
Seorang ibu mana, yang tidak akan marah, saat anaknya merebut suami orang. Ibu Alea memang marah, tapi ia tidak melampiaskanya dengan cara marah pada anaknya. Ia hanya melampiaskanya dengan tangisan.
"Ini bohong bu."
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Alea. Bukan tidak bisa menjelaskan, tapi ia kaget saat ibunya menangis terisak di hadapanya.
Sup ayam, yang begitu menggoda, tiba-tiba terasa hambar. Selera makan pun hilang begitu saja.
"Foto ini nyata Lea." Ucap ibunya sembari terisak tangis.
Andai saja ibu Alea pandai membuka sosial media, pasti ia akan tau, jika semua itu hanya karangan Alvi. Karena di sosial media, sudah tersebar perkelahian antara Alvi dan juga Adila, jauh sebelum ibunya mengetahui hal ini.
Alea beranjak dari tempat duduknya, dan berusaha menenangkan ibunya, sembari memeluknya. Ia tau, luka yang ibunya rasakan, sejak di tinggal ayahnya begitu saja belum kering. Kenangan itu masih membekas di hatinya, sampai saat ini.
Tidak mudah bagi seorang perempuan melupakan masa lalu yang begitu pahit. Di tambah, ia harus menjalankan hidupnya seorang diri, membesarkan kedua anaknya dengan berjualan kue.
"Nanti Lea jelasin. Ibu tenang dulu." Ucap Alea dengan lembut.
"Sekarang kamu jelasin Lea, apa maksud semua ini." Jawab ibunya lalu melepaskan pelukan Alea.
Niat Alea akan menjelaskan masalah ini, setelah ibunya tenang, harus ia urungkan. Alea tidak ingin ibunya semakin curiga denganya.
Tanpa menunggu lama, Alea meraih ponselnya, dan mencari berita tempo hari lalu. Disana terlihat jelas, Adila mengatakan jika dirinya batal menikah dengan Alvi
"Ini bu. Ibu coba baca semuanya. Ini klarifikasi Adila sehari sebelum Alea menikah." Ucap Alea.
Ibunya meraih ponsel milik Alea dan mulai membaca berita itu.
__ADS_1
"Sebenarnya Lea ngga mau cerita masalah ini sama ibu. Karena ini masalalu Adila. Tapi, karena Alvi sudah mengatakan hal ini pada ibu, Lea akan jelaskan semuanya." Ujar Alea.
Ibunya kembali meletakan ponselnya, dan mulai menatap anak sulung nya itu. Di matanya, jelas terlihat ibunya sangat kecewa dengan Alea.
"Sebelum Alea kenal Adila, dia sudah tunangan dengan perempuan bernama Alvi. Perempuan itu, anak dari kolega keluarga Adila. Tapi perempuan itu selingkuh dari Adila bu. Dia sengaja mendekati Adila, supaya bisa mengambil alih perusahaan Adila, dan juga proyek besar yang Adila kerjakaan saat ini. Dan perempuan itu ngga terima, kalau Adila menikah dengan Alea. Bahkan, sampai saat ini, dia terus mencari kelemagan Lea bu." jelas Alea panjang lebar.
"Apa perkataan kamu ini bisa di percaya?"
"Ibu ngga percaya sama Lea?" Ia menjeda perkataanya. "Bu, kalau Lea ngerebut suami orang, ngga akan mungkik ibuny Adila bersikap baik pada Alea. Di tambah sekarang ibu Adila memberikan hotel untuk Alea pegang." Tukasnya.
"Siapa bilang? Kamu ngga ingat, nenek kamu malah membela selingkuhan ayahmu, dan membuang ibu begitu saja? Bisa saja ini sama Alea." Ucap ibunya dengan penekanan di ujung kalimatnya.
Lagi-lagi ibunya kembali membahas masalalunya, yang sampai saat ini masih membekas di hatinya. Alea paham, ibunya hanya tidak ingin anaknya menjadi seorang perempuan, yang sama dengan perempuan yang sudah merebut kebahagiaanya.
"Lea telpon Adila dulu. Biar dia yang menjelaskan." Tanpa menunggu lama, Alea meraih ponselnya dan mulai menghubungi Adila.
