
Semarah apapun Alea pada Nadia, tapi ia masih bisa memaafkanya. Karena walau bagaimanapun, Nadia adalah sahabatnya. Perempuan yang tahu bagaimana sulitnya hidup Alea di masa lalu. Meski terkadang kepalanya sekeras batu, tidak pernah maunmendengar omongan orang, terlebih Alea sahabatnya, tapi Nadia selalu ada di hidupnya.
Pekerjaan Nadia memang salah. Tapi karena tuntutan ekonomi, akhirnya ia harus terjun, dan salah jalan. Sampai ia mengalami hal seperti sekarang ini.
Sekujur tubuh penuh dengan luka lebam, bahkan pakaian yang sudah tidak layak pakai lagi. Meski ia mendapat bayaran karena pekerjaanya, tapi itu tidak sebanding dengan mental dan fisik yang di siksa secara bersamaan.
"Gue butuh uang, buat bayarin hutang nyokap. Dan gue juga masih terikat kontrak dengan klub malam itu Al. Gue ngga bisa pergi gitu aja." Ucap Nadia lirih.
"Sekarang, lo ikut gue. Lo ganti pakaian, terus mandi dulu bersihin badan lo." Jawab Alea.
"Kemana?"
"Udah ikut aja."
Sebelum jadwal meeting nya di mulai, Alea mengajak Nadia untuk istirahat di kamar hotel, sambil membersihkan tubuhnya, sekaligus mengobati luka lebam di sekujur tubuhnya.
"Bu, klien kita sudah menunggu di ruang meeting." Bisik Nia.
Alea manatap arlojinya, yang sudah menunjukan pukul 11 siang.
"Hari ini ada berapa klien yang mau ketemu?" Tanya Alea.
"Dua orang bu. Tapi yang satu lagi, masih belum pasti. Apa ibu mau change schedule meeting nya bu?" Jawab Nia.
"Boleh. Kalau mereka masih berhalangan kita tunda saja." Jelas Alea.
Nadia pun keluar dari kamar mandi. Akhirnya ia sudah menganti pakaianya dengan yang lebih pantas. Setidaknya, bisa menghalangi luka lebam di sekujur tubuhnya.
"Nad, lo tunggu disini bentar ya. Nanti ada orang yang antar makanan. Lo istirahat aja dulu, gue ada meeting sebentar. Abis itu, lo ikut gue." Ucap Alea lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Lo ngga lama kan?" Tanya Nadia.
"Ngga palingan sejam doang. Lo istirahat aja dulu ya." Jawab Alea sembari menepuk pundak Nadia.
"Oke deh. Thanks ya Al. Gue ngga tau gimana jadinya, kalau ngga ada lo."
__ADS_1
Alea hanya menganguk pelan, lalu keluar bersama Nia. Sebenarnya, ia terpikir untuk membawa Nadia ke psikolog. Sepertinya mental Nadia sudah terkena, karena pekerjaanya selama ini.
"Nia, ada rekomen psikolog yang bagus ngga?" Tanya Alea saat mereka berjalan ke ruangan meeting.
"Ada bu. Tapi, untuk siapa?" jawab Nia.
"Untuk temen saya, yang tadi. Kamu buatin jadwalnya ya. Sore ini, kalau bisa ajak ketemu. Saya mau kesana." Jelaa Alea.
"Baik bu." Dengan cepat Nia menghubungi psikolog kenalanya, dan membuat janji, sesuai permintaan bosnya.
Sesampainya di ruangan meeting, Alea memulau pekerjaanya dengan klien barunya. Sejak jadi direktur hotel, Alea banyak bertemu dengan orang baru. Termasuk klien nya saat ini. Seorang perempuan cantik, yang sedang hamil, dan ingin membuka usaha di sebelah hotelnya.
Alea sangat respect, dengan perempuan tangguh seperti ini. Meski sebenarnya Alea tidak perlu menemuinya. Karena itu sudah tugas marketing pemasaran hotel, tapi Alea sangat tertarik untuk berbicara denganya, setelah melihat proposal yang ia ajukan.
"Selamat siang." Sapa Alea dengan ramah. Ia langsung menyalami tangan perempuan itu.
"Siang bu." Jawab perempuan itu dengan sopan.
"Maaf ya, menunggu lama. Silahkan duduk."
