CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 65 | Adila ngambek


__ADS_3

Setelah di rawat selama dua hari, di rumah sakit, akhirnya Nadia sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Karena pagi ini, Alea ada meeting bersama Adila, akhirnya ia menyuruh ibunya, untuk pergi menjemput Nadia kerumah sakit.


"Yuk sayang, kita udah terlambat nih." Ajak Adila, yang sudah rapih dengan pakaian kantor nya.


"Bentar, aku mau telpon ibu dulu, mau mastiin kalau ibu jadi ke rumah sakit."


"Nanti di mobil aja. Kita udah telat." Adila lalu menarik tangan Alea dan membawanya ke mobil.


Meeting pagi ini, memang sangat penting. Ada kolega Adila dari luar negeri, yang akan membahas pembangunan hotel yang baru.


"Pak, jalanya agak cepet ya." Ucap Adila pada supir pribadinya.


"Baik pak." Jawab supirnya dengan sopan.


Sementara Alea, terus fokus pada layar ponselnya, untuk menghubungi ibunya.


"Emang nya Nadia ngga ada yang jemput? Sampai harus ibu kamu?" tanya Adila.


Pria itu, masih terlihat kesal pada Nadia, setelah kejadian malam itu.


"Kan kemarin udah aku jelasin. Kamu masih belum paham?" Jawab Alea sembari mendelik kesal.


Sudah sejak tadi malam, Alea menceritakan masalah yang menimpa Nadia, termasuk perlakuan ibu angkatnya.


"Lupa." Adila lalu mengeluarkan ponselnya. Melihat Alea sibuk pada layar ponselnya, membuat Adila kesal, hingga akhirnya melakukan hal yang sama.


Sejak mengurusi masalah Nadia, Alea lupa tugasnya sebagai seorang istri, dan sering mengabaikan Adila.


"Oke, beres." Gumam Alea. Ia pun menaruh ponselnya ke dalam tas kembali.


"Sayang, abis meeting kita kerumah ibu ya." Ucap Alea ssmbari menatap suaminya.


Namun tidak ada jawaban sama sekali dari Adila. Pria itu, terus fokus pada layar ponselnya.


"Sayang, kamu denger aku ngga sih?" Tanya Alea sembari mengenggam tangan Adila.


"Kamu aja yang pergi." Jawab Adila.


"Kamu kenapa sih?" Alea baru sadar, jika suaminya sedang tidak baik-baik saja, seperti biasanya.


"Gapapa." Seolah tidak peduli, Adila terus fokus pada layar ponselnya.

__ADS_1


Bukan Alea namanya, jika tidak bisa meluluhkan hati suaminya. Ia pun mulai bergelayut manja, di lengan suaminya, sembari mencium pipinya berkali-kali.


"Ada apa sih?" Goda Alea.


"Awas ah!" Jawab Adila dengan jutek.


"Ih, ngga boleh gitu dong. Kenapa?" tanya Alea lagi.


"Kamu yang kenapa? Akhir-akhir ini, selalu sibuk dengan urusan orang lain. Sampai kamu ngga pernah peduliin aku." Jawab Adila.


"Cie manja." Goda Alea lalu tertawa puas.


Jika sedang marah seperti ini, Adila terlihat lucu. Karena biasanya, ia selalu terlihat galak dan juga tegas pada orang lain.


"Kamu itu udah punya suami, yang harusnya kamu urusin! Bukan malah ngurusin temen kamu yang ngga guna itu!" Ucap Adila.


"Jangan gitu dong. Kita ngga tau, kedepanya hidup kita seperti apa. Siapa tau, nanti di saat kita terjatuh, Nadia bisa menolong kita? Kamu jangan sombong dong sayang." Jawab Alea.


Adila hanya mendelik kesal, sembari menatap istrinya. Bukan marah, Alea malah menghujani ciuman di wajah Adila. Ia tidak peduli dengan supir yang ada di hadapanya.


"Ngga boleh gitu ah. Kita kan mau ketemu sama klien, nanti ngga enak di lihat klien kalau muka kamu jutek gini." Ucap Alea lalu kembali mencium pipi Adila.


"Pak, istri bapak suka begini, kalau bapak marah?" Tanya Adila ada supirnya.


