CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 68 | Cinta pertama


__ADS_3

"Kalau om, masih anggap Mica anak om, tolong, om datang kerumah sakit!"


Tanpa banyak bicara lagi Adila langsung pergi begitu saja, dan masuk ke dalam mobil lebih dulu. Sementara Alea, masih berdiri di hadapan ayah Michael.


"Siapa sih yang da....." Alvi menghentikan ucapanya, saat melihat Alea berdiri di ambang pintu.


"Kenapa? Kaget?" Tanya Alea.


Perempuan itu gelagapan, lalu menghampiri Alea dan ayah Michael.


"Ngapain lo kesini? Mau mata-matain gue?"


"Mata-matain? Ngga salah? Ngapain mata-matain orang ngga waras kaya lo! Semua cowok lo embat, kayanya emang otak lo udah ngga beres!"


"Jaga ya mulut lo!" Alvi hampir saja melayangkan pukulan pada Alea. Tapi ayah Michael menahanya, dan mengeleng pelan.


Bukanya sadar, perempuan itu malah terlihat lebih berani, menantang Alea.


Perempuan yang sudah tidak punya urat malu, akan seperti itu. Tidak merasa bersalah, atas apa yang sudah ia lakukan.


"Om, lebih baik, om pikirkan lagi dengan baik. Sama Suami saya saja, perempuan ini sudah di buang, masa om mau mungut sampah kaya dia. Dan satu lagi, lebih baik om hati-hati, jangan sampai, om cuma di manfaatin."


Setelah puas memberikan peringatan pada ayah Michael, Alea pun pergi menyusul Adila ke mobil. Ia tidak peduli, walaupun Alvi terus memaki nya sambil berteriak.


Tanpa menunggu lama, Adila langsung menancap gas mobilnya. Ia merasa beruntung, karena sudah membuang Alvi, dan memilih Alea.


"Loh mau kemana ini?" tanya Alea.


Arah yang Adila ambil, bukanlah, arah menuju pulang kerumahnya. Melainkan pergi ke rumah sakit.


"Dokter barusan telpon, katanya Michael udah sadar." Jawab Adila.


Ntah keajaiban apa yang sudah terjadi. Di saat Adila berhasil menemui ayahnya, Michael pun sadar dari masa kritisnya.


"Syukurlah. Tapi, jangan kenceng juga sayang. Aku masih mau hidup."


Alea nampak ketakutan, dan terus berpegangan pada seat belt nya. Bahkan ia pun, tidak sanggup membuka matanya.


Itulah Adila, yang tidak pernah bisa mengontrol emosinya. Untung saja, Alea sudah paham dengan sifat suaminya itu.


Perjalanan menuju rumah sakit, yang mestinya di tempuh dengan waktu 1 jam, tapi ia berhasil menempuh perjalanan hanya 30 menit. Keduanya pun langsung menuju ruangan Michael.


Pria tampan itu, nampak tersenyum, saat melihat Adila dan Alea datang. Meski kepalanya masih harus memakai perban.

__ADS_1


"Are you oke?" Tanya Adila sembari menatap sahabatnya.


"Ya, im oke man." Jawab Michael. Meski masih terlihat lemas, tapi ia sama sekali tidak menunjukanya pada Adila.


"Ko bisa pembalap kaya lo tabrakan? Gimana ceritanya?"


"Takdir men."


"Untung sakit!" Gerutu Adila sembari mengeleng pelan.


Alea hanya terdiam, karena ini kali pertamanya ia bertemu dengan sahabat Adila. Selama ini, Alea hanya mendapatkan cerita dari Adila, tentang Michael.


"Sorry ya, pasti rumah sakit langsung nelpon lo. Soalnya, panggilan terkahir di ponsel gue, ya nomor lo." Ucap Michael.


"Tumben, ngapain lo telpon gue?"


Alea tau, suaminya berusaha, untuk pura-pura tidak tahu, dengan apa yang sudah ia lihat barusan.


"Gue mau ngabarin kalau...." Michael menghentikan perkataanya, lalu menatap Alea. Sepertinya, ia merasa sungkan dengan Alea.


"Gue perlu keluar?" tanya Alea, lalu menatap Adila dan Michael bergantian.


"Jangan. Gue cuma ngga enak aja, kalau gue ceritain ini di depan lo." Jawab Michael.


