CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 11 | Pelakor


__ADS_3

Melihat Nadia ketakutan, Alea langsung mengajaknya masuk ke dalam apartment. Baru kali ini, ia melihat Nadia seperti ini. Padahal yang ia kenal, Nadia orang yang sangat berani, menghadapi apapun.


"Minum dulu Nad." Alea memberikan segelas air putih pada sahabatnya itu, agar ia merasa lebih tenang.


Nafasnya terlihat sangat tersenggal-senggal, tak beraturan. Wajahnya berantakan, bahkan ia masih memakai pakaian, yang biasa ia gunakan untuk bekerja.


Merasa risih dengan penampilan Nadia yang seperti ini, ia lalu memberikan pakaian yang layak untuknya.


"Ganti dulu bajunya. Ngga enak, ini siang." Ucap Alea lalu memberikan pakaianya kepada Nadia.


"Ini apart siapa? Lo tinggal disini sama siapa?" Jawab Nadia. Ia bahkan tidak menghiraukan pakaian yang di berikan oleh Alea.


"Ganti dulu bajunya. Abis ini lo makan, mandi, baru ceritain apa yang terjadi sama lo." Alea lalu menarik tangan Nadia, dan membawanya ke kamar mandi.


Sementara menunggu Nadia mandi, ia keluar dari kamarnya, menghampiri bu Marni yang tengah membuat kue di dapur.


"Mba, boleh minta bikinin jeruk hangat?" Pinta Alea yang kini berdiri di ambang pintu.


"Boleh dong cantik." Sembari tersenyum manis, perempuan paruh baya itu, lalu beranjak dari tempat duduknya, dan mengambil jeruk dari dalam kulkas. Tanganya begitu cekatan dan cepat saat membuat jeruk hangat itu.


"Ada pembantu?" Suara Nadia tiba-tiba terdengar dari belakang Alea.


Ia menoleh kaget, lalu mengajak Nadia untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak ingin melihat Nadia berbicara seenaknya pada mba Marni.


"Lo tunggu disini aja. Ngga usah keluar." Alea langsung menutup pintu kamarnya.


"Lo kenapa sih? Ini apart siapa? Ko sampe punya pembantu segala?"


"Ngga usah banyak tanya. Sekarang lo jelasin, lo kenapa? Dan ada apa? Siapa yang mau ngancam lo." Alea lalu mengunci pintu kamarnya dan duduk di tepian tempat tidur.


"Gue ketauan sama istrinya tamu gue semalam. Kita ngga sengaja ketemu di hotel. Terus gue di jambak. Untung gue lawan. Terus dia teriak ngancam gue gitu." Raut wajah Nadia terlihat kembali ketakutan saat menceritakan kejadian yang terjadi padanya.

__ADS_1


Tidak berselang lama, suara ketukan pintu terdengar. Alea beranjak dari tempat duduknya, dan membuka pintu, lalu mengambil jeruk hangat dari mba Marni, dan kembali menutup pintu kamarnya.


"Ini minum dulu." Alea lalu memberikan jeruk hangat itu pada Nadia. Dan ia kembali duduk di samping Nadia. Meskipun ia masih terpikir dengan toko kue yang tadi, tapi ia harus membantu Nadia terlebih dulu.


"Thanks ya. Eh, ini rumah siapa sih? Maksud gue, apart siapa?" Nadia kembali beranjak dari tempat duduknya dan melihat semua barang yang ada di kamarnya. Tentu saja barang