
Karena rasa penasaranya dengan cerita Adila tentang ayahnya, pagi ini Alea bergegas pergi diam-diam menemui ayahnya, dengan di antar Nia. Ia ingin memastikan, jika apa yang di katakan oleh Adila, semuanya benar.
Perjalanan menuju rumah ayahnya, lumayan cukup jauh. Ia harus menempuh 2 jam perjalanan, sebelum akhirnya ia sampai di sebuah perkampungan, yang padat penduduk.
Alea harus terpaksa memarkir mobilnya di depan jalan besar, karena rumah ayahnya harus masuk ke dalam gang kecil.
Dengan memakai jaket, dan topi, serta kaca mata hitam, Alea dan Nia berjalan menyusuri gang kecil itu. Ia tidak ingin dirinya terlihat oleh ayahnya.
"Yang itu rumahnya bu." Nia menunjuk rumah paling ujung, dengan cat hijau. Rumahnya sangat kecil dan sempit. Bahkan lebih kecil dari rumah kontrakanya dulu.
Tidak berselang lama, ada seorang perempuan yang keluar dari rumah itu. Perempuan yang tidak lain adalah, ibu tiri Alea. Pakaianya sudah rapih, ia pergi bersama anaknya yang paling kecil dengan sepeda motor.
Alea terpaksa harus masuk ke dalam sebuah warung, agar ibu tirinya tidak melihatnya ada di dalam.
"Aman bu." Ucap Nia setelah ibu tirinya pergi.
Dan kini, Mila juga keluar. Sepertinya ia akan pergi mencari kerja lagi. Karena dari pakaianya yang memakai kemeja putih, serta celana panjang hitam. Berbeda dengan ibu tirinya, Mila pergi jalan kaki. Ternyata keadaan ekonomi mereka juga sangat sulit.
"Sepertinya dia akan pergi mencari kerja lagi bu." bisik Mila sembari terus menatap Mila, yang berjalan buru-buru.
"Cari siapa mba?"
Suara seorang perempuan, membuat Alea dan Nia menoleh kaget. Ternyata pemilik warung itu keluar dari dalam rumahnya.
"Ah, saya mau beli ini bu." Ucap Nia yang asal menunjuk jajanan anak kecil.
"Seribu satu biji ya neng." Jawab ibu itu.
Nia hanya menganguk pelan, lalu mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan. Sementara Alea masih terus menatap ke arah rumah ayahnya.
"Neng kenal sama yang rumah itu?" Tanya ibu pemilik warung pada Alea.
"Ti...ti...ti...dak bu." Jawab Alea gugup.
"Kasian tau, istrinya suka keluyuran, tapi si suaminya di jadiin pembantu. Palingan bentar lagi keluar tuh si bapak." Ucap si ibu.
__ADS_1
Alea dan Nia saling berpandangan. Sepertinya, perempuan ini memang bisa di tanya-tanya soal keluarga ayahnya.
"Bu, saya boleh duduk di dalam ngga?" tanya Nia.
"Boleh neng. Ayo masuk." jawab perempuan paruh baya itu dengan sopan.
Nia dan Alea lalu masuk ke dalam warung itu. Sebagai asisten yang pintar, tanpa disuruh oleh Alea, Nia langsung menanyakan tentang kehidupan ayah Alea sehari-harinya.
Dan dugaan mereka benar, seperti yang Adila katakan, jika ayah Alea selama ini menderita. Setelah ia tidak bekerja lagi, ibu Mila selalu berbuat kasar, dan bahkan sama sekali tidak perduli dengan ayah Alea.
Medengar cerita perempuan ini, hati Alea terasa sakit. Bagaiamana bisa ayahnya bertahan dan lebih memilih perempuan seperti ini, di banding kan dengan ibunya, yang jelas-jelas sangat mencintainya.
"Tuh keluar." Ucap ibu itu, lalu menunjuk ayah Alea yang baru saja keluar dari rumah.
Dengan membawa sapu lidi, ayahnya langsung membersihkan halaman rumah.
