
Dari awal Alea memang sudah yakin, kalau perempuan yang menyiramnya tempo hari lalu, pasti ada hubunganya dengan Adila. Dan ternyata Alea benar. Perempuan itu, bagian dari masa lalu Adila yang belum selasai, aliaa tunangan yang masih belum putus secara resmi.
Pertunangan memang tidak harus putus resmi seperti bercerai. Tapi, Adila belum memberitahu keluarganya, jika hubunganya dengan sang tunangan sudah berkahir.
Hal yang di tutupi Adila, akhirnya harus ia ceritakan disaat yang tidak tepat. Sampai kapanpun, sepintar-pintar nya kita menyembunyikan bangkai, sudah pasti akan tercium juga.
"Jadi kamu dengan berani ngajakin aku kerumah kamu, padahal status kamu sama tunangan kamu, masih ngambang?" Tanya Alea dengan suara tinggi.
Adila hanya bisa menganguk pelan, dan mengengam tangan Alea. Ntah mengapa, disaat bersama Alea, atau di saat Alea marah seperti ini, ia selalu ketakutan. Takut akan Alea pergi meninggalkanya begitu saja.
"Kenapa ngga bilang sih? Kamu harus nya bilang. Tolong jangan permainin perempuan Dila!" Ucap Alea dengan penekanan di ujung kalimatnya.
Sakit hati, kesal, dan juga kecewa. Semua bercampur menjadi satu. Walau dari awal ia sudah tidak yakin jika pria setampan dan sekaya Adila masih lajang, tapi tetap saja ia merasa kecewa.
"Please maafin aku. Aku beneran butuh waktu buat jelasin ini sama kamu. Karena kamu liat sendiri, kemarin waktu ketemu aja, dia masih berani nyiram kamu pake air. Aku ngga tau besok apalagi yang dia buat." Jelas Adila. Wajahnya terlihat sangat lelah.
"Sekarang jelasin, tadi yang nelpon kamu siapa?" Tanya Alea. Akhirnya ia memberanikan dirinya untuk bertanya hal itu pada Adila.
Wajah Adila, terlihat sangat kebingungan. Seolah ia tidak ingin menjawab pertanyaan Alea.
"Ya udah kalau ngga mau jawab. Aku kasih kamu waktu buat merenung. Malam ini, aku mau pulang kerumah ibu." Alea lalu beranjak dari tempat duduknya dan menghela nafas berat.
Kali ini, Adila tidak menahan Alea lagi. Ia hanya bisa menatap Alea dengan wajah penuh penyesalan dan bingung.
Tanpa menunggu lama, Alea bergegas pergi dengan luka di hatinya. Baru 3 hari ia merasakan kenyamanan, dan kebahagiaan, tapi sekarang kembali merasakan sakit.
Dengan langkah gontai, Alea keluar dari apartment. Ia langsung menaiki taksi yang ada di lobi hotel. Tujuanya ntah kemana. Ia tidak mungkin pulanh kerumah ibunya di jam seperti ini. Ia juga tidak mungkin pulang ke kosan Nadia, karena keduanya sedang tidak baik-baik saja.
"Kemana mba?" Tanya Pak Supir sembari menatap Alea dari kaca spion yang ada di hadapanya.
"Turun di komplek depan aja pak." Jawab Alea. Ntah akan pergi kemana dia saat ini. Tapi yang jelas, ia butuh sendiri dan ketenangan.
Sesuai permintaan Alea, taksi pun berhenti di depan komplek. Alea lalu turun setelah memberikan ongkos pada pak supir.
__ADS_1
Ia melihat arlojinya, yang masih menunjukan pukul 2 malam. Beruntung jalan komplek ini, masih ramai dengan mobil dan para pedagang kaki lima.
Dari kejauhan, Alea melihat sebuah bar kecil. Ia baru tau, jika di komplek ini, ada tempat seperti itu. Dengan langkah tergesa-gesa, Alea langsung menuju tempat itu.
Tempatnya hampir sama dengan club malam. Tapi suasanya lebih santai daripada club malam. Pengunjung yang terlihat tenang, tidak seperti di club malam.
