CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 61 | Adila marahnya lucu


__ADS_3

Sebagai seorang suami, Adila hanya tidak ingin istrinya kembali bergaul dengan Nadia. Walaupun ia tahu, Nadia dan Alea sudah berteman sejak lama, sebelum Adila dan Alea saling mengenal satu sama lain, dan menikah seperti sekarang ini. Adila ingin menjaga nama baik Alea, dimata keluarga dan juga karyawanya.


Sejak sampai di rumah, Adila seolah menghindar dari Alea. Ia bahkan langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tanpa menganti pakaianya.


Bukan hanya saat ini, di perjalanan pun, Adila terus terdiam. Seperti tidak ingin terlibat pembicaraan dengan Alea.


"Kamu kenapa?" tanya Alea dengan suara lembut. Ia duduk di tepian tempat tidur, sambil memandangi suaminya yang kini memejamkan matanya.


Hening, tidak ada jawaban apapun dari Adila. Ia terus berpura-pura tertidur, meski Alea tahu, ia hanya pura-pura.


"Kamu marah sama aku?" Tanya Alea lagi.


Bukanya menjawab, Adila malah membalikan tubuhnya, memunggungi Alea.


Tidak ingin menyerah begitu saja, Alea pun ikut berbaring di belakang Adila, dan memeluknya dengan erat.


"Aku tahu, kamu pasti marah sama aku. Tapi please, jangan gini. Kita bisa bicarain baik-baik kan?"


"Tidur! Ini udah malam!" Bentak Adila.


Meski jawaban Adila, bukan yang Alea inginkan, setidaknya ia tahu, suaminya memang marah padanya.


"Aku minta maaf, udah buat kamu marah. Tapi, apa yang di katakan Nadia tadi, benar sayang. Kalau bukan karena ajakan Nadia, aku sama kamu ngga akan mungkin ketemu, bahkan sampai menikah." Jelas Alea.


"Semua itu takdir! Bukan karena Nadia. Dia hanya perantara! Jadi jangan membuat dia menjadi di atas angin."


"Sini dong, masa ngobrol sama aku, tapi akunya di punggungin." Alea mencoba menarik tangan suaminya, agar ia berhadapan denganya.


Semarah-marah nya Adila, dia tetap tidak pernah ingin membantah istrinya, dan membuatnya kesal. Meski harus menutup mata, saat berhadapan dengan Alea.


"Ko malah tutup mata?" Tanya Alea lalu menghujani ciuman di wajah suaminya.


"Ih! Jangan dicium!"


Bukanya marah, Alea malah tertawa melihat tingkah suaminya yang lucu seperti sekarang ini. Seorang Adila wijaya, yang biasanya terlihat cool saat bersama orang lain, kali ini bersikap manja pada istrinya.

__ADS_1


"Beb, jangan marah terus dong. Masa cuma gara-gara ini, kamu ngambek, katanya sayang istri?" goda Alea.


"Sayang sih sayang, tapi kalau istrinya ngga nurut sama suami untuk apa?"


"Bukan ngga nurur sayang. Aku cuma belajar memaafkan. Aku tahu, kamu takut, kalau aku sama Nadia bisa berteman lagi kan? Takut aku masuk ke dalam dunia malam lagi kan?" Tanya Alea sembari mengelus pipi suaminya.


"Pengaruh temen itu, bisa membuat orang jadi lupa diri. Apalagi temen modelan si Nadia itu. Aku tahu, dia cuma mau manfaatin kamu." jelas Adila.


"Terus apa bedanya sama Mika? Temen kamu yang ngajakin pijat sama cewek, kaya dulu?" Akhirnya Alea mengeluarkan jurus andalanya. Hanya Mika, perbandingan yang pas untuk Nadia. karena mereka sama-sama mempunyai sifat nakal, di luar batas, yang selalu mengajak orang di sekelilingnya.


"Ko jadi bahas yang dulu? Itu kan udah lama berlalu, ngapain mesti di bahas lagi?" Tanya Adila tidak terima, di bandingkan dengan Mika.


"Yakin cuma dulu? Bukanya satu hari yang lalu, dia ngajakin kamu lagi?" Ucap Alea lalu tersenyum manis.