"Berarti pak Adila beruntung kan pak, dapetin istri kaya saya?" Timpal Alea, sembari tersenyum manis.


"Iya bu, sangat beruntung." Ucap pak Ahmad lalu menganguk pelan.


"Oke pak, saya ngga jadi kasih bonus bulan ini ya." Jawab Adila.


"Tenang, ada saya pak. Kasih nomor rekening bapak pada saya." Sahut Alea.


Pak Ahmad hanya terkekeh melihat kelakuan kedua majikanya.


Setelah perjalanan 1 jam lebih, akhirnya mereka sampai di sebuah restaurant mewah. Klien Adila ternyata sudah datang lebih dulu. Untung saja, mereka tidak terlambat.


"Morning Sir." Sapa Adila lalu bersalaman dengan klienya.


Meeting pun di mulai. Alea dan Adila, memberikan ide untuk lokasi pembuatan hotel yang baru.


......................

__ADS_1


Setelah satu jam lebih, akhirnya meeting pun selsai. Mereka sepakat akan memilih kota Bandung sebagai lokasi pembangunan hotelnya. Selain disana cuacanya yang membuat orang betah, disana juga banyak tempat wisata, yang bisa di kunjungi saat hari libur. Sehingga hotel, pasti akan lebih banyak di minati.


Adila dan Alea pun kembali ke Jakarta, setelah meeting selsai.


"Makasih ya sayang, berkat kamu, semuanya jadi lancar." ucap Adila.


"Your welcome mister Adila." Jawab Alea lalu tersenyum.


Meski banyak urusan yang di urusi Alea, tapi jika menyangkut masalah pekerjaan, Alea akan fokus, dan tidak akan membuat suaminya kecewa. Itulah alasan mertuanya sangat menyayangi Alea.


Tiba-tiba, ponsel Adila berdering. Ia lalu meraih ponselnya, dan menjawab panggilan dari nomor asing tersebut.


"Selamat siang? Ini dengan pak Adila?" Sapa seorang perempuan dari ujung telpon.


"Siang. Ini dengan siapa?" Tanya Adila.


"Ini pihak Rumah Sakit Medika, ingin mengabarkan bahwa bapak Michael saat ini tengah di rawat di sini. Beliau, korban kecelakaan tadi pagi pak. Saya sudah menghubungi keluarga, namun tidak ada yang menjawab. Dan hanya bapak, yang bisa kami hubungi." Jawab perempuan itu.


"Kecelakaan? Dimana?Terus kondisinya gimana?" Tanya Adila panik.


"Kondisinya kritis pak. Pak Michael harus di operasi segera. Dan kami butuh persetujuan pihak keluarga."


"Lakukan saja. Saya yang akan tanggung jawab." Ucap Adila.


"Baik pak, tapi bapak harus menandatangani surat perjanjian dulu." Jawab perempuan itu.


"Kamu ini gimana sih? Udah tau kondisi nya kritis, kamu harus nunggu saya dulu? Saya lagi di perjalanan, dan akan sampai satu jam lagi! Kalau teman saya mati bagaiamana? Kamu mau tanggung jawab?!!" bentak Adila.


Alea yang duduk di samping Adila, nampak berusaha mengusap punggung Adila, dan mencoba menenangkanya.


"Tapi pak, ini sudah prosedur rumah sa.."


"Saya akan tuntut kalian, kalau terjadi apa-apa dengan sahabat saya!" Adila lalu mengakhiri panggilan telponya begitu saja.


"Ada apa sih? Ko sampai bentak-bentak orang gitu?" Tanya Alea.


"Michael kecelakaan, dan kondisi nya kritis, dia harus segera di operasi. Tapi mereka meminta aku untuk datang, dan menanda tangani surat perjanjian, sedangkan kita aja masih jauh!" Jawab Adila.


"Sabar. Kamu do'a in, supaya Michael ngga kenapa-napa." Ucap Alea dengan suara lembut.


Adila nampak gusar, ia terus berusaha menghubungi keluarga Michael, tapi tak seorang pun yang bisa di hubungi. Orang tua, bahkan kakanya pun, semuanya tidak aktif.

__ADS_1


"Ibu, coba aku telpon ibu, buat datang kerumah sakit." Ucap Alea.


"Ah iya. Coba sayang, minta tolong ibu ya."


__ADS_2