"Bu Elen ya?" Tanya Alea sembari membaca poroposal perempuan itu, untuk memastikanya.
"Iya bu saya Elen." Jawab Perempuan itu dengan sopan.
"Oke, saya sudah baca proposal yang ibu ajukan ini, dan saya cukup tertarik bu. Jadi, selain disini tempat menginap, ya, seperti hotel kebanyakan pada umumnya, tapi akan lebih menarik, jika di sini ada butik. Meskipun, tempatnya ya diluar ya bu. Maksud saya di sebelah pintu masuk mobil. Jadi pengunjung yang akan menginap, bisa melihat butik ibu lebih dulu." Jelas Alea.
"Iya bu. Saya rencananya juga begitu. Dan saya bersyukur juga terimakasih, karena ibu mau menerima tawaran ini." Ucap Elen.
"iya bu, kan jarang, ada hotel dan butik di area yang sama. Memang ada, hotel yang ada di rooftop mall, tapi ini bukan mall." Jawab Alea lalu terkekeh pelan.
"Iya bu, saya sudah mengajukan proposal ini kemana-mana. Tapi selalu di tolak. Bahkan, dengan hotel ini saja sudah pernah di tolak sebelumnya."
"Oh iya? Kapan? Mungkin saat itu bukan saya direkturnya."
"Iya bu. Saya lupa siapa. Tapi, saat saudara saya bilang, kalau direkturnya sudah berganti, saya memberanikan diri untuk mengajukan lagi." Jelas Elen.
__ADS_1
"Kenapa ibu bisa ada inisiatif untuk mengajukan lagi? Padahal kan, sudah pernah di tolak?" tanya Nia.
"Kebetulan, saudara saya kerja disini. Dan katanya, ibu Alea orang nya baik, bahkan sangat perhatian." Jawab Elen.
"Berlebihan itu bu. Saya tidak sebaik itu." Ucap Alea. "Baiklah bu, kalau dari saya segitu aja. Nanti ibu bisa melanjutkanya dengan ibu Nia ini ya. Kalau ada kurang apapun, kabari saja ibu Nia." Tukas Alea.
Ia tidak bisa lama berbicara dengan Elen. Karena ia juga harus mengantar Nadia ke psikolog.
"Baik ibu. Terimakasih banyak. Terimakasih sudah mau meluangkan waktunya, untuk berbicara dengan orang rendahan seperti saya." Ucap Elen lalu menyalami Alea.
"Sama-sama, semoga ibu dan bayinya sehat ya. Dan semoga ini jalan kesuksesan untuk ibu." Jawab Alea.
Mereka pun bersalaman kembali, dan mengakhiri pembicaraan mereka hari ini.
Setelah memastikan Elen pulang, Alea kembali ke kamar Nadia, bersama Nia.
"Nad, ayo kita per...." Ale menghentikan peekataanya, saat melihat Nadia sudah terbaring lemas, dengan busa di mulutnya.
"Nia!!" Teriak Alea histeris.
"Ya tuhan." Dengan cekatan Nia langsung menghubungi Ambulance, dan meminta tolong pada petugas hotel.
Untung saja, kamar Nadia adalah kamar khusus. Yang tidak pernah di tempati oleh pengunjung hotel. Kamar itu memiliki lift sendiri untuk keluar dari hotel itu.
Mungkin jika tidak, Alea pasti akan kebingungan, karena hotelnya sudah pasti akan tercoreng nama baiknya.
"Bawa kerumah sakit. Saya telpon suami saya dulu." Ucap Alea pada Nia.
Dengan panik, dan tangan gemetar, Alea mencoba menghubungi Adila. Satu panggilan, tidak ada jawaban apapun. Sampai akhirnya, panggilan 3, Adila menjawab panggilan dari Alea.
"Ya sayang? Aku lagi meeting." Sapa Adila dari ujung telpon. Suaranya terdengar bisik-bisik. Meski begitu, Alea tidak perduli, dan mengatakan yang terjadi saat ini.
"Nadia pingsan. Kaya nya dia keracunan. Aku mau bawa dia kerunah sakit." Jawab Alea.
"Maksud kamu? Dia pingsan di hotel?" Tanya Adila.
__ADS_1
"Iya. Kamu kerumah sakit aja ya."