CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 41 | CEO Alea


__ADS_3

Perempuan bernama Mila itu, kaget saat mendengar ternyata Alea direktur hotel itu. Ia terlihat salah tingakh, dan menunduk malu. Jika sudah begini, sudah pasti ia tidak akan di terima melamar kerja di hotel itu. Karena yang ia hina, adalah seorang direktur.


Alea tau, pasti suaminya yang sudah membuat iklan lowongan pekerjaan itu. Ntah bagaiamana, cara suaminya mengetahui segala sesuatu yang terjadi di kehidupan keluarga ayahnya.


"Kamu datang kesini untuk melamar kan?" Tanya Alea.


Perempuan itu hanya menganguk pelan, tanpa berani menatap Alea.


"Mari kita bicara di ruangan saya." Ajak Alea. "Masih ada waktu kan Nia?" Tukasnya, sambil menatap Nia.


"Masih bu." Jawab Nia.


Alea lalu berjalan lebih dulu keruanganya. Sementara Mila dan Nia mengikutinya dari belakang.


Setelah mempersilahkan Mila masuk keruangan Alea, Nia segera pergi, untuk menyiapkan ruangan meeting.


"Silahkan duduk." Ucap Alea.


Gadis yang terlihat sombong dan angkuh itu, mendadak pendiam. Tidak ada perkataan apapun lagi yang keluar dari mulutnya.


Sebenarnya, tujuan Alea hanya ingin melihat siapa ayah kandung dari anak ini. Jika memang benar, seperti dugaan ibunya, Alea tidak akan pernah memaafkan ayahnya.


"Mau melamar di posisi apa?" Tanya Alea.


"A...a...a...pa saja." Jawabnya gugup.


"Boleh saya lihat CV nya?"


Gadis itu lalu memperlihatkan CV nya pada Alea. Gadis itu baru lulus Sekolah menenangah Atas. Dan usianya dengan Alea, hanya terpaut dua tahun.


"Sepertinya ayah kita sama." Ucap Alea lalu memberikan CV itu kembali pada Mila.


Hatinya terasa sakit. Ternyata selama ini, ayahnya sudah menghianati ibu Alea. Bagaiamana tidak, usia mereka hanya terpaut 3 tahun.


"Jadi, apakah ada lowongan untuk saya?" Tanya Mila lagi.


"Ada, kebetulan cleaning service disini sedang kekurangan. Apakah kamu bersedia di tempatkan di posisi itu?" Jawab Alea sembari menyungingkan senyumnya.


Gadis itu perperanjat, dan menatap Alea tidak percaya. Dengan penampilanya saat ini, tentu Mila menginginkan posisi yang lebih baik.


"Gimana? Kalau mau kamu bisa bekerja hari ini juga." Tanya Alea lagi.

__ADS_1


"Yang benar saja, saya ini melamar untuk posisi recepsionist, bukan untuk jadi pembantu!" Gadis itu lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Kalau tidak mau, juga tidak apa-apa. Tapi saya bisa menjamin, tifak akan ada yang menerima lamaran kerjamu!"


Tanpa menjawab perkataan Alea, Gadis itu pergi begitu saja. Setidak nya, Alea sudah puas melihat wajah adik tiri nya itu. Meski hatinya masih tetap terasa sakit, karena mengetahui kenyataan pahit itu.


"Bu, meeting sudah siap." Ucap Nia.


Alea hanya menganguk pelan, lalu mengikuti Nia untuk pergi ke ruang meeting.


......................


Setelah selaai meeting, Alea kembali ke dalam ruanganya. Dan ia kaget, saat membuka ruanganya, sudah ada Adila yang tengah menunggunya.


"I miss you." Ucap Adila Sembari menengadahkan tanganya pada Alea.


Keduanya saling berpelukan, melepas rasa rindu, yang baru 4 jam saja terpisah. Sepertinya, Adila datang dengan membawa kabar baik, karena raut wajahnya, nampak ceria, tidak seperti biasanya.


"Kayanya happy banget?" Tanya Alea sembari tersenyum.


"Happy sayang, pembukaan mall baru kita tinggal dua hari lagi. Tadi aku abis ninjau lokasinya, dan semua persiapan sudah hampir 100 persen." jawab Adila.


