CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 50 | Good girl Alea


__ADS_3

Perempuan cantik, berambut panjang, tubuh yang tinggi, dan kulit yang sangat putih, mulus, dan bersih. Ya, perempuan itu adalah Kintan. perempuan yang mengelola hotel milik keluarga Wijaya di Bali.


Ternyata Alea salah menduga. Ia pikir, Kintan dan Adam akan bersikap sombong, tapi nyatanya tidak. Mereka begitu ramah. Tapi, Alea tidak mudah tertipu denga sikap keduanya. Karena walau bagaimanapun, Kintan adalah sepupu Alvi, yang tak lain adalah mantan tunangan suaminya.


"Kamu hebat ya, bisa mengelola hotel ini, sendirian. Saya paham sekarang, kenapa keluarga Wijaya lebih memilih kamu daripada Alvi." Ucap Kintan.


"Sepertinya, tidak ada hubunganya, antara hotel dan di terima nya saya di keluarga Wijaya." Jawab Alea, sembari menyunginkan senyumanya.


Alur pembicaraa mereka mulai mengarah pada Alvi. Padahal sebelumnya, mereka masih membahas soal rencana pembangunan hotel.


Ntaha bagaiamana, Kintan masih bekerja di perusahaan Wijaya, setelah Adila dan Alvi batal menikah.


Berbeda dengan Kintan, pak Adam masih terus membicarakan soal hotel. Karena sepertinya, ia tidak ada hubunganya dengan Alvi sama sekali.


"Bye the way, kamu kuliah dimana dulu?" tanya Kintan. Tatapanya, mulai mengintimidasi Alea, seolah Alea hanya gadis rendahan, yang tidak pantas ada disini.


Trik yang di gunakan oleh Kinta cukup bagus. Untung saja Alea sudah di peringatkan oleh ibu mertuanya, agar tidak terpancing emosi. Sejujurnya, menahan emosi lebih sulit, di bandingkan melawan.


"Kebetulan saya baru masuk kuliah." Jawab Alea dengan senyuman manis.


"Wah, hebat juga ya kamu. Hanya lulusan SMA, tapi kamu bisa memimpin hotel, dengan baik. Bahkan peningkatan hotel ini, begitu pesat, sejak kamu yang mengelolanya."


"Saya masih banyak belajar. Dan kebetulan, mertua saya yang memberikan saya pelajaran langsung." Jelas Alea.


"Bagus juga ternyata selera Adila ya. Bahkan perempuan malam seperti kamu, tidak terlihat sama sekali." Dengan senyuman sinis, Kintan menatap Alea.


Pak Adam dan juga Nia, langsung menoleh saat mendengar Kintan mengatakan hal itu. Namun keduanya tidak bisa mengatakan apapun. Walau bagaiamana, mereka tetap bawahan Alea juga Kintan.


"Terkadang kualitas seseorang tidak di tentukan dengan siapa kita, dan backround kita. Bahkan, ada yang backround nya bagus, tapi faktanya, mereka lebih rendahan dan murahan daripada saya, yang bekas perempuan malam." Jawab Alea.


Kintan terdiam seribu bahasa. Jawaban cerdas Alea mampu menamparnya. Perempuan itu hanya menganguk sambil menyungingkan senyumnya.

__ADS_1


Tidak ingin suasananya, kembali canggung, Alea kembali memabahaa masalah pekerjaanya. Proyek pembangunan hotel yang akan di bangun di kota Bandung, membuat Alea harus meninjau lokasinya secara langsung.


"Kapan ibu siap pergi ke Bandung bu? Biar saya atur pertemuan lagi disana." Tanya pak Adam.


"Jadwal ibu Alea, untuk minggu ini masih padat pak. Mungkin minggu depan." Jawab Nia. Sebagai seorang asisten, ia tahu betul semua jadwal Alea.


"Apa tidak bisa di kosongkan saja? Karena kita ngga punya waktu banyak." Ucap Kintan.


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan Alea. Siapa lagi kalau bukan Adila. Ia tersenyum manis dan menatap Alea. Namun Kintan, perempuan itu tiba-tiba saja, beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Adila dan mencium pipi kanan dan kirinya.


"How are you?" tanya Kintan.


"Baik. Kamu apa kabar?" Jawab Adila. Ia lalu melepaskan pelukan Kintan, dan berjalan menghampiri Alea.


