
"Kamu cemburu ya?" Goda Adila, yang langsung memeluk Alea dari belakang. Bibirnya terus mencium leher jenjang Alea dengan lembut.
"Bukan cemburu, tapi aku kesal aja sama Nadia. Bisa-bisanya dia peluk kamu. Padahal aku udah bantuin dia, buat tinggal disini."
"Dari awal aku sudah bilanh sayang, kalau Nadia bukan teman baik."
"Dulu dia ngga seperti itu." Alea lalu melepaskan pelukan Adila dan duduk di tepian tempat tidur sembari menatap Adila.
Alea memang belum mempunyai perasaan apapun pada Adila, tapi ia tetap tidak terima, jika Nadia mendekatinya. Karena Adila sudah mengambil kesucianya, jadi sampai kapanpun, ia akan mempertahankan hubungan itu, dan belajar mencintai Adila.
"Ngga usah di bahas ya. Temenin aku istirahat ya. Aku capek banget." Lagi-lagi Adila kembali mencium leher jenjang milik Alea dengan lembut. Sebelah tanganya mulai meraksuk ke dalam pakaianya.
"Aku mandi dulu." Ucap Alea lalu melepaskan tangan Adila yang sudah meraksuk ke dalam pakaianya.
Ia sengaja berusaha menghindar, karena takut Adila akan memintanya untuk menemani tidurnya lagi.
Namun sepertinya itu malah akan membuat pancingan untuk Adila. Kini ia beranjak dari tempat duduknya, lalu membuka lemari pakaian yang ada di hadapanya.
Sejak tadi, Alea memang belum membuka lemari pakaian yang paling ujung. Ia baru membuka yang tengah saja. Itupun karena tadi ia memberikan pakaian untuk Nadia.
"Lihat baby, kamu pilih satu baju seksi, yang sudah aku siapkan." Dengan gaya bak seorang pelayan toko baju, Adila memperlihatkan isi lemari paling ujung. Yang ternyata semua isinya, pakaian lingerie. Dari berbagai bentuk, dengan macam warna yang berbeda.
Mata Alea membulat sempurna saat melihat isi lemari itu. Lututnya terasa lemas. Ia kembali duduk di tepian tempat tidur, sembari memandang isi lemari itu.
"Aku udah siapin semuanya buat kamu. Jadi kamu tinggal pilih saja." Adila lalu mengeluarkan satu pakaian berwarna merah terang. Bentuknya hampir sama dengan yang kemarin Alea pakai saat berada di hotel.
"Harus pakai baju ini ya? Ini kan masih sore." Tanya Alea, dengan wajah memelas.
"Bisa kan, cuma pakai aja, dan terima dengan baik, ngga usah ada komplain, atau bantahan?" Jawab pria tampan yang kini ada di hadapanya itu.
Sembari menghela nafas berat, Alea meraih pakaian itu, dan membawanya ke dalam kamar mandi. Ia terus mendengus kesal, karena rencananya untuk menghindar, malah menjadi boomerang baginya.
Sudah setengah jam Alea berada di dalam kamar mandi. Ia sengaja untuk tidak cepat-cepat keluar dari sana. Padahal ia sudah siap dengan pakaian merah terang. Sembari menatap kaca yang ada di hadapanya, Alea merasa dirinya seorang perempuan yang tidak ada harganya lagi di depan semua orang.
"Lama banget!!" Teriak Adila dari dalam kamar.
__ADS_1
Tidak ingin mendengar teriakan Adila terus menerus, Alea akhirnya keluar dari kamar mandi. Kali ini ia membiarkan dadanya terlihat sangat jelas, tanpa ia tutu dengan apapun.
"Wow! Kamu sungguh menggoda sayang." Adila melambaikan tanganya, sembari menepuk tempat tidur yang ada di sebelahnya.
Dengan langkah gontai, Alea langsung naik ke atas tempat tidur. Dan tanpa menunggu lama, Adila langsung memeluknya dengan erat. Sebelah tanganya langsung memegang dada Alea dan memainkanya dengan lembut.
"Puasin lagi ya." Bisik Adila, yang langsung membuat bulu kuduk nya berdiri.
Jujur saja, Alea merasa malu pada dirinya sendiri, namun ia hanya bisa pasrah dan membiarkan Adila membelai tubuh indahnya.
