CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 9 | Kaya mendadak


__ADS_3

Bekerja di dunia malam memang penuh resiko, dan benar-benar harus mempunyai mental yang cukup kuat. Karena yang di hadapi bukan orang sadar seperti pada umumnya. Tapi orang-orang yang sedang menikmati alkohol, yang akan membuat hilang kesadaran hanya untuk beberapa saat.


Baru dua hari bekerja, Alea sudah kehilangan kesucianya, dan bahkan hampir saja di jual pada lelaki hidung belang. Kenyataan yang ia lihat, dengan apa yang di ceritakan oleh Nadia sungguh berbeda terbalik. Tapi ia tidak menyesali semua itu.


Dan malam ini, ia juga harus melayani pria sombong, yang tidak mau kalah, dan selalu merasa dirinya paling benar. Tapi, ia lagi-lagi selalu terpesona dengan cara Adila memandangnya. Jantung nya selalu berdetak lebih kencang, dari biasanya. Seperti yang tengah ia rasakan sekarang.


"Aku tegasin sama kamu, kalau aku ngga punya istri ataupun pacar. Kamu boleh lihat kartu identitas aku." Tanpa penjelasan yang lebih panjang lagi, Adila langsung memperlihatkan identitasnya pada Alea.


Dengan pencahayaan yang minim, Alea melihat identitasnya yang ternyata masih lajang. Hatinya merasa sedikit lega, karena ia bukan perempuan yang merebut milik orang lain. Ia kembali memberikan identitasnya pada Adila, lalu kembali memasang sabuk pengaman.


"Udah ayo jalan! Jangan sampai ada orang yang melihat kita di mobil." Dengan suara lirih, dan tanpa menatap ke arah lawan bicaranya, Alea kembali terlihat lebih tenang.


"Gitu dong. Nurut sekali-kali. Jangan bantah terus. Jangan buat aku makin tambah badmood."


"Siapa juga yang mau kamu tambah badmood? Aku ngga nyuruh kamu buat ngajakin aku juga. Kamu aja yang ngga mau lepas dari aku."


"Emang kamu mau, di lepasin gitu aja setelah kamu kehilangan hal yang berharga? Jangan bodoh! Kamu itu masih polos!"


"Aneh! Mau kamu itu apa sih? Kenapa harus bahas lagi masalah itu? Atau kamu mau jadiin aku boneka kamu?" Dengan kesal Alea mendelik kesal, lalu kembali berpangku tangan dan menatap pria yang ada di samping nya.


Tanpa memperdulikan ocehan Alea, Adila menghidupkan speaker mobilnya dengan suara keras Nyanyian yang terus ia senandungkan, tanpa memperdulikan Alea yang duduk di samping nya.


Sadar dirinya hanya menumpang di mobil itu, ia hanya bisa memejamkan matanya, dan mendengar suara sumbang yang di lantunkan oleh Adila.


 

__ADS_1


Seolah di hipnotis dengan nyanyian Adila yang terdengar sumbang, namun berhasil membuatnya tertidur pulas, hingga ia tidak sadar jika dirinya sudah berada di dalam sebuah ruangan.


Akan tetapi ada yang berbeda dari sebelumnya, ini bukan ruangan yang kemarin ia tempati. Melainkan ruangan baru lagi, dengan interior kamar yang sangat mewah.


"Aku dimana?" Gumamnya sembari menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul 12 siang. Ternyata ia sudah terlelap cukup lama.


Ia lalu beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan keluar dari kamarnya. Yang pasti kali ini bukan hotel seperti yang kemarin.


"Selamat siang mba. Udah bangun?" Suara seorang perempuan dari arah dapur, yang membuat Alea tersentak kaget, dan berdiri mematung.


Seorang perempuan paruh baya, kira-kira seusia dengan ibunya, keluar dengan membawa masakan yang tercium sangat menggoda.


"Mba, saya Marni. Saya ditugaskan pak Adila, untuk bekerja disini. Jadi kalau ada apa-apa, mba tinggal bilang sama saya." Dengan senyuman manis, sembari menata makanan di atas meja, perempuan itu lalu menghampiri Alea dan beesalaman tangan denganya.