Alea menatap dari kejauhan. Ia tak kuasa menahan air matanya. Pria paruh baya, yang sudah seharusnya istirahat, malah di pekerjakan seperti ini.
"Palingan bentar lagi, istrinya pulang. Terus kadang bawa teman-temanya masuk kerumahnya." Jelas ibu pemilik warung.
"Sering seperti itu ya bu?" Tanya Nia.
Mata Alea terus menatap ayahnya yang tengah menyapu halaman depan rumahnya.
Seketika ada rasa penyesalan, karena sudah melakukan hal seperti kemarin. Padahal disini, ia melihat ayah nya begitu menderita.
......................
Setelah satu jam lebih melihat ayahnya dari kejauhan, ibu tiri Alea pulang. Ternyata benar, ibu tirinya pulang dengan teman-temanya.
Tidak ingin ibu penjaga warung tau, jika dirinya adalah Alea, ia meminta Nia, untuk memberikan uang pada ayahnya, melalui ibu penjaga warung. Dengan alasan, uang itu hadiah dari ibu penjaga warung.
"Ini banyak banget neng." Ucap ibu penjaga warung itu.
"Tenang bu, ini untuk ibu." Jawab Nia. Ia memberikan dua amplop pada ibu penjaga warung. Dan setelah selsai, keduanya pun bergegas pulang.
__ADS_1
Namun masih ada satu tempat yang harus Alea kunjungi. Yaitu rumah neneknya, ibu kandung ayahnya. Disana, ia ingin menanyakan apa yang terjadi pada ayahnya.
Untung lah, Adila memberikan alamat, ayah dan juga neneknya. Sehingga ia tidak perlu repot mencari-cari alamat.
Dan rumah nenek Alea masih rumah yang lama. Tempat dimana Alea lahir dulu. Rumah yang tidak pernah berubah sama sekali.
Rumah itu nampak sepi, tidak ada tanda-tanda jika ada orang di dalam rumah itu.
"Perlu saya temani bu?" tanya Nia setelah mereka sampai di depan rumah neneknya.
"Ngga usah Nia. Saya sendiri saja." jawab Alea, lalu bergegas turun dari mobilnya.
Dengan langkah gontai, ia berjalan menghampiri rumah neneknya.
"Permisi." Ucap Alea lalu mengetuk pintu rumah itu.
"Iya siapa?" Jawab Seorang perempuan dari dalam rumah. Tidak berselang lama, pintu rumah itu terbuka.
Neneknya terlihat kaget saat melihat Alea berdiri di ambang pintu.
"Kamu ngapain?" tanya neneknya dengan suara lantang.
Tanpa menjawab pertanyaan neneknya, Alea langsung masuk ke dalam rumah itu. Suasana di dalam rumah itu masih sama. Alea seolah teringat dengan kisah masalalunya.
"Ternyata rumah ini masih sama ya. Ngga ada yang berubah." Ucap Alea lalu duduk di sofa yang sudah terlihat kotor dan jelek.
"Kamu pergi Lea! Jangan sampai saya mengusir kamu dengan ka..."
"Usir saja nek. Lea datang kesini, cuma mau ngasih tau, kalau anak nenek, di jadikan pembantu sama istrinya sendiri." ucap Alea sembari.menatap Neneknya.
Mau tidak mau, neneknya akhirnya duduk di sofa single, dan duduk di hadapan Alea.
"Kamu jangan asal bilang, Intan tidak mungkin melakukan hal itu pada ayah kamu. Dia bukan ibu kamu!" jawab nenek Alea.
Untung saja Alea sempat merekam video saat ayahnya menyapu di halaman rumah. Alea lalu memberikan ponselnya pada sang nenek.
__ADS_1
Wajahnya nampak kaget saat ia melihat video yang ada di handphone Alea. Ternyata selama ini, nenek Alea tidak tau, jika ayahnya di perlakukan seperti ini.
"Nek, Alea memang benci sama nenek dan ayah. Tapi Alea tidak ingin, jika ayah Alea di perlakukan seperti ini sama perempuan yang sudah membuat hidup Alea hancur. setidaknya, nenek harus bantu anak nenek, bawa dia pulang nek."