
Akhirnya, semua darah yang di butuhman Michael, sudah lengkap, berkat bantuan, Nadia, adik Nia, dan kedua teman ibu Alea.
Sebagai rasa terimakasih, Adila memberikan mereka sejumlah uang, untuk imbalan, atas darah mereka yang mau mereka sumbangkan.
Nadia dan Nia, tentunya menolak. Tapi, Alea memaksa keduanya hingga akhirnya mereka bersedia menerimanya. Begitupun, dengan kedua teman ibu Alea. Mereka memang ikhlas membantu tanpa pamrih.
"Kalau gitu, saya permisi pulang ya bu. Soalnya, kata dokter, adik Nia harus kembali istirahat." Ucap Nia.
"Oh, iya Nia. Makasih banyak ya. Sekali lagi, saya dan Adila ucapin makasih. Semoga kebaikan kalian di balas oleh tuhan." Jawab Alea sembari mengusap punggung adik Nia.
"Sama-sama bu." Nia dan adiknya kompak menjawab, lalu menganguk sopan.
"Jangan lupa, kalau sudah selsai kuliahnya, langsung bekerja di perusahaan saya." Sahut Adila.
Sesuai janji Adila, ia akan memberikan imbalan pekerjaan setelah adik Nia lulus dari kampusnya. Bukan hanya adik Nia, tapi Nadia pun mendapatkan tawaran yang sama.
"Siap pak. Kalau begitu, kami pamit. Mari semuanya." Nia dan adiknya bergegas pergi lebih dulu.
Nadia nampak terlihat lemas dan pucat.
"Kalau gitu, ibu juga pulang ya. Kasian Nadia, dia butuh istirahat." kini giliran ibu Alea yang pamit pulang.
"Nad, makasih ya. Lo istirahat ya. Pokonya, gue minta, lo tinggal aja sama nyokap gue ya." Ucap Alea sembari mengelus punggung Nadia.
"Iya Al." Jawab Nadia dengan lemas.
Melihat Adila yang hanya terdiam, tanpa mengucapkan rasa terimakasihnya pada Nadia, Alea langsung mencubit lengan suaminya, sampai ia meringis kesakitan.
"Sakit sayang." Adila mengusap lenganya sembari menatap istrinya.
"Bilang makasih!" bisik Alea.
Alea tau, Adila masih tidak suka dengan Nadia. Tapi setidaknya, Nadia sudah mau menyumbangkan darahnya, meski ia baru keluar dari rumah sakit.
"Makasih." Ucap Adila dengan wajah terpaksa.
"Sama-sama." Jawab Nadia lalu beranjak dari tempat duduknya.
Akhirnya, ibu Alea dan Nadi pun pamit. Kini, hanya ada Alea dan juga Adila, yang masih setia menunggu kabar Michael.
Melihat sikap suaminya pada Nadia, Alea memilih duduk menjauh dari Adila. Ia sengaja, ingin memberikan pelajaran pada Adila, karena sudah bersikap tidak ramah.
"Sayang, kamu lapar ngga?" Tanya Adila.
Hening, Adila sama sekali tidak menjawab perkataan Adila. Ia terus berpura-pura fokus pada layar ponselnya.
__ADS_1
Menyadari sikap istrinya yang berubah, Adila lalu bergeser ke samping Alea.
"Kamu marah?" Tanya Adila lagi.
Alea tetap masih tidak mengubris perkataan Adila, dan terus memandangi layar ponselnya.
"Hei, kenapa sih?" Adila sama sekali tidak menyerah dan malah menggoda Alea, dengan cara mencubit hidung nya dengan gemas.
"Apasih!" Alea menatap Adila dengan wajah kesal.
"Kenapa? Ko tiba-tiba marah?"
"Kamu yang kenapa? Harusnya kamu itu punya rasa empati sedikit. Udah jelas-jelas Nadia, mau donorin darahnya buat Temen kamu itu. Dia bela-belain, baru pulang dari rumah sakit, bantuin temen kamu. Tapi kamu ngga sama sekali, bilang terimakasih sama dia!" Jelas Alea panjang lebar.
Adila lalu merangkul tubuh istrinya, dan bersikap manja pada Alea.
"Maafin aku. Jujur, aku masih kesel sama Nadia." Ucap Adila dengan suara lembut.
