
Akhirnya satu masalah sudah selasai. ibu Alea, akhirnya kembali percaya pada Alea juga Adila, setelah mendapatkan penjelasan yang real dari Adila. Bahkan, Alea mendapatkan hadiah dari ibu mertuanya, sebuah cek kosong, yang menandakan, Alea di minta untuk mengisi nominalnya sendiri.
Siapa yang tidak senang mendapatkan mertua sebaik itu. Bahkan di saat keduanya belum pernah bertemu sama sekali. Tapi, apa yang di berikan oleh ibu Adila, sudah lebih cukup, bahkan lebih dari banyak. (maksudnya gimana sih thor? Bingung deh).
Sore itu, setelah kejadian yang menguras air mata barusan, Alea memilih untuk berada di apartmen ibunya, sampai larut malam nanti. Ia tiba-tiba rindu suasana rumahnya, yang ada ibu dan adiknya.
Tentu saja, Adila sang suami sama sekali tidak keberatan. Dia sangat mendukung, dan malah asik bermain dengan adik Adila.
"Bu, bisa buatin lemon tea ngga bu?" Tanya Alea tiba-tiba.
Sudah beberapa hari ini, ia ingin sesuatu yang masam. Bukan hanya hidupnya yang masam, tapi maksudnya makanan dan minuman yang masam.
"Tumben? Biasanya kamu ngga suka yang asam-asam." Jawab ibunya penuh selidik.
"Ya, ngga tau bu. Mungkin karena cuaca lagi panas kali ya, makanya Lea mau yang asem-asem."
Ibunya lalu berpindah tempat duduk, di sebelah Alea.
"Kamu udah haid?" Bisik ibunya.
Alea bahkan lupa, jadwal datang bulanya. Yang ia ingat, ia baru selsai datang bulan, dua hari sebelum ia kabur. Dan itu pertengahan bulan. Sedangkan hari ini, masih awal bulan. Jadi tidak mungkin, jika ia hamil.
"Udah ibu. Ih, nanya nya aneh." Ucap Alea sembari mendelik kesal.
"Ya siapa tau. Kalau udah punya suami, kan wajar nanya begitu. Kecuali, kamu masih gadis, terus ibu tanya begitu, itu baru ngga wajar." Jawab ibunya, lalu mencubit hidung Alea gemas.
Ibunya lalu beranjak dari tempat duduknya, dan bergegas pergi ke dapur.
Beginilah enaknya, saat ia di rumah ibunya. Apapun yang ia mau, pasti akan selalu di berikan.
"Ibu mana kak?" Tanya Adiknya saat ia keluar dari kamar.
"Di dapur. Ada apa? Itù apa?" jawab Alea langsung membrondong pertanyaan.
Di tangan adiknya, ada buku gambar yang sejak tadi ia pegang. Sepertinya ia baru saja selsai mengambar bersama Adila. Namun Alea tidak yakin, gambar yang di buat keduanya akan bagus. Secara Adila tidak ada bakat mewarnai. Bukan so tau, tapi, Alea sangat paham karakter suaminya itu.
"Ini liat, bagus kan?" Adik Alea menunjukan gambar nya pada Alea..
__ADS_1
Sebuah robot, yang terbentuk seperti kotak, bahkan bentuknya seperti susunan balok. Tidak berarturan sama sekali.
Alea tertawa puas, lalu menatap Adila.
"Tuh kan, kak Lea pasti ngejek." Ucap adiknya lalu duduk di sofa single, dengan wajah kesal.
"Sini sama kaka aja. Ngga usah sama ka Lea. Nanti kita beli makanan, ngga usah di bagi ka Lea nya ya." Bujuk Adila.
Ibunya pun kembali dari dapur, dengan membawa tiga gelas lemon tea, lalu menaruhnya di atas meja.
"Ini, lemon tea nya udah jadi." Ucap ibu Alea.
"Loh, ko ibu yang ngerjain? Mba nya kemana? Ngga kerja?" Tanya Adila kaget.
"Iya, nak Adila. Mba nya lagi pulang kampung. Katanya ada yang sakit. Gapapa, ibu juga bisa ko."
"Gimana sih. Masa baru kerja udah banyak ijin." Adila lalu meraih ponselnya.