Perlahan, Adila mulai mencium bibir Alea dengan lembut. Tak puas dengan posisi seperti itu, Adila mengubah posisinya, dan menarik tubuh Alea ke atas pangkuanya.
Dari arah belakang, Adila lebih leluasa untuk memegang lekuk indah tubuh kekasih nya itu. Tanganya memgang ujung dadanya, dan sebelah lagi, memegang bagian inti tubuhnya. Sementara bibirnya terus mencium leher jenjang Alea.
"Nggghhh"
Tubuh Alea mulai mengelinjang merasakan kenikmatan yang di berikan oleh Adila. Ia lalu membalikan tubuhnya, hingga ia berhadapan dengan Adila.
Dadanya ia busungkan, dan membiarkan Adila menghisapnya secara perlahan.
"Enak.." Rintihan Alea terdengar lembut, dan membuat Adila lebih memacu permainanya.
Ia sudah tak sabar lagi, lalu membuka seluruh pakaianya. Dengan tubuh kekarnya, Adila mengangkat tubuh Alea, dan mendudukanya di meja.
Tanpa menunggu lama, Adila langsing menautkan bagian inti tubuh mereka.
"Pelan-pelan, sakit." Bisik Alea.
Namun Adila seolah tidak peduli, dan lebih mengencangkan permainanya.
"Punya kamu enak. Aku ngga bisa tahan." Semburan lahar panas tepat di kaki Alea, menandakan permainan panas sudah berakhir.
Dengan senyuman manisnya, Adila langsung mencium bibir manis Alea, dan mengendong Alea ke kamar mandi. Keduanya membersihkan tubuh mereka, setelah bermain panas di sore hari.
......................
__ADS_1
Setelah berman panas, Adila dan Alea terlelap pulas. Sampai mereka lupa jadwal makan malam. Teriakan mba Marni dari ambang pintu, membangunkan keduanya.
"Morning sayang." Sapa Adila lalu mencium bibir Alea. Ia kembali memeluk Alea dengan erat.
"Ini malam." Jawab Alea ketus.
"Sorry beb, im forget. Makan malam ya?" Ucap Adila lalu membuka matanya perlahan.
Alea masih belum bisa beranjak dari tempat tidurnya, karena ia malu. Keduanya tertidur tanpa busana. Hanya bertutupkan selimut tebal.
"Bangun gih. Makan dulu. Aku mau lanjut tidur." Adila kembali memejamkan matanya. Sepertinya ia sangat kelelahan, setelah melakukan ronde keduandi kamar mandi.
"Aku belum pakai baju." Jawab Alea lalu menatap Adila.
"Ya udah, minta mba aja yang anterin kesini ya."
"Kamu ini gila apa gimana sih? Aku ngga pake baju. Kita ngga pake baju, terus kamu suruh aku buat panggil mba. Malu dong! Apa kata mba nanti. Kita belum nikah tapi udah tidur bareng."
"Mba taunya kita udah nikah sayang. Kamu tenang aja, sebentar lagi aku bakalan lamar kamu ko."
"Kamu bohong? Jadi kamu bilang kalau kita udah nikah?"
"Sutt!! Jangan kencang-kencang. Mba denger nanti." Adila menutup mulut Alea dengan satu jarinya. Ntah apa maksudnya mengatakan hal itu pada Alea.
"Kamu ini bener-bener ya. Kalau kita di gerebek nanti gimana?" Tanya Alea setengah berbisik. Karena sering melihat media sosial tentang penggerbekan di hotel, Alea menjadi paranoid dan ketakutan.
"Siapa yang mau gerebek? Ini apartment atas nama kamu." Jawan Adila dengan santai.
Alea kembali teringat dengan mamih, yang kemarin menelpon Adila. Bisa saja, mamih itu yang datang dan mengusirnya dari tempat itu.
"Mamih! Mamih kamu yang nelponin kamu kemarin." Ucap Alea sembari menatap tajam.
Adila hanya terkekeh pelan, lalu meremas dada Alea dengan penuh gairah.
"Aww! Sakit!" Refleks tangan Alea mencubit lengan Adila.
__ADS_1
"Main lagi yuk? Kamu menggoda banget soalnya."