"Mau pesan apa mba?" Tanya pelayan pada Alea.
"Satu botol bir." Jawab Alea lalu duduk di sofa paling ujung.
Sepertinya, bir lebih ringan daripada alkohol. Untung saja, kemarin Adila memberinya uang. Jadi ia bisa tenang memesan minuman yang dia inginkan.
Matanya terus menatap ke arah jendela. Penyesalan dan kecewa, kini tengah ia rasakan. Air mata kembali menetes di pipinya.
"Ini minum nya mba." Ucap pelayan itu pada Alea. Ia meletakan satu botol bir di atas meja, lalu pergi begitu saja.
Tanpa berpikir panjang, Alea langsung meneguk bir itu. Walau rasanya juga pahit, tapi tidak sepahit alkohol yang ia minum kemarin.
Tiba-tiba, ada seorang pria tampan menghampirinya. Pria yang pernah bertemu denganya di parkiran club malam beberapa hari lalu.
Dia Kevin. Bos club malam tenpat ia bekerja kemarin. Ntah darimana datang nya pria satu ini.
"Bukan pak." Jawab Alea dingin.
"Oh gitu. Kamu sendirian?" Tanya Pria itu lagi.
"Iya."
"Adila ngga ikut?"
"Ngga."
"Oh ya sudah kalau begitu. Selamat menikmati ya. Semoga kamu suka bar ini." Sembari menganguk pelan, pria itu lalu bergegas pergi meninggalkan Alea.
__ADS_1
Bukan maksud tidak sopan, tapi ia benar-benar tengah ingin sendiri.
Matanya mulai terasa kabur. Kepalanya juga terasa pusing. Tapi Alea masih memesan satu botol bir lagi pada pelayan.
"Bajingan!" Gumam nya lalu memukul tanganya ke meja. Ia benar-benar sakit hati dan stress.
"Lea?" Suara laki-laki dari arah belakang, membuat Alea tersentak kaget.
Pemglihatanya sudah kabur. Sekilas ia melihat Rio sang mantan kekasih yang kini berdiri di hadapanya.
"Lo siapa?" Tanya Alea sembari memijat pelipisnya.
"Kamu mabuk? Sejak kapan?" Pria itu lalu duduk di hadapan Alea. Ia kaget saat melihat ada botol bir di meja. Serta bau nafas Alea yang sangat tidak enak.
Alea mencoba membuka matanya, dan melihat dengan baik, siapa pria yang ada di hadapanya.
"Rio?" Ucap Alea menunjuk pria yang ada di hadapanya.
Rio memang seoranh disk jockey. Tapi setau Alea, Rio tidak bekerja di tempat ini.
"Iya ini aku. Kamu ngapain disini? Kamu minum? Sejak kapan? Ko jadi gini sih?" Rio menghujani pertanyaan pada Alea. Karena ia tidak menyangka perempuan yang ia cintai, duduk di tempat seperti ini.
"Lo ngapain disini? Lo mau pamerin cewe baru lo? Yang bisa lo ajak tidur? Bukan kaya gue yang cupu, miskin, dan ngga cantik sama sekali?" Sembari tersenyum sinis pada Rio, akhirnya ia bisa mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam.
Tanpa di duga, Rio langsung menarik tangan Alea, dan membawanya ke luar dari bar.
"Lepasin!" Teriak Alea, sembari menepis tangan Rio. Niatnya ingin tenang dan santai, ternyata ia malah di pertemukan dengan sang mantan, yang sudah membuatnya sakit hati.
"Balik Lea! Lo ngga boleh gini. Lea yang gue kenal, perempuan baik-baik, bukan kaya gini!" Bentak Rio sembari terus menarik tangan Alea ke parkiran.
Tanpa di duga, terdengar suara klakson mobil yang hampir saja menabrak Alea dan Rio.
"Woi!! Baik-baik kalau nyetir!!" Teriak Rio.
__ADS_1
Tanpa di duga, seoang pria tampan yang tak lain Adila, turun dari mobil itu. Ia lalu menghampiri Rio dan memberikan bogem mentah pada Rio.
"Bajin*an!!"