CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 18 | Surprise tapi gagal


__ADS_3

Lagi-lagi Adila datang untuk menyelamatkan Alea. Sudah yang kedua kalinya, Adila datang tiba-tiba. Padahal Alea sama sekali tidak memberitahu dimana keberadaanya sekarang.


Rasa pusing di kepalanya mendadak hilang, saat melihat Rio tersungkur. Saat Adila hendak memberikan bogem mentah untuk yang kedua kalinya, Alea dengan cepat menarik tubuh Adila agar menjauh. Ia tidak ingin membuat keributan di tempat seperti ini.


"Bajingan! Lo siapa hah!!" Teriak Adila sembari menunjuk Rio yang sudah tersungkur.


Ujung bibirnya terluka dan berdarah. Dengan lemas Rio kembali berdiri. Untung saja Rio tidak membalas pukulan Adila.


"Lo cowok dia?" Dengan tertatih Rio menghampiri Alea dan juga Adila. Sebelah tanganya terus mengusap ujung dada nya yang berdarah.


"Pergi kamu!" Bentak Alysa pada Rio.


"Lo jagain dia! Dia wanita baik-baik yang pernah gue kenal! Dan sekarang, dia jadi seperti ini!" Ucap Rio lalu menunjuk Adila.


"Ngga usah ikut campur! Lo pergi, atau gue tambahin bonyok di muka lo!" Jawab Adila.


Tubuh Adila yang sangat besar, membuat Alea kewalahan menahanya. Tapi untung nya Adila tidak melakukan hal aneh lagi.


"Sekali lagi gue ingetin, jaga dia baik-baik, atau gue yang bakalan rebut dia lagi!" Setelah mengatakan hal itu, Rio lalu pergi meninggalkan Adila dan Alea di plataran parkir.


Alea tidak pernah menyangka, semua ini akan terjadi, di saat ia membutuhkan ketenangan.


"Kamu ikut aku!" Dengan kasar, Adila menarik tangan Alea dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Wajahnya terlihat sangat marah dan kesal. Ia lalu menatap dan mengenggam tanganya. Ia tau, ini semua terjadi karenanya.


"Maafin aku ya." Suara Adila terdengar sangat lembut. Tatapanya penuh cinta.


Penyesalan memang akan datang di akhir cerita. Jika di awal, itu akan menjadi pendaftaran. Seperti yang Alea rasakan sekarang. Ia menyesal karena sudah memberikan semuanya pada Adila.


Namun semua itu tidak akan bisa kembali seperti dulu. Keperawanan yang sudah ia berikan pada Adila, hanya bisa menjadi kenangan terburuk untuknya.


"Kamu tau darimana aku disini?" Tanya Alea tanpa menatap Adila. Disisi lain, ia muak dengan Adila saat ini. Tapi disisi lain, ia beruntung, karena Adila kembali membantunya dan menyelamatkanya.


"Kevin. Dia telpon aku dan marah sama aku. Aku bener-bener nyesel, udah buat kamu jadi kaya gini. Aku tau, aku salah. Aku tau, aku ngga jujur sama kamu. Aku tau, aku .."

__ADS_1


"Bajingan! Lo bajingan! Lo udah buat hidup gue hancur! Lo udah buat semua mimpi gue hilang! Karena lo, gue jadi wanita paling hancur! Gue beneran nyesel!!" Teriak Alea sembari terisak tangis. Dengan sengaja ia memukulkan tanganya di dashboard mobil.


Adila lalu menarik Alea ke dalam pelukanya. Meski Alea terus memukuli dadanya, tapi Adila terus memeluk dan mengusap pucuk kepala Alea. Malam yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Maafin aku. Aku tau, aku salah." Ucap Adila sembari mengusap pucuk kepala Alea.


......................


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali, Adila sudah menyiapkan sarapan untuk Alea. Ia membawa Alea ke apartment miliknya. Karena ia tidak ingin terganggu oleh siapapun.


Ia berhasil membujuk Alea untuk ikut ke apartment nya. Dengan jaminan, ia akan menceritakan semua yang terjadi pada Alea.