Kintan yang masih berdiri di ambang pintu, ia tersenyum lalu kembali duduk di tempatnya tadi.


"Sudah lama kita ngga ketemu ya? Apa kamu masih suka keluar malam? Minum beer or something?" Tanya Kintan lagi.


"No. Sekarang gue udah punya istri." Jawab Adila lalu merangkul istrinya.


Adila hanya terkekeh pelan, tanpa menjawab apapun. Ia tahu, perempuan ini berniat menjatuhkan Alea di depan bawahanya. Untung saja, ibu nya menelpon Adila dan meminta Alea untuk mendampinginya.


"Gimana pak Adam, sudah selsai semua pembahasanya?" Tanya Adila pada pria berkacamata itu.


"Sudah pak. Ini, saya lagi sesuaikan jadwal dengan ibu Alea, untuk meninjau lokasi di Bandung nanti." jawab Pak Adam.


"Lo ikut kan Dil?" Sahut Kintan. Gayanya sungguh lenjehdan tidak tahu diri. Padahal sebelum Adila datang, Kintan masih bersikap baik dan sewajarnya.


"Baik pak Adam, semuanya sudah selsai kan? Kita akan berjumpa di Bandung minggu depan." Ucap Alea lalu membereskan semua berkas miliknya.


"Kenapa ngga sekarang aja sih? Kita jadi ngga perlu bolak balik ke Bali lagi. Butuh biaya lagi jadinya." Rutuk Kintan.

__ADS_1


"Kalau ibu malas, ibu tidak ikut juga tidak apa-apa. Karena disini, ibu juga tidak ada kontribusinya. Saya rasa mulai sekarang, Saya akan mengusir orang yang berbicara di kuar pekerjaan, seperti yang ibu Kintan lakukan." Jelas Alea. Bibir nya tersenyum manis, menatap Kintan.


Perempuan itu nampak kesal, namun tidak berani menjawab apapun. Karena bagaiamanapun, Alea adalah bos nya. Terlebih saat ini ada Adila yang duduk di samping Alea.


"Ide yang bagus itu sayang. Kita jadi bisa mengurangi pegawai yang tidak kompeten." Ucap Adila.


"Nah itu dia, karena sekarang banyak orang pintar, yang susah mendapat kerja, hanya karena pegawai yang di titipkan orang dalam, dan tidak berkompeten sama sekali." Jawab Alea sembari menatap Kintan.


Perempuan itu nampak serba salah. Ia lalu buru-buru mengajak pak Adam untuk pulang dengan alasan, ia harus segera terbang ke Bali.


"Kalau begitu saya pamit." Kintan lalu keluar begitu saja dari ruangan itu, tanpa menunggu jawaban dari Adila juga Alea.


Pak Adam yang merasa tidak enak, langsung meminta maaf pada Alea juga Adila. Ia lalu menyusul Kintan yang sudah lebih dulu keluar.


Tidak berselang lama, Nia pun bergegas keluar dari ruangan Alea. Karena ia harus melanjutkan pekerjaanya.


"Kamu hebat." Adila lalu mrncium pipi Alea denga mesra.


"Ih, jangan sentuh!" Bentak Alea lalu menjaug dari Adila. Ia masih kesal Dengan Adila yang sama sekali tidak melawan di saat Kintan mencium pipi Adila.


"loh kenapa sayang?" Tanya Adila lalu memeluk Alea dari belakang.


"Diem!" bentak Alea. Lalu melepaskan pelukan suaminya dan duduk di sofa kembali.


Bukanya membujuk, Adila malah terkekeh pelan. Ia kembali memeluk isrrinya dan menghujani ciuman di wajah Alea.


"Jangan cemburu sayang. Aku sengaja, biar kamu bisa cemburu." Ucap Adila sembari tersenyum manis.


"Cemburu?" Jawab Alea sembari mendelik kesal.


"Begini sayang, Kintan itu pasti akan melapor pada Alvi. Dia sengaja membuat kamu cemburu." Jelas Adila lalu mencium pipi Alea kembali.

__ADS_1


Apa yang di katakan Adila memang masuk akal. Pantas saja perempuan itu tiba-tiba bersikap gatal saat ada Adila.


"Yang penting kamu adalah istriku yang terbaik. I love you."


__ADS_2