Dua kali nada tunggu, tidak ada jawaban apapun dari Adila. Sampai di panggilan ketiga, akhirnya terdengar suara Adila.
"Kamu masih lama? Udah jalan pulang belum?" Tanya Alea.
"Ini udah mau arah kerumah. Ada apa? Kangen ya?"
"Kamu ke apartmen ibu ya. Ada yang mau aku bahas sama kamu."
"Ada apa? Kayanya penting banget beb. Whats wrong baby?"
"Udah pokonya aku tunggu." Alea langsung mengakhiri panggilanya begitu saja.
__ADS_1
Ia kembali menatap ibunya, dan memeluknya dengan erat. Sudah saat nya sang ibi sembuh dari luka di masa lalu nya. Niat Alea untuk membawa ibunya ke psikiater dulu yang sempat tertunda, karena masalah biaya, kali ini harus ia lakukan. Semua ini demi kebaikan ibunya.
......................
Adila dan Alea duduk di sofa panjang. Sementara ibunya, duduk di sofa single. Suasana siang itu tidak seindah biasanya. Tidak ada senyuman, bahkan sapaan hangat yang biasa ibu Alea lakukan saat Adila datang menemuinya.
"Ibu dapat kiriman foto dari Alvi, dan juga surat. Dia bilang, kalau aku sudah merebut kamu, dari Alvi." Ucap Alea membuka pembicaraan. Ia juga memberikan bukti foto dan surat yang Alvi kirim pada ibunya.
Adila yang sudah mulai terbiasa dengan pelakuan Alvi akhir-akhir ini, hanya bisa tersenyum dan kembali meletakan foto beserta surat itu.
"Ibu bukanya tidak percaya. Tapi ibu tidak ingin, anak ibu di cap sebagai perusak rumah tangga orang." Jelas ibu Alea.
"Tidak ada yang merusak, tidak ada yang berumah tangga bu. Saya, menikahi Alea, dengan status saya yang masih lajang. Perempuan yang mengirim ini, dia mantan tunangan saya bu. Dan foto ini, di ambil saat kami mengelas pesta pertunangan. Dia tidak terima, karena saya memilih Alea, yang jelas jauh kelas nya dengan dia. Menurut dia, Alea hanya gadis kampung. Tapi bagi Adila, Alea adalah penyelamat hidup Adila." Jelas Adila panjang lebar.
Alea menoleh dan menatap suaminya. Baru kali ini, perkataan itu keluar dari mulut suaminya. Sebelumnya, Adila tidak pernah mengatakan jika dirinya adalah penyelamat hidupnya.
"Maksud penyelamat apa nak Adila?" Tanya ibu Alea.
"Lea datang, di saat saya terpuruk. Saya di hianati, oleh dua orang sekaligus. Orang yang saya kira, akan menjadi rumah, tapi ternyata mengores luka yang paling dalam di hati Adila. Alvi menghianati Adila bu." Jawab Adila.
Tanpa menunggu lama, Adila memperlihatkan isi pesan dirinya dan juga Alvi, beserta bukti foto dan video saat Alvi selingkuh.
Adila memang terlihat kuat di luar. Tapi isi hatinya tidak ada yang tau, bahwa pria ini sangatlah rapuh. Mungkin setiap orang yang pernah di selingkuhi, akan merasakan hal yang sama dengan Adila juga ibu Alea.
"Jadi, ini semua hanya tipuan? Perempuan ini sengaja, memfitnah Alea?" tanya ibu Alea sembari menatap anak dan menantunya.
"Betul bu. Bahkan bukan cuma ini saja. Alea juga di fitnah di hotel bu. Tapi, anak ibu berhasil mematahkan fitnahanya. Bahkan sekarang, Alea adalah direktur yang banyak di puji karyawan." jawab Adila. "Ah, iya, saya lupa. Mamih mengirimkan ini untukmu." Adila kembali membuka ponselnya, dan memperlihatkan chek kosong yang di kirim oleh ibu Adila untuk Alea.
__ADS_1
"Apa ini?" Tanya Alea.
"Hadiah, karena kamu sudah berhasil mengelola hotel."