Dua hari yang lalu, Alea sempat tidak sengaja, membaca pesan masuk di handphone Adila. Selama menikah, Alea tidak pernah memgecek ponsel suaminya. Karena ia tidak ingin melihat hal aneh, yang akan membuatnya negatif thinking pada Adila.


Tapi malam itu, Alea tidak sengaja membacanya. Saat ia mencari ponsel miliknya, dan ia tidak sengaja malah membawa ponsel milik Adila.


Ponsel yang sama dengan warna dan casing serupa, membuat Alea selalu salah mengambil handphone. Dan saat itu, ia membaca pesan dari Mika, yang mengajak Adila untuk pergi ke tempat refleksi, yang jelas-jelas bukan tempat pijat biasa.


"Kamu ko tau? Kamu baca pesan dari Mika?" Tanya Adila panik.


"Ngga sengaja. Makanya besok, aku mau ganti handphone. Biar ngga ketuker terus sama punya kamu." Jawab Alea lalu beranjak dari tempat tidurnya.


"Itu cuma ajakan biasa aja sayang. Lagian ngga aku gubris ko." Akhirnya Adila kembali mencair. Padahal tadi, jawabanya selalu ketus dan sinis.


Sembari tersenyum, Alea hanya mengacungkan jempolnya dan masuk ke dalam kamar mandi, untuk menganti pakaian, dan mencuci muka.


......................


Keesokan harinya.


Pagi itu, Alea sudah bersiap untuk pergi ke hotel. Setelah beberapa hari ini, ia absen dan hanya memantau keadaan hotelnya daro laporan Nia, juga cctv.


Sapaan hangat karyawan seperti biasa, menyambut kedatangan Alea. Perempuan itu selalu memberikan aura yang positif untuk seluruh karyawanya.

__ADS_1


"Bu, ada tamu." Bisik Nia saat mereka di dalam lift.


"Siapa? Jangan bilang Kintan sama Alvi datang lagi." Jawab Alea. Sungguh ia tidak ingin menghadapi masalah apapun pagi ini. Rasanya lelah, terus menghadapi masalah, yang tiada hentinya, menghampiri.


"Bukan bu. Katanya temen ibu. Dia tadi malam nginap disini bu, dan dia juga belum bayar. Bahkan sempat ribut dengan recepsionist hotel." Jelas Nia.


"Cewek? Ngapain kamu suruh keruangan saya? Saya kan ngga tau, dia beneran temen atau bukan." Ucap Alea. Belajar dari pengalaman kemarin, saat Kintan dan Alvi datang, ia tidak ingin menerima tamu, dan membawanya masuk ke dalam ruangan sembarangan.


"Iya bu, cewek. Ngga di ruangan ibu ko. Saya suruh tunggu di ruang tamu." Jawab Nia.


"Oh ya udah. Kita ngga ada meeting kan pagi ini?"


"Ngga ada bu. Jadwal ibu, setelah makan siang nanti."


"Oke, kita kesana dulu." Alea dan Nia pun turun di lantai 18, dimana ruang tamu berada. Ruangan itu khusus untuk menerima tamu, yang akan menemui Alea.


Setelah sampai, Alea kaget, melihat Nadia, dengan wajah penuh lebam, dan pakaian robek.


"Nadia?" Alea lalu menghampiri sahabatnya itu, dan memeluknya dengan erat.


Tangisan Nadia pun pecah, saat Alea memeluknya lagi.


"Siapa yang mukulin lo?" Tanya Alea. Ujung bibirnya sobek. Bahkan tanganya penuh luka, seperti bekas cambukan ikat pinggang.


Melihat pakaian Nadia, yang tidak layak di pakai di ruangan seperti ini, Alea meminta Nia untuk mencarikan pakaian yang layak pakai.


"Beli dulu di depan." Ucap Alea pada Nia.


"Baik bu." Jawab Nia lalu keluar dari ruangan itu.


kini, hanya ada Alea dan juga Nadia di ruangan itu. Nadia mulai menceritakan apa yang terjadi padanya.


"Gue dapat tamu yang saiko. Dia mukulin gue, sebelum gue ngelayanin dia Al." Ucap Nadia lirih.


"Ya tuhan. Gue udah bilang, berhenti dari dunia seperti ini!"

__ADS_1


__ADS_2