
Anak mana, yang tidak hancur melihat ayah kandung nya di perlakukan tidak wajar. Karena sejatinya, suami, ayah adalah kepala keluarga, yang harus di hormati, dan di junjung tinggi. Bukan untuk di jadikan seperti asisten rumah tangga dirumah nya sendiri, sementara istri yang seharusnya mengurusi rumah tangga, malah enak-enakan seperti yang di lakukan oleh ibu tiri Alea.
Sang nenek, ternyata tidak tau jika anaknya di perlakukan tidak baik oleh menantu kesayanganya selama ini. Ntah apa yang terjadi di masa lalu, sampai neneknya, begitu membenci ibu Alea.
Air mata mengalir di pipi neneknya. Wajahnya terlihat sangat kecewa. Bukan hanya video ayahnya tengah mengurusi rumah saja, tapi ada juga rekaman suara ibu pemilik warung tadi.
"Setidaknya, nenek sebagai ibu harusnya bisa mendidik menantu nenek." Alea lalu beranjak dari tempat duduknya, setelah sang nenek mengembalikan ponsel miliknya.
Setelah niatnya tersampaikan, Alea pun segera pergi. Semua keputusan ada di tangan Neneknya. Jika ia tidak ingin anaknya di perlakukan terus seperti ini, maka ia harus segera bertindak.
"Sudah bu?" tanya Nia yang sejak tadi menunggu di dalam mobil.
"Sudah, kita kembali ke hotel." Jawab Alea. Ia kembali memasang kaca mata hitamnya, agar tidak terlihat matanya yang sembab.
Sepanjang perjalanan, Alea terus teringat ayahnya yang tengah mengerjakan pekerjaan rumah seperti tadi. Miris, sakit hati melihatnya, walaupun luka yang di berikan ayahnya begitu mendalam, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih sangat menyayangi ayahnya.
Masih ada satu misi lagi, yang harus Alea jalankan. Ia harus mencari tau, apa alasan neneknya begitu membenci ibunya. Dulu ia masih terlalu kecil, jadi ia tidak mengerti apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.
Setelah 2 jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di hotel. Tidak ada sapaan Alea pada karyawan, siang itu. Meski sebelumnya, Alea selalu menyapa karyawan dengan ramah. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Nia, tolong bawakan file yang harus saya tanda tangani, karena setelah ini, saya harus kerumah ibu saya." Ucap Alea pada asistenya.
"Baik bu." Nia buru-buru keluar mengambil File yang Alea minta.
Sembari menunggu Nia mengambil file yang ia minta, ia lalu meraih ponselnya, dan memghubungi suaminya. Setidaknya, hanya Adila yang bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang.
"Hai baby. kenapa? Gimana pekerjaan kamu hari ini?" Sapa Adila dari ujung telpon.
"Kurang baik." Jawab Alea lirih. Air matanya kembali menetes di pipinya. Sesak di dadanya semakin tidak tertahankan.
"Apa yang salah sayang? Ada apa? Coba katakan padaku."
"Aku ketemu ayahku tadi. Aku kerumahnya sayang."
"Oh itu, iya saya tahu. Kamu hari ini sungguh keren. Kamu hebat."
"Kamu udah tau?"
"Yes baby. Aku ngga akan ngebiarin kamu sendirian kemanapun. Walaupun kamu tidak jujur padaku, tapi aku tau kemanapun kamu pergi." Terang Adila.
__ADS_1
Pantas saja, sejak keluar dari gang rumah ayah nya, Nia merasa di ikuti oleh seseorang. Dan ternyata benar, itu orang suruhan Adila.
"Aku harus gimana? Aku benci sama ayahku, tapi aku juga ngga tega melihat dia seperti itu." Ucap Alea sembari terisak tangis.
"Kamu serahkan sama suamimu. Kamu cukup lihat saja permainanya nanti. Oke sayang, dont cry anymore. I love you so much."
"Yes thank you baby."
"Oke, see you nanti ya. Aku dua jam lagi selsai, kamu mau aku jemput dimana?"
