
Alea berhasil meyakinkan para direksi di meeting pagi ini. Ia memberikan jawaban yang sangat menakjukan, sampai tidak ada satu orang pun yang berani menjawab perkataanya.
Setelah meeting selsai, Alea juga mengumpulkan karyawan, dan memberikan penjelasan yang sama. Tidak ada yang ia tutupi dari masa lalunya. Semua ia ceritakan pada karyawanya, karena tidak ingin gosip ini akan terus berkepanjangan, dan membuat pekerjanya tidak fokus.
"Baiklah, saya kira cukup untuk kali ini. Kalau ada gosip atau apapun yang menyangkut saya, atau suami saya, kalian bisa langsung tanyakan pada saya. Jangan sungkan, anggap saja saya karyawan juga disini. Saya juga masih baru, dan saya butuh dukungan dan bantuan dari kalian. Ada yang mau di tanyakan lagi? Sebelum meeting saya tutup?" Tanya Alea.
"Tidak bu. Cukup." jawab salah seorang karyawan.
"Baiklah kalau begiu. Ah iya, saya lupa, mulai sekarang, saya akan membuat grup chat, khusus pegawai disini. Nanti saya minta pak Ilham untuk bikinkan ya pak. Dan masukan saya ke grup itu. Biar kita bisa diskusi, dan kalau ada pertanyaan seputat gaji, atau kinerja, kalian bisa hubungi saya." jelas Alea.
Adila tidak menyangka, kalau istrinya akan secepat ini beradaptasi. Ia cukup pintar membuat suasananya kembali normal. Sejak tadi, ia hanya tersenyum menatap istrinya dari kejauhan.
"Baik bu. Seluruh karyawan ya bu?" Tanya pak Ilham.
"Iya pak. Seluruhnya. Security, dan juga staff kebersihan juga. Saya ingin kita disini bukan hanya sebatas bekerja. Tapi sebuah keluarga. Jadi, yang namanya keluarga, jangan saling sikut." Terang Alea sambil tersenyum.
"Baik bu. Akan segara saya buat, saya akan minta kontaknya satu persatu dulu."
"Terimakasih pak. Oh iya, satu lagi, mulai sekarang, saya akan evaluasi kinerja kalian per tiga bulan sekali. Dan kalau bagus, saya akan berikan bonus, satu kali gaji full."
"Wah serius bu?" Tanya karyawan yang duduk di meja paling depan.
"Ya, saya serius. Setiap tiga bulan, akan ada 10 orang yang saya pilih. Tentunya berdasarkan kinerja kalian. Yang akan di nilai, keramahan, kerajinan, kerja sama yang bagus dengan team. Kalau yang sering julid, dan gosipin orang, itu akan saya beri surat peringatan." Jawab Alea.
Seluruh karyawan nampak berbisik satu sama lain. Tapi tanggapan mereka sangat baik. Dan sepenuynya setuju dengan usulan Alea.
Meeting pun selsai. Dan Alea kembali keruanganya bersama Adila. Tanganya masih terasa dingin. Untuk pertama kali menjadi bos, Alea sudah berhasil.
"Kamu hebat sayang." Ujar Adila. Ia langsung memeluk istrinya dan mencium kening nya.
__ADS_1
"Apa aku beelebihan?" Tanya Alea.
"Tentu tidak sayang. Kamu sudah menunjukan yang terbaik. Dan aku yakin, mamih akan bangga sama kamu." Jawab Adila.
Sebagai seseorang yang berangkat dari kesusahan, Alea tau apa yang di inginkan para pegawai. Mereka akan sangat senang, jika bos nya dekat dengan para pegawai. Bukan bos yang bersifat angkuh dan sombong. Kunci sukses sebuah perusahaan itu, ada pada bos nya. Karena jika ia tidak bisa merangkul bawahanya, maka perusahaan akan tumbang.
......................
Selsai meeting, Alea melanjutkan aktifitasnya, dan pergi ke kampus. Satu mata pelajaran di hari pertamanya, langsung nempel di pikiranya. Pada dasarnya, Alea memang anak pintar. Tidak heran, jika ia bisa langsung mengikuti pelajaran pertamanya.
