
Adila tidak terima, Alea di tuduh sebagai perebut suami orang. Karena ia yakin, Alea bukan orang seperti itu. Dari beberapa hari ia mengenal Alea, ia sedikit mengenal siapa gadis pujaan hatinya itu.
"Anda siapa? Datang kerumah orang nuduh sembarangan!" Bentak Adila. Tanganya terus mengengam tangan Alea, dan membiarkanya berdiri di belakang tubuhnya.
"Ngga usah kamu belain perempuan kotor itu!! Saya tau, dia tidur dengan suami saya di hotel!" Teriak perempuan itu.
Alea teringat perkataan Nadia, saat ia pertama kali datang menemuinya. Sepertinya perempuan ini salah paham, dan mengira Alea yang berada di hotel bersama suaminya.
Wajah Alea dan Nadia memang hampir mirip, jika di lihat sekilas. Apalagi jika orang itu hanya melihatnya sekilas saja.
Alea melepaskan genggaman tanganya, lalu berlarian ke kamar. Tapi, pintunya sudah terkunci. Sepertinya Nadia sudah tau, jika ada perempuan yang datang ke apartment.
"Buka!" Teriak Alea sembari mengetuk pintu kamar itu dengan kasar. Ia tidak ingin dirinya menjadi tertuduh, atas kejadian yang tidak ia lakukan sama sekali.
"Mana perempuan itu?!" Tanya perempuan yang tadi menuduhnya. Ia kini sudah berdiri samping Alea.
Adila menatap Alea, dan menyuruhnya untuk mundur. Ia takut perempuan itu akan berbuat nekat padanya.
"Buka!!" Teriak perempuan itu sembari mengebrak pintu kamar.
"Sebaiknya anda pulang saja dulu. Nanti saya akan coba bicara sama dia. Jangan sampai, anda rusak apartment istri saya." Dengan tegas Adila menyuruh perempuan itu untuk mundur dan pergi dari apartment.
Tapi, marahnya seorang perempuan memang tidak bisa di kendalikan, apalagi jika sudah menyangkut suami mereka. Sama seperti perempuan itu, yang terus memaksa agar Nadia membuka pintunya, dan tidak peduli dengan perkataan Adila.
"Maaf tante, tolong anda keluar. Atau saya akan panggil security kesini." Ucap Alea dengan suara bergetar. Ia sungguh takut menghadapi perempuan ini.
"Diam kamu! Kamu sama perempuan itu sama saja. Kalian sama-sama perusak rumah tangga orang!" Bentak perempuan itu.
Alea paling tidak terima di tuduh sebagai perusak hubungan orang. Akhirnya satu tamparan keras mendarat di pipi perempuan itu. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Pergi!!" Teriak Alea lalu menarik tangan perempuan itu keluar, sampai akhirnya ia terjatuh. Dengan cepat Alea menutup pintu apartment nya, dan menguncinya.
__ADS_1
Senyuman Adila mengembang, saat melihat Alea bertindak tegas seperti tadi.
"Kamu hebat." Adila lalu memeluk Alea dan mengusap pucuk kepalanya. Meksi teriakan perempuan itu masih terdengar, Alea seolah tidak peduli.
"Panggilin security. Aku mau bicara sama Nadia." Alea lalu melepaskan pelukanya, dan kembali mengetuk pintu kamar, yang akhirnya terbuka.
"Lo gila?!! Ngapain lo datang kesini, malah ngundang masalah hah?" Bentak Alea saat melihat Nadia berdiri di ambang pintu.
Air mata Nadia mengalir begitu saja. Tanpa di duga, ia langsung menghampiri Adila yang berdiri tidak jauh dari Alea, dan memeluk Adila dengan erat.
"Aku ngga salah mas Dila. Tolong aku." Ucapnya lirih.
Alea tidak habis pikir dengan sahabatnya ini. Bagaimana bisa ia memeluk Adila di hadapanya. Padahal ia sudah membantunya, dan membiarkanya untuk tinggal di apartment ini.
"Lepas!" Bentak Adila lalu mendorong tubuh Nadia.