Seperti mimpi di siang bolong, itulah yang saat ini Alea rasakan. Bangun tidur di sapa oleh seorang asisten rumah tangga, di tempat mewah nan indah, yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Eh ngga bu. Ngga usah. Saya cuma kaget aja. Ini saya dimana ya? Saya soalnya baru bangun, jadi saya ngga tau dimana." Sembari mengaruk kepalanya yang tidak gatal, dan memeperlihatkan barisan giginya, Alea menatap mba Marni dan berharap ia mendapat jawaban yang ia inginkan.


"Oalah mba, ko piye to, masa apartment sendiri bisa lupa. Ini di dekat kantornya pak Adila."


"Apartment saya? Sejak kapan saya punya apartment?" Alea terlihat sangat kaget. Matanya membulat sempurna, menatap perempuan yang kini tersenyum manis padanya


"Iya mba. Ini apartment milik mba. Pak Adila tadi, memberitahu saya, kalau ini milik mba. Dan saya disini bertugas sebagai asisten rumah tangga mba, yang akan siap membantu mba kapan saja." Jawab perempuan itu."Eh, saya hampir lupa. Ini ada titipan dari pak Adila. Katanya uang untuk bekal tiga hari ini." Mba Marni berlarian ke dapur, dan kembali dengan membawa amplop berwarna cokelat yang terlihat sangat tebal.


"Ini apa?" Tanya Alea bingung.

__ADS_1


"Itu uang jajan untuk tiga hari kedepan. Pak Adila ada kerjaan di luar kota, yang ngga bisa di tinggalkan mba." Jawab mba Marni yang terlihat sangat canggung.


Perlahan Alea membuka amplop yang kini ia gengam, dan melihat uang yang sangat banyak. Sepertinya berjumlah 50 juta.


"Ya ampun! Ini banyak banget!" Teriak Alea dengan wajah kaget. Ini kali pertama nya ia melihat uang sebanyak itu di tanganya.


"Aduh, hampir lupa, bentar mba." Dengan langkah tergesa-gesa mba Marni kembali ke dapur dan kembali dengan membawa ponsel yang masih terbungkus rapih. Sepertinya ponsel itu baru saja di beli.


"Ini, dari pak Adila mba. Katanya kalau mau telpon, pake handphone yang ini saja." Mba Marni kembali memberikan ponsel baru itu pada Alea.


Apartment lengkap dengan isinya dan juga asisten rumah tangga, di tambah uang yang saat ini ia genggam, dan ini, handphone baru dengan harga yang sangat fantastis. Handphone yang sering ia lihat di televisi, karena banyak artis yang memakai ponsel itu.


"Mba, aku ngga lagi mimpi kan?" Tanya Alea dengan wajah kaget.


Perempuan paruh baya itu hanya terkekeh pelan, lalu mencubit punggung tangan Alea.


"Aww sakit!" Teriak Alea setelah di cubit oleh mba Marni. Dan itu artinya, ia tidak sedang bermimpi. Apa yang ia alami saat ini, adalah kenyataan.


Ia berubah menjadi seorang yang kaya, dalam waktu hitungan hari.


"Itu tandanya mba ngga lagi mimpi. Udah ah, mba Marni mau masak dulu. Kalau mba butuh apapun, teriak aja ya." Sembari mengacungkan jempolnya, mba Marni kembali ke dapur untuk melanjutkan memasaknya.


Tidak ingin terus menerus bertanya-tanya seorang diri, Alea membuka ponsel itu, lalu mengaktifkanya dan menghubungi Adila. Karena hanya nomor dia yang sudah di simpan dalam ponsel itu.


"Apa sayang? Udah bangun?" Sapa Adila dari ujung telpon.

__ADS_1


"Ini maksudnya apa? Kenapa ngga berhenti buat aku kaget sih?" Tanya Alea.


"Semua itu buat calon istriku."


__ADS_2