"Kesel sih kesel, tapi kamu harus tahu caranya berterimakasih dong." Jawab Alea.
Kali ini, Adila hanya menganguk pelan, sembari mencium pipi Alea.
Alea tau, Adila melakukan semua ini, karena tidak ingin Alea kembali seperti dulu lagi. Dan ia berusaha menjaga istrinya dari kejahatan orang-orang.
......................
"Kalau begitu, saya minta tolong, jika ada sesuatu dengan teman saya, tolong segera kabari saya." Ucap adila.
Sesuai perkataan dokter, Adila akhirnya memilih pulang. Karena Michael belum bisa ia temui.
Sepanjang perjalanan, Adila terus berusaha mengabari seluruh keluarga Michael. Namun tetap saja, tidak ada yang menjawab sama sekali.
Pilihan terkahir, adalah mendatangi rumah keluarga Michael.
"Kamu yakin, ayah nya ada dirumah?" Tanya Alea.
"Yakin." Jawab Adila. Ia lalu mengubah rute perjalananya.
Macetnya kota Jakarta, membuat mereka lebih lama sampai, di rumah Michael.
Rumah itu nampak sepi, seperti tidak ada penghuninya sama sekali. Hanya ada mobil tua, yang terparkir di garasi.
"Kayanya ngga ada orang deh." Ucap Alea.
"Ada." Adila dengan yakin langsung menerobos masuk, membuka pagar rumah nya.
__ADS_1
Keduanya berdiri di depan pintu, sebelum memanggil orang yang berada di dalam.
Tiba-tiba, terdengar suara seorang perempuan dari dalam rumah.
"Geli sayang." Teriak seorang perempuan itu.
Alea dan Adila saling berpandangan. Dari suaranya, sepertinya mereka tengah bercanda tawa.
"Siapa?" Bisik Alea.
Adila hanya mengendikan bahunya, lalu menarik kursi yang ada di belakang nya. Ia pun nekat, naik ke atas kursi itu, dan mengintip dari sela-sela jendela.
"Kelihatan ngga?" tanya Alea penasaran.
"Kurang ajar!"
Wajah Adila berubah, terlihat marah. Ia lalu turun, dan mengedor pintunya dengan kasar.
Rasa penasaran Alea semakin tinggi. Sebelum pintu terbuka, ia naik ke atas kursi, lalu mengintip dari sela-sela jendela.
Betapa kagetnya, saat ia melihat Alvi dan seorang pria tua, tanpa berpakaian. Keduanya terlihat panik, saat mendengat Adila terus mengetuk pintu rumah itu dengan kasar
"Keluar kalian!!" teriak Adila.
"Sayang, itu Alvi?" Tanya Alea.
"Iya. Dia emang Lo*te ngga tau diri!" Jawab Adila.
Ia terus mengetuk pintu rumah itu, sampai akhirnya, Adila nekat mendobrak pintu nya.
Kedua pasangan itu nampak kaget, dan langsung berlarian ke dalam kamar.
"Jadi begini ya? Kalian, enak-enakan main gila disini, tanpa tau, kondisi Michael seperti apa?" Teriak Adila.
"Sabar sayang." Alea berusaha menenangkan suaminya, untuk tidak emosi.
Tidak berselang lama, ayah Michael pun keluar, dengan pakaian yang sudah lengkap. Ia terlihat malu, saat melihat Adila dan juga Alea.
"Yang kamu lihat itu, ngga seperti yang kamu bayangkan." Ucap ayah Michael.
Ingin sekali Adila menampar, ataupun memukul pria itu. Namun jika mengingat statusnya yang sudah berpisah dengan ibu Michael, rasanya itu tidak perlu. Adila tidak ingin, ayah Michael menganggap dirinya masih mencintai Alvi mantan tunanganya.
"Oke, tapi sekarang Adila minta, om datang kerumah sakit, liat kondisi Michael yang masih kritis." Jawab Adila.
Ayah Michael nampak shok, dan langsung duduk di sofa single. Wajahnya pucat, saat mendengar kondisi Michael.
__ADS_1
"Kenapa? om kaget, kalau Michael kritis? Atau om pura-pura ngga tau, dan tega mengabaikan telpon Adila."