
Menyelsaikan masalah dengan kepala dingin, memang lebih baik. Karena hasilnya pun akan baik. Beruntung Adila membawa Alea ke tempat Diana. Jika tidak, mungkin Alea tidak akan berani seperti tadi.
Mobil SUV putih itu melaju kencang menuju sebuah hotel. Sang pengemudi sudah tidak sabar untuk bermesraan dengan kekasihnya. Sampai akhirnya mobil itu tiba di sebuah hotel mewah.
Keduanya turun dari mobil, dan saling mengenggam tangan satu sama lain. Senyuman memgembang dari keduanya terpancar sangat jelas.
Sebagai anak pemilik hotel, Adila di sambut hangat oleh seluruh karyawan yang melihatnya. Ia langsung di antar oleh sang manager ke kamar, tempat ia biasa menginap disana.
Kamar presiden suite dengan, tatanan kamar yang begitu mewah, serta taburan bunga mawar di lantai, menyambut kedatangan keduanya.
Meja untuk dinner romantis pun sudah tersusun rapih, dengan hidangan special. Fotp keduanya terpampang nyata di atas meja, bersama dengan hidangan lengkap.
Seolah keduanya pasangan pengantin baru, yang akan melakukan honeymoon.
"Cantik banget." Dengan kagum Alea melihat sudur ruangan kamar itu.
"Kamu senang sayang?" Pelukan hangat Adila, membuat Alea menganguk pelan, dan membalikan tubuhnya. Ia lalu mencium bibir sang kekasih berkali-kali.
Hembusan nafas Adila di telinga Alea, membuat ia merinding. Aroma tubuhnya yang khas, membuat candu baginya. Satu minggu mengenal sosok Adila, sudah cukup bagi Alea.
Keduanya mulai bercumbu mesra, sampai mereka lupa, masih ada sang manager hotel yang beridiri di belakang.
"Saya permisi pak." Wajah pria paruh baya itu nampak gugup, ia buru-buru keluar karena tidak ingin melihat adegan yang lebih menantang.
"Aku mandi dulu." Bisik Alea lalu melesat masuk ke dalam kamar mandi.
Jantung nya berdegup kencang. Air kran mulai membasahi seluruh tubuhnya. Sampai akhirnya ia selsai, dan lupa membawa pakaian ganti.
"Ya tuhan, gimana aku keluarnya." Gumam Alea. Ia tidak mungkin keluar hanya dengan handuk saja. Namun tiba-tiba, sebuah tangan muncul dari balik pintu. Ia memberikan pakaian yang tidak lain, lingerie berwarna putih.
"Pakai ya sayang." Teriak pria itu dari luar.
Ternyata Adila sudah mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Tanpa menunggu lama, Alea langsung memakai pakaian itu. Belahan dada yang terlihat jelas, serta tubuh seksi yang ia miliki, siap untuk memuaskan sang kekasih.
Dengan perlahan, ia keluar dari kamar, dan melihat Adila sudah berada di atas tempat tidur. Kemeja dengan kancing yang sudah terbuka, membuat Alea semakin tergoda.
"Sini sayang." Suara seksi yang keluar dari mulut Adila sembari menengadahkan tanganya.
"Mau berapa ronde?" Tantang gadis cantik yang kini berada di samping Adila.
__ADS_1
"Sepuasnya." Tanpa menunggu lama, Adila menerkam tubuh Alea, dan membawanya naik ke atas tempat tidur.
Sentuhan tanganya, mulai mengerayangi tubuh Alea. Di mulai dari Dada, hingga turun kebagian inti. Gairah yang mengebu-gebu, membuat keduanya tidak sabar lagi.
Bibir mereka mulai bertautan. Tangan Adila yang terus meremas dada Alea, membuat Alea mengerang kenikmatan.
Tubuh mungilnya mengelinjang. Tanganya mulai terpancing, dan memegang bagian inti tubuh Adila.
"Lagi sayang." Bisik Adila. Nafasnya terdengar gusar.
Tanpa menunggu lama, Alea melepaskan seluruh pakaianya. Dan membuat Adila menelan salivanya.
"Sini." Alsa mulai memposisikan tubuhnya, dan membuka lebar-lebar tanganya.
"Siap sayang?" Tanya Adila yang kini sudah membuka seluruh pakaianya.