Pria itu membulatkan matanya, dan menatap Adila.


"Gue sama istri gue datang kerumah lo, dan..." Adila menghentikan ucapanya, lalu menarik kursi untuknya dan juga Alea.


"Sorry men. Bokap gue emang agak kurang waras. Tapi, lo harus tau, kalau keputusan lo, buat tinggalin Alvi, udah bener." Jawab Michael.


Adila hanya menganguk pelan, lalu mengenggam tangan Alea.


"Its oke. Gue dapatin yang lebih baik." Ucap Adila lalu menatap Alea dan tersenyum.


Akhirnya, Alea bisa melihat senyuman tulus di wajah suaminya, seperti yang dulu ia lihat. Alea merasa beruntung, karena sudah menjadi pilihan Adila.


Pembicaraan mereka sore itu, berlangsung sampai malam. Banyak pembicaraan yang mereka bahas. Di mulai dari masa lalu Adila, saat mereka sama-sama menempuh pendidikan di luar negeri, sampai akhirnya, Adila memutuskan untuk pulang lebih dulu.


Adila juga membahas awal mula pertemuanya dengan Alea. Betapa kagetnya, saat Michael tau, asal-usul Alea. Siapapun memang tidak akan mengira, jika Alea berasal dari dunia malam. Penampilanya yang sekarang, memang sudah lebih baik, di tambah dengan kepintaran Alea.


"Oh iya, tadi kata dokter, gue kehilangan banyak darah, terus katanya, lo berdua yang cariin donor buat gue, apa iya?" tanya Michael.


"Yes. Dan itu semua, berkat istri gue. Dia yang dengan cepat, sebarin di grup chat, sampe temen mertua gue, asisten dia, dan juga sahabatnya, yang donorin darahnya buat lo." Jawab Adila.

__ADS_1


"Oh iya? Berarti, gue punya hutang nyawa sama banyak orang." Pria itu tersenyum lalu menatap Alea.


"Lo bisa bayar, setelah lo sembuh." Jawab Alea.


"Aman. Tapi, lo bisa liatin orang-orang yang udah bantu gue? Maksudnya, fotonya. Gue takut, nanti ketemu di jalan, atau dimana, gue ngga kenal dia." Michael menjeda perkataanya. "Ya, lo tau sendiri lah, gimana gue." Tukasnya sambil menatap Adila.


"Cowok jutek dan nyebelin, yang ngha pernah bisa di sukai cewek." Ucap Adila.


Keduanya tertawa puas.


Akhirnya, Alea bisa melihat, siapa suaminya yang sebenarnya. Ia orang yang super care, sama sahahatnya.


"Nah itu dia. Yang nolong gue cewek?" tanya Michael lalu menatap Alea.


"Satu cewek, dan tiga cowok." Jawab Alea.


"Oke, kita skip yang cowok. Karena gue akan kasih imbalan yang setimpal. Gue mau liat yang cewek." Tanya Michael.


Sebelum memperlihatkan foto Nadia pada Michael, Alea lebih dulu menatap suaminya. Ia tidak ingin, suaminya marah, jika dirinya memberikan foto Nadia. Secara, suaminya masih belum menyukai Nadia.


"Ngapain malah lirik-lirikan? Mana sini, liat." Michael menengadahkan tanganya pada Alea.


"Udah ngga usah. Ngapain juga lo liat fotonya. Udah gue bayar ko." Jawab Adila.


"Ih, kenapa lo yang sewot? Lo cemburu?" Tanya Michael sambil tertawa puas.


"Bukan gitu tapi...."


Belum selsai Adila berbicara, Alea langsung memberikan ponselnya pada Michael.


Pria itu nampak kaget, saat melihat foto Nadia.


"Ini, ini, ini, ini....."


"Apasih? Ngomong yang jelas! Iya, dia wanita malam, lo pernah make dia?" Tanya Adila.


Alea yang merasa kesal dengan perkataan suaminya, langsung menginjak kaki suaminya, sampai Adila meringis kesakitan.


"Wanita malam?" Michael nampak lebih kaget, dengan perkataan Adila.


"Iya. Ngga usah pura-pura bego! Emang dia siapa?" tanya Adila.


"Dia cinta pertama gue."

__ADS_1


__ADS_2