Dua jam lebih sudah berlalau saatnya Alea kembali pulang. Mobil jemputan pun sudah menunggu di parkiran. Siapa lagi kalau bukan suaminya, yang rela menjadi supir pribadinya.
"Gimana sayang? Sukses?" Tanya Adila sambil fokus pada kemudinya.
"Sukses dong."
"Syukurlah. Hari ini, gimana kalau kita dinner di luar? Buar rayain keberhasilan kamu?" Usul Adila.
Dering ponsel Adila berbunyi. Ia meminta Alea untuk melihat siapa yang menghubunginya. Dan saat Alea meraih ponselnya, ia melihat nama Alvi di layar ponsel itu.
Tanpa menunggu lama, Alea langsung menjawab telpon dari mantan kekasih suaminya itu.
"Pinter juga istri kamu ya. Dia bisa meyakinkan direksi dengan ceritanya. Tapi, jangan senang dulu. Karena besok akan ada kejutan yang lebih menyenangkan dari ini." Ucap Alvi, yang terdengar percaya diri.
"Oh iya? Silahkan. Sampai kamu berhasil membuat saya jatuh. Tapi sebelum saya jatuh, saya akan pastikan, kamu yang akan jatuh lebih dulu. Perlu bukti? Atau mau saya kasih hadiah sekarang?" Jawab Alea. Ia menyungingkan senyumanya menatap jalanan.
"Kamu ngancam saya? Perempuan murahan seperti kamu, berani mengancam saya?" Alvi terdengar tertawa puas mendengar perkataan Alea. Mungkin ia berpikir, Alea gadis polos yang akan terus menerus kalah denganya.
"Oke. Satu jam dar sekarang, kamu akan lihat kejutanya." Alea langsung mengakhiri panggilanya begitu saja.
__ADS_1
Alea langsung terpikir untuk memberikan pelajaran yang setimpal untuk Alvi. Kali ini, ia meminta Adila, untuk mengantarnya ke perusahaan orang tua Alvi.
Adila sempat tidak setuju. Karena ia takut, Alvi akan berbuat macam-macam padanya.
"Ngga usah ya. Aku ngga mau, kamu akan terus jadi korban Alvi." Ujar Adila.
"Its oke sayang. Kita temui aja dulu bentar. Ada yang mau aku bicarain sama orang tuanya." Terang Alea.
"Ngga. Aku ngga akan mau anterin kamu kesana." Ujar Adila dengan tegas.
Akhirnya, Alea harus mengurungkan niatnya. Dan mrmberikan kejutan dengan cara lain. Ia segera mengubungi Nia Sekretarisnya, dan memintanya untuk mengirimakan sebuah foto kerumah Alvi. Foto saat Alvi tengah asik minum di sebuah Klib malam. Bahkan ia membiarkan tubuhnya di gerayangi pria tidak di kenal.
Dua hari yang lalu, Alea mendapatkan foto itu dari Niko, mantan pemain band, yang pernah bekerja denganya. Niko tidak sengaja mengirimkan foto Alvi. Karena awalnya, ia hanya memberi tau Alea, jika dirinya tengah bersama mba Kiki.
Tapi keberuntungan berpihak pada Alea. Tanpa di sengaja, Nilo malah mengirimkan foto Alvi dan para lelaki hidung belang.
"Ada apa sih? Kamu daritadi sibuk sama handphone terus." Tanya Adila. Ia memang belum tau tentang foto Alvi. Karena Alea sengaja tidak memberitahukanya.
"Aku mau kasih kejutan buat mantan kamu." Jawab Alea.
"Kejutan apa? Dia orang perfect sayang. Dia ngga punya celah sedikitpun. Jadi kamu sulit untuk mendapatkan keburukanya."
Alea mendelik kesal, setelah mendengar jawaban Adila.
"Bukan aku mau menyanjungnya. Tapi, aku cuma kasih tau kamu." Ujar Adila lagi.
"Terus ini apa?" Alea langsung menunjukan foto Alvi pada Adila. Ia benar-benar kesal pada suaminya itu.
Seketika, Adila menginjam rem, hingga kepala Alea terbentur dashboard.
__ADS_1
"Sakit!!" Bentak Alea tidak terima. Sudah kesal pada Alvi, sekarang ia harus kepentok dashboard mobil, gara-gara kecerobohan suaminya.
"ini dia? Dia dugem?"