"Mall?" Tanya Alea bingung. Ia sama sekali tidak tau, jika suamianya membuat mall baru.


Sungguh luar biasa. Tidak pernah terpikir sebelumnya, jika Alea akan mempunyai sebuah mall. Bagi Adila, membuat hal seperti itu bukanlah masalah besar.


"Kamu buat mall, kaya buat mainan ya. Gampang banget." jelas Alea lalu melepaskan pelukanya dari suaminya.


Dengan penuh semangat, Adila mengajak Alea, untuk melihat mall yang baru saja akan di buka lusa nanti.


"Besok juga akan ada banyak pelamar, yang datang kesana. Aku harap, kamu akan datang kesana ya." Ucap Adila.


Alea hanya menganguk pelan, sembari tersenyum. Mimpi apa, dia bisa mendapatkan pria setampan dan sekaya Adila. Padahal ia hanya berasal dari keluarga sederhana. Berbanding terbalik dengan Adila.


"Oh iya, aku tadi udah telpon pskiater untuk ibu. Aku tidak ingin, ibu larut dalam kesedihanya." Ucap Adila.


Lagi-lagi, Alea di buat kaget oleh suaminya, yang tiba-tiba mengirimkan seorang psikiater untuk ibunya. Alea memang sudah lama ingin membawa ibunya berobat. Tapi ia belum mampu untuk membayarnya saat itu.


"Maaf ya beb, aku ngga bilang sama kamu dulu. Soalnya, aku ngga mau kamu tersinggung. Dengan kejadian kemarin, aku tau itu berat buat ibu. Dan aku ingin, ibu kembali sehat, dengan pikiran yang bahagia." Jelas Adila.


Sebuah kecupan manis, mendarat di bibir suaminya. Sebagai bentuk rasa terimakasihnya pada Adila.

__ADS_1


"Ih nakal." Ejek Adila sembari mencubit gemas pipi Alea.


"Apa lagi yang belum kamu ceritakan?" tanya Alea. Karena ia tau, masih ada yang suaminya belum ceritakan, tentang lowongan pekerjaan.


Adila hanya tertawa puas, lalu memeluk istrinya.


"Balaskan rasa sakit hatimu sekarang." Bisik Adila.


Ia menyeringai, bak seorang penjahat, yang sudah menaklukan lawanya.


......................


Keesokan harinya.


Pagi itu, Alea dan Adila pergi mengunjungi mall yang baru, milik Adila. Keduanya nampak bersemangat. Pagi ini, mereka di antar oleh seorang supir dan dua pengawal.


"Pagi pak." Sapa seorang laki-laki berpakain rapih.


"Sudah datang?" Tanya Adila.


"Sudah pak." Jawab pria itu.


Alea hanya terdiam, karena tidak mengerti dengan pembicaraan dua orang pria itu.


Keduanya lalu pergi keruangan HRD, Dimana saat ini, tengah di adakan interview untuk para calon pelamar.


"Pagi pak." Sapa seroang perempuan.


"Pagi. Gimana, sudah kamu kerjakan apa yang saya suruh?" tanya Adila.


"Sudah pak, beliau ada di dalam." Jawab Perempuan itu.


Adila llau masuk ke dalam sebuah ruangan, dan ternyata disana ada seorang pria, yang tidak lain adalah pengacara Adila. Ia berniat untuk mengesahkan mall ini, menjadi milik Alea sepenuhnya.


"Sudah siap semua? Saya dan istri tinggal menandatangani saja kan?" tanya Adila pada pria itu.


"Benar pak." Pria itu langsung memberikan map, yang berisi surat-surat penting, dan langsung di tanda tangani oleh Adila.


"Ini apa?" Tanya Alea bingung.


"Kamu tanda tangan disini, dan mall ini, akan resmi menjadi milik kamu. Mall ini tidak berdiri di bawah Wijaya Corp. Jadi, ini sepenuhnya milik kamu sayang. Hak kamu, untuk menbuat mall ini menjadi apa saja." Jawab Adila.

__ADS_1


Alea masih belum mengerti dengan apa yang Adila bicarakan. Karena ia baru terjun ke dunia bisnis seperti ini.


"Ayo tanda tangan CEO Alea, sekarang kamu resmi jadi pemiliknya."


__ADS_2