"Sayang bangun." Bisikan Adila membuat Alea tersentak kaget, lalu membuka matanya.


"Kamu ngapain?" Alea lalu menjauh dari Adila dan menatapnya tajam.


"Ayo makan dulu. Aku udah siapin sarapan."


"Lupa? Kita semalam abis ngapain?" Ejek Adila sembari mengedipkan sebelah matanya.


Alea kembali mengingat apa yang sudah terjadi tadi malam. Yang ternyata ia kembali melakukan permainan panas dengan Adila.


"Udah mandi dulu ya. Kalau udah ke meja makan ya. Aku tunggu disana." Adila lalu mencium kening Alea dan kembali keluar.


Disaat marah seperti tadi malam saja, Alea masih memberikan tubuhnya pada Adila. Padahal ia sudah berjanji tidak akan pernah memberikan tubuhnya lagi.


"Lea! Kenapa lo bodoh sih!" Gumam Alea lalu memukulkan tanganya ke kasur. Ia lalu berlarian ke kamar mandi, dan membersihkan tubuhnya.


Setelah selsai, Alea lalu menghampiri Adila yang sudah menunggunya di meja makan. Senyuman manis yang di berikan Adila, membuat Alea salah tingkah.


"Duduk sayang." Ucap Adila. "Aku udah siapin makanan favorit kamu." Tukasnya lalu memberikana tumis jamur kesuakaanya.


Alea memicingkan matanya, ia kaget. Bagaimana ia tau, jika jamur adalah makanan favoritnya. Padahal ia tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya.

__ADS_1


"Aku udah telpon ibu mertua tadi. Terus di kasih tau, kalau kamu paling suka ini." Jelas Adila.


"Maksudnya?" Tanya Alea dengan wajah bingung.


Adila lalu memberikan sepiring nasi beserta jamur yang sudah ia tumis, dan memberikanya pada Alea.


Dari bentukan jamurnya, tidak terlihat enak sama sekali. Alea tidak yakin, kalau makanan favoritnya akan terasa enak, seperti yang sering ibunya buatkan.


"Cobain dulu aja. Kalau ngga enak, kamu boleh buang." Dengan senyuman Adila kembali duduk di hadapan Alea. Ia menopang dagunya dengan sebelah tanganya. Tatapan pria ini memang selalu membuat jantung nya terasa lebih berdetak kencang.


Karena rasa lapar, Alea lalu mencicipi masakan yang Adila buat. Dan ternyata, rasanya di luar dugaan. Bentuk dan rasa, sama-sama berbeda. Bentukan sangat tidak meyakinakan, tapi pas masuk di mulut, rasanya sangat enak.


"Ini kamu yang buat?" Tanya Alea.


"Iya dong sayang. Tadi aku telpon calon ibu mertua. Di ajarin sih. Makanya bentukanya agak lain ya." Jawab pria tampan itu.


Alea hanya menganguk pelan, lalu mulai melahap makananya dengan penuh semangat. Sampai ia lupa menawari Adila, dan makan sendiri.


"Kenyang sayang?" Tanya Adila lagi.


Alea hanya menganguk pelan. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya, dan bergegas ke dapur untuk menyimpan piring kotor bekas ia makan.


Namun ia begitu terkejut saat melihat dapur yang berubah menjadi kapal pecah. Sangat kotor dan berantakan. Seperti baru terjadi perang.


"Ya tuhan!!" Teriak Alea lalu menatap Adila yang masih duduk di meja makan.


Pria itu hanya menganguk pelan, dan mengedipkan matanya.


"Demi cinta sayang. Gapapa nanti aku beresin." Jawab Adila.


Alea yang sudah biasa, melihat dapur bersih dan rapih, ia merasa risih. Tanpa menunggu lama, Alea lalu membereskan piring kotor dan mencucinya.


"Loh, ngga usah sayang. Nanti aja." Ucap Adila lalu memeluk Alea dari belakang.


"Ngga usah buat surprise! Kalau jadi nyusahin orang!!"

__ADS_1


__ADS_2