"Mas, tolong aku. Aku cuma punya kalian sekarang ini." Ucapnya sembari terisak tangis.
"Sekarang kamu pergi, selsaikan masalah kamu, dan jangan pernah bawa-bawa Alea dalam masalah ini." Jawab Adila. Kali ini ia bersikap lebih tegas daripada tadi pagi.
Nadia mungkin memang sahabatnya, tapi caranya memperlakukan Adila di depanya, membuat ia sangat muak.
Mereka memang tidak pernah musuhan, ataupun terlibat masalah gara-gara laki-laki. Karena Nadia selalu suka dengan pria kaya, meski suami orang. Berbeda dengan Alea, ia lebih mementingkan wajahnya yang rupawan, di banding materi.
Tapi dari Adila, ia mendapatkan semuanya. Tampang dan materi yang seimbang. Dan sepertinya, Nadia juga berharap seperti itu, saat melihat Alea di berikan kemewahan seperti sekarang ini.
"Tolong lo balik ya. Jangan buat gue malu di sini." Ucap Alea. Ia mengenggam tangan Nadia, dan membawanya ke luar dari apartment.
"Le, lo tega banget ya. Lo mau biarin gue pulang?" Tanya Nadia saat Alea menariknya dan membawamya untuk turun dari apartment itu.
"Lo udah keterlaluan Nad. Gue udah bilang sama lo, jangan pernah mau berhubungan sama suami orang. Tapi lo ngga pernah mau dengerin gue. Dan barusan, lo dengan enteng nya, lo meluk Adila di depan gue. Dimana hati lo hah?" Jawab Alea dengan suara lantang.
__ADS_1
Nadia menatap Alea dengan wajah bingung. Ia lalu menepis tangan Alea, dan mendorong tubuh Alea.
"Lo suka sama cowo itu? Lo lupa, siapa yang kenalin dia sama lo? Lo mau jadi cewe serakah?"
"Maksud lo?" Alea mengernyitkan dahinya bingung, mendengar perkataan Nadia.
"Asal lo tau ya, lo sama gue itu sama. Sama-sama *****! Jadi, jangan sampai lo mau serakah dan makan sendiri. Gue bakalan rebut Adila dari tangan lo!" Nadia langsung pergi begitu saja, saat lift terbuka. Ia berlarian keluar apartment.
Alea tidak habis pikir, ternyata orang yang ia pikir sahabat sejati, yang tidak akan pernah mau menyakitinya, ternyata tega mengatakan hal itu padanya. Padahal ia sudah menganggap Nadia seperti saudaranya sendiri.
"Mba ada apa?" Tanya security yang tengah berjaga di depan apartment.
"Tolong jangan biarkan siapapun naik ke unit saya, kecuali saya dan pak Adila. Selain itu, tolong larang." jawab Alea. Ntah keberanian darimana yang datang saat ini.
"Baik bu. Saya minta maaf." Security itu dengan sopan menganguk pelan. Sepertinya ia tau siapa Adila.
Dengan cepat Alea kembali ke unitnya, setelah ia memastikan jika Nadia sudah pergi dari apartment.
"Kamu hebat sayang." Sapa Adila lalu memeluk Alea dengan erat.
Perempuan yang selama ini lembut, kini berubah menjadi wanita yang Adila inginkan. Bahkan tidak butuh waktu lama, ia langsung berubah dalam waktu sekejap.
"Nadia mau rebut kamu dari aku." Ucap Alea lirih.
Meski belum ada ikatan apapun, tapi Alea ketakutan saat mendengar ancaman Nadia.
Adila tertawa puas, lalu mencium bibir Alea dengan lembut. Alea yang tau jika ada bu Marni di apart itu, ia langsung mendorong tubuh Adila.
"Ada bu Marni." Bisik Alea lalu masuk ke dalam kamar.
Adila pun ikut masuk ke dalam kamar, dengan wajah sumringah. Ia mengunci pintunya, dan langsung memeluk Alea dari belakang.
__ADS_1
"Mau main lagi? Mau puasin aku lagi?" Goda Adila. Ia mencium leher jenjang Alea dengan lembut.
"Kamu mau?"