CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 28 | Wedding day


__ADS_3

Treatment sebelum pernikahan pun sudah selsai. Dari mulai ujung rambut sampai ujung kuku. Penampilan Alea kini sudah semakin kinclong.


Dan sore ini, ibu dan juga adik Alea datang ke hotel. Mereka kaget dengan kamar hotel yang lebih besar daripada rumah yang mereka tempati. Fasilitas yang serba mewah dan canggih, membuat ibu Alea tidak berhenti terkejut.


"Ya ampun, ini bagus banget kak. Berapa bayaranya semalam?" Tanya ibu Alea.


Sebenarnya pertanyaan itu, sama dengan apa yang di pikirkan Alea. Tapi ia tidak berani menanyakan hal itu, karena malu pada Adila.


"Ngga tau bu." Jawab Alea. Ia pun duduk di sofa yang ada diruangan.


"Kaka jadi orang kaya ya bu?" Celetuk adik Alea yang masih kecil. Dalam pemikiran mereka, tinggal di hotel mewah seperti ini, berarti sudah menjadi orang kaya. Karena seumur hidup, ini kali pertama ibu Alea menginjakan kaki di hotel sebagus ini. Dengan jamuan yang sangat baik dan juga mewah.


"Bukan kaka. Tapi ka Adila." Jelas Alea.


Adiknya hanya menganguk pelan, dan terus melihat-lihat kamar hotel.


Suara ketukan pintu, membuat Alea beranjak dari tempat duduknya. Ia berlarian dengan penuh semangat, karena itu sudah pasti Adila.


"Hai baby." Sapa Adila.


Ternyata benar, yang datang adalah pria tampan, yang sejak tadi ia tunggu kehadiranya. Ia membawa paper bag di tanganya.


"Bawa apalagi?"


"Buat ibu sama adik." Ia lalu masuk ke dalam, setelah mencium kening Alea. Untung saja jarak pintu dan tempat tidur jauh. Jadi ibunya tidak akan melihat kemesraan calon pengantin itu.


Tidak di sangka, ternyata adik Alea sudah dekat dengan Adila. Ia menyambut hangat Adila sembari memberikan pelukanya.


Baru kali ini, Alea melihat sang adik dekat dengan seorang laki-laki. Walaupun adiknya tidak tau permasalahan kedua orang tuanya, tapi ia seperti merasakan trauma yang mendalam dengan seorang pria.


Tapi dengan Adila, ia sangat berbeda. Wajahnya nampak riang gembira, penuh dengan senyuman.


"Ini, kaka bawain hadiah buat ibu sama adik." Adila lalu memberikan paper bag itu pada ibu Alea dan juga adiknya.


Anak kecil itu begitu bersemangat membuka paper bag yang Adila berikan. Sebuah ipad keluaran terbaru, dan sepatu bermerk yang menjadi hadiah untuk adiknya.


Sementara ibu Alea, ia mendapatkan tas mewah dan heels yang cantik.


"Ya ampun pak, ini berlebih." Ibu Alea terlihat sungkan melihat pemberian Adila yang sangat mewah dan mahal ini.


"Jangan panggil pak dong bu. Bentar lagi saya bakalan jadi mantu ibu. Jadi panggil saya Adila saja." Jawab Adila sembari tersenyum manis.

__ADS_1


"Ini ipad keluaran terbaru ya kak?" Teriak adik Alea.


Adila hanya menganguk pelan, sembari mengusap rambut anak kecil itu.


Alea masih berdiri mematung, melihat ketiga orang kesayanganya tersenyum bahagia. Rasanya seperti mimpi. Dunianya berubah seketika.


"Makasih kak!!" Teriak Adik Alea kegirangan. Ia langsung memeluk Adila dengan penuh semangat.


"Ibu jadi ngga enak sama pak, Eh, nak Adila. Nak Adila sudah banyak membantu keluarga ibu." Ucap ibu Alea lirih.


"Sudah seharusnya bu." Ucapan Adila terdengar sangat tulus.


......................


Segala persiapan sudah selsai. Alea sudah berdandan cantik, dengan gaun pengantin pilihanya. Ibu dan adik Alea juga sudah selsai bersiap-siap.