"Aku ke apartment ibu."
"Oke baby. See you. I love you."
Panggilan pun terputus begitu saja. Benar saja, setelah berbicara dengan suaminya, rasa sesaknya sedikit terobati.
......................
Meeting sudah selsai, pekerjaan di hotel sudah semuanya selesai. Dan saatnya Alea untuk pulang. Walaupun mood nya sedang tidak baik-baik saja, tapi ia harus profesional. Ia tidak ingin mengecewakan ibu mertuanya, yang sudah memeberinya kepercayaan.
"Nia, saya mau pulang dulu ya, kalau ada..."
"Bu, ini ada telpon dari ibu mertua anda." Bisik Nia.
"Ini bu." Nia lalu memberikan ponselnya pada Alea.
Tanpa menunggu lama, Alea menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Hai honey. How are you? You good?" Sapa ibu Adila dari ujung telpon.
Dari suaranya, terdengar ibu Adila seorang yang sangat pintar dan berwibawa.
"Im fine mam. Mamih apa kabar? Kenapa ngga telepon ke ponsel Alea saja?" Tanya Alea.
"Im forget baby. Mamih lupa, hanpdhone mamih ketinggalan di apartment. Dan mamih hanya bawa handphone kantor. Ini, mamih lagi di perjalanan menuju Francis. Ada perjalanan bisnis, dan mamih telpon, ingin memberitahu, akan ada investor asing yang datang ke hotel siang ini. Apakah kamu bisa menemuinya?"
"Yes mam. Aku bisa menemuinya. Jam berapa beliau datang?"
"Sekitar satu jam lagi sayang. Mami yakin, kamu bisa menghandle semuanya."
__ADS_1
"Baik mamih. Alea usahakan, semuanya lancar."
"Good girl. Oke, see you baby, i love you so much. Cepat berikan aku cucu."
"Baik mamih."
Panggilan pun berkahir. Alea terpaksa mengurungkan niatnya, untuk pergi ke apartment ibunya. Ia harus menemui investor terlebih dulu.
"Jadi, kita batal pergi bu?" Tanya Nia pada Alea.
"Iya Nia. Nanti setelah investor pulang, baru kita pergi." Jawab Alea.
Ia kembali duduk di meja kerjanya, dan menyalakan laptopnya kembali.
......................
Setelah menunggu, investor pun datang. Dua orang pria asing, yang sepertinya sudah sangat mengenal banyak keluarga Adila. Mereka datang lebih cepat dari yang di jadwalkan.
Kemampuan Alea berbahasa asing, membuat kedua investor itu terpukau. Meeting pun berjalan dengan lancar, dan hasil yang maksimal.
"Oke miss Alea, thank you for your time, and see you." Ucap Pria itu lalu menyalami Alea.
"You'r Welcome Mr. Dibi." Jawab Alea dengan menganguk sopan.
Kedua pria itu lalu bergegas pergi, setelah meeting selsai.
Akhirnya, Alea bisa pergi ke apartment ibunya. Ia meraih tasnya, dan segera keluar dari hotel.
"Alea!!"
Teriak seorang perempuan yang tidak asing di telinganya. Siapa lagi kalau bukan Nadia, sahabat yang berniat menusuknya dari belakang. Sepertinya ia baru selesai menemani tamunya di hotel ini.
"Wah, kamu abis chek in juga? Masih kurang ya, pendapatan kamu dari Adila?" tanya Nadia. Mulut yang bau alkohol, serta pakaian yang bau asap Ro*o.
"Kamu belum berubah juga? Sampai kapan kamu hidup seperti ini?"
"Wah, kamu sudah berani memberi nasehat ya sekarang." Ia tertawa puas, sembari mengusap pundak Alea.
Dengan sigap Nia langsung menghalangi Nadia, dan menjauhkanya dari Alea.
__ADS_1
"Lo siapa?" tanya Nadia sembari menatap Nia.
"Jangan sentuh bos saya! Atau anda akan berurusan dengan saya!"