Alea yang sudah tau maksud suaminya, langsung merebut ponsel suaminya. Ia tidak ingin suaminya marah pada asisten rumah tangga nya.
"Bukan gitu beb. Tapi, masa ibu yang buatin ini. Ngga etis banget." Jawab Adila.
"Aku yang minta." Mata Alea hampir saja keluar dari kelopak matanya. Ia menatap suaminya dengan tatapan tajam.
Kali ini, Adila hanya menganguk pelan, seperti kucing yang takut di siram air. Lucu memang, wajah yang biasa terlihat garang dang sangar, kali ini terlihat ketakutan, sambil tersenyum penuh arti pada adik Alea.
"Ya udah kak, Kak Lea ngga usah di ajak aja. Kita pergi berdua aja beli mainanya." Ucap Adik Alea.
"Mainan apa?" Tanya ibu Alea.
"Mainan bu. Katanya, adek mau beli playstation yang keluaran terbaru. Temen-temenya udah pada punya, adek belum." Jawab Adila.
"Aduh, jangan di kasih nak Adila. Itu harganya mahal, belum lagi, nanti malah males belajar dia."
Sejak dulu, ibunya memang tidak pernag membelikan mainan untuk adik Alea. Bukan tidak ingin, tapi uang mereka terbatas.
"Gapapa bu. Dila yang beliin." Ucap Adila sambil mengelus punggung Adik Alea dengan lembut.
__ADS_1
Sejak tadi, Alea hanya menatap perlakuan suaminya itu. Sepertinya, jika ia punya anak, sudah pasti akan di manja oleh Adila. Apapun yang anaknya inginkan, Adila sudah pasti akan membelikanya.
"Ya udah yuk, jalan sekarang?" Ajak Adila pada adik Alea.
"Ih, aku ngga di ajak?" Tanya Alea cemberut.
Adila menatap Adik Alea, sambil mengedipkan sebelah matanya dan tertawa puas.
"Di ajak dong. Ayo, bu kita jalan-jalan. Udah lama kita ngga quality time. Yuk?" Ajak Adila pada ibu Alea.
"Ah, ibu disini aja. Ibu ngga suka jalan-jalan." Jawab ibu Alea menolak.
"Bu, ayo lah. Masa seumur hidup Lea, ngga pernah rasain jalan bareng sama ibunya sih. Orang-orang pada jalan sama ibunya, Lea ngga pernah." Jelas Alea.
"Iya bu. Ayo dong bu." Ajak adik Alea.
Jika sudah begini, ibunya tidak bisa lagi menolak. Ia lalu pergi ke kamar, untuk membawa tas, dan menganti pakaianya. Lalu setelah itu, mereka pun bergegas pergi ke sebuag mall, yang tidak jauh dari sana.
Setelah sampai di mall, tujuan pertama mereka adalah, toko permainan anak-anak. Hari itu, adik Alea banyak membeli mainan. Tentu saja dengan uang Adila.
Bukan hanya adiknya, ibu Alea pun di tawari untuk membeli sesuatu, tapi ibu Alea menolaknya. Karena ia tidak ingin menghamburkan uang begitu saja, hanya untuk sebuah tas.
Tapi, berkat paksaan Alea, akhirnya, ibunya mau membeli tas. Setelah selsai, mereka pun keluar dari toko tas. Namun, ibunya tidak sengaha menabrak perempuan paruh baya, yang ada di hadapanya, sampai barang belanjaan kedua nya terjatuh.
"Maaf." Ucap ibu Alea lirih.
Adila dengan sigap, langsung menyuruh dua asistenya, untuk membantu ibu Alea.
"Kalau jalan hati-hati!" bentak perempuan paruh baya itu, lalu kaget saat melihat ibu Alea.
Begitupun dengan Alea, ia begitu kaget melihat perempuan yang ada di hadapanya. Perempuan itu, adalah neneknya. Ibu dari ayahnya, yang sudah mengusir Alea dan juga ibunya.
"Kamu? Kamu ngapain?" Tanya perempuan paruh baya itu.
Dengan sigap, Alea menarik tangan ibunya ke belakang.
"Saya lagi shoping! Kenapa? Kaget?"
__ADS_1