Jantung Alea berdetak sangat kencang. Ia tidak menyangka, hari ini akan jadi hari istimewa baginya. Tanganya terasa dingin. Ia sudah tidak sabar untuk melihat sang calon mempelai pria.


"Ngga usah hawatir. Lo pasti bakalan bahagia sama Adila." Ucap Diana.


Sejak pagi tadi, Diana membantu Alea untuk bersiap-siap, sekaligus menjadi make up artist nya.


Kini saat nya Alea keluar. Dengan di bantu ibu dan juga Diana, ia berjalan perlahan. Semua mata tertuju padanya. Kecantikanya, bak seorang putri raja yang baru keluar dari kerajaan.


Dengan senyuman manis, Adila sudah menunggu di hadapanya.


"Titip anak ibu ya." Bisik ibu Alea pada Adila.


"Baik bu." Jawab Adila lalu mencium tangan ibu Alea.


Prosesi pernikahan pun segera di mulai. Para tamu undangan menjadi saksi pernikahan mereka. Acarapun berlangsung dengan megah.


......................


Kebahagiaan kedua pengantin baru itu terpancar dari wajah keduanya. Setelah menerima tamu sampai siang hari, kini saatnya mereka istirahat.


Keduanya memilih hotel yang berbeda. Adila menginginkan sensasi malam pertama di tempat lain.


Meski status nya sudah menjadi istri sah, tapi masih ada yang menganjal pikiran Alea. Yang ia tau, pernikahan itu akan di hadiri keluarga besar, dan juga orang tua. Tapi sejak tadi malam sampai acara berakhir, kedua orang tua Adila tidak teelihat sama sekali.


"Ko melamun?" Tanya Adila yang kini duduk di samping Alea. Keduanya tengah menikmati makan malam di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Gapapa." Alea menghela nafas berat, lalu memalingkan wajahnya.


"Ada apa sih?" Adila lalu mencium pipi Alea dan menariknya ke dalam pelukan.


"Aku bingung aja. Orang tua kamu ko ngga ada di hari bahagia kita. Apa mereka ngga setuju sama aku?"


"Ya ampun. Ngga dong sayang. Om aku tadi kan datang. Kamu ngga usah berfikiran negatif."


"Ya gimana ngga negatif. Aku aja ngga tau siapa orang tua kamu. Dan yang mana wajahnya aja aku ngga tau."


"Mau bicara sama mereka?" Tanya Adila.


Alea hanya terdiam tanpa kata. Bahkan ia tidak berani menatap wajah Adila.


Tanpa menunggu lama, Adila meraih ponselnya, dan menghubungi seseorang. Sampai tidak berselang lama, suara perempuan paruh baya terdengar dari ujung telpon.


"Congratulation baby. Kamu sudah jadi suami." Sapa perempuan itu.


"Thank you mam. Mam, menantumu ingin bicara denganmu." Adila lalu memperlihatkan wajah Alea.


"Hai beauty." Sapa ibu Adila dari ujung telpon. Ia melambaikan tanganya sembari tersenyum.


Jantung Alea berdetak lebih kencang. Wajah ibu Adila masih sangat cantik dan muda.


"Kenapa cemberut? Apakah anaku tidak bisa membuatmu bahagia?" Tanya ibu Adila.


"Nggh....ngg... Ngga tan, eh maksudnya mam." Jawah Alea gugup.


"Lucu sekali wajah kamu cantik. Baik-baik kalian disana ya. Mamih harus pergi meeting dulu. Nanti mamih sambung lagi." Sambungan telpon pun terputus begitu saja, sebelum Alea menjawab pertanyaanya.


"Udah kan?" Tanya Adila lalu merangkul Alea dan mencium kening Alea.


"Mamih kamu tau kalau kita menikah?" Pertanyaan yang terdengar bodoh namun harus ia tanyakan agar rasa penasaranya hilang.


Tawa Adila terdengar sangat puas. Ia lalu menghujani ciuman berkali-kali di kening Alea.


"You'r so funny beb. Ya jelas tau sayang. Hotel tempat kita menikah tadi milik mamih ku. Jelas pasti ada laporanya sama dia." Jelas Adila.


"Ya siapa tau kalau..."


"Ngga usah negatif. Ibuku memberimu hadiah. Hotel mewah itu akan jadi milikmu."

__ADS_1


__ADS_2