Alea hanya menganguk pelan dan pasrah. Wajahnya begitu menggoda, membuat Adila tidak tahan lagi. Ia langsung memasukan bagian inti tubuhnya.
Keduanya terbuai dalam nikamatnya cinta yang mereka berikan satu sama lain. Sampai tidak terasa semburan lahar panas, keluar di dalam.
"Kamu?" Wajah Alea nampak kaget. Namun sang kekasih hanya menganguk pelan, dan membaringkan tubuh nya di samping Alea.
"Gimana kalau aku..."
"Aku tanggung jawab." Adila menyela pembicaraan Alea dan membaqa gadis itu ke dalam pelukanya.
................
Pagi itu, Alea bangun terlambat. Ia tersadar saat mendengar dering ponsel yang ada di samping nya. Dengan mata terpejam, Alea meraih ponsel itu, lalu menjawab panggilan telponya.
"Morning beb. Udah bangu sayang?" Suara Adila terdengar jelas di ujung telpon. Mata Alea langsung terbuka lebar-lebar. Ia menatap di sebelahnya, yang ternyata sudah tidak ada siapapun. Matanya kembali menatap jam dinding yang ada di hadapanya, dan ternyata sudah menunjukan pukul 12 siang.
Tadi malam, keduanya bergadang sampai pagi. Karena Adila meneruskan permainanya. Hingga akhirnya Alea kelelahan dan terlambat bangun. Ia bahkan tidak sadar, Adila sudah tidak ada lagi di samping nya.
"Kamu kenapa ngga bangunin aku?"
"Ngga mungkin aku bangunin istriku yang sudah membuat aku mabuk kepayang. Jadi aku biarkan kamu tidur beb."
"Terus kamu dimana sekarang?"
__ADS_1
"Aku di bawah sayang. Lagi cek lokasi buat pernikahan kita besok. Sekalian melihat wedding organiser yang lagi kerja."
"Besok?" Mata Alea hampir saja jatuh dari kelopaknya. Mendengar kata besok.
"Iya beb. Besok. Kamu ngga usah shok gitu dong. Malam ini, kamu relax saja ya di kamar. Bentar lagi ada orang yang bakal manjain kamu."
"Maksud kamu?" Tanya Alea kaget.
"Tukang salon sayang. Jangan dulu kaget gitu ah." Jawab Adila sembari tertawa puas.
Laki-laki ini, benar-benar membuat jantung nya terasa copot. Bagaimana bisa dia memajukan hari pernikahan tanpa ada persetujuan darinya. Benar-benar lelaki egois.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Alea yang masih belum memakai pakaian, ia langsung berlarian ke kamar mandi, dan mencari pakaianya. Setelah itu, ia lalu membuka pintu kamar nya.
Ternyata yang datang dua orang perempuan. Sepertinya orang salon yang Adila maksud.
Keduanya menganguk sopan pada Alea.
"Masuk mba." Ucap Alea dengan ramah.
"Terimakasih bu. Bisa di mulai sekarang bu?" Tanya perempuan itu pada Alea.
"Saya belum mandi. Emang gapapa?" Jawab Alea.
"Gapapa bu. Justru bagus. Setelah luluran dan facial, baru ibu mandi susu, seperti permintaan pak Adila."
"Mandi susu?" Tanya Alea kaget. Seumur hidup, ia tidak pernah tau hal seperti itu.
"Iya bu. Pak Adila ingin ibu mandi susu. Jadi, bisa kita mulai sekarang bu?" Tanya perempuan itu lagi.
Namun Alea masih berdiri mematung, membayangkan mandi susu yang perempuan itu maksud. Apakah dirinya harus berendam di air susu? Ataukah hanya sabun saja.
"Bu?" Tanya perempuan itu lalu melembaikan tanganya di hadapan Alea.
"Sebentar saya telpon Adila dulu." Alea buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi Adila. Tidak perlu menunggu lama, panggilan pun langsung tersambung.
"Maksud kamu mandi susu apa sih?" Tanya Alea setengah berbisik. Ia tidak ingin dua perempuan itu mendengarnya.
"Nanti di jelasin sama mba nya. Yang jelas bukan susu, seperti yang ada di dalam pikiranmu."
__ADS_1