Kamu! Kamu yang sudah hancurkan semuanya!" Teriak ibu tiri Alea, sambil menunjuk Alea.


Untung saja ayahnya menahan perempuan itu dengan sekuat tenaga. Dan tentu saja, Adila langsung menghampiri Alea lalu mengenggam tanganya dengan erat.


"Jangan pernah bentak istri saya! Sekarang juga kamu pulang, sebelum saya beri pelajaran yang lebih-lebih dari ini." ucap Adila dengan tegas. Ia lalu menyuruh kedua pengawalnya, untuk membawa ibu tiri Alea pulang dengan mobilnya. Sementara Mila dan ayahnya masih berada disana.


Tatapan ayah Alea terlihat pilu. Ia lalu menghampiri Alea dengan langkah gontai.


"Lea, maafin ayah." Ucap ayahnya lirih.


Alea terus terdiam sembari menatap Adila. Bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang.


"Lea, papah ngga salah apapun. Dia cuma korban disini. Kamu harus maafin dia." Ucap Mila.


"Iya sayang. Papah kamu ngga salah. Dia sudah tau semuanya." Jawab Adila sembari tersenyum.


Berat rasanya untuk memaafkan. Tapi saat melihat pria paruh baya di hadapanya saat ini, rasanya ia tidak tega.


Alea lalu memeluk ayahnya, dan terisak tangis.


"Lea minta maaf. Lea ngga tau, kalau selama ini, papah begitu menderita." Ucap Alea.


"Ayah yang minta maaf. Ayah sudah buat kamu, ibu dan adik kamu menderita. Ayah minta maaf." Jawab ayah Alea.


Alea lalu melepaskan pelukanya, dan mencium tangan ayahnya.


"Kalau begitu, Mila pulang ya pah. Papah sudah aman disini." Ucap Mila.


"Kamu mau kemana?" Tanya ayah Alea.


"Mila mau kembali kerumah panti pah." Jawab Mila.

__ADS_1


"Jangan nak. Kamu sama papah saja. Kamu udah papa anggap, seperti anak papah sendiri." Ayah Alea berusaha mencegah Mila untuk pergi. Namun Mila sepertinya sungkan dengan Alea.


"Lo bisa tidur disini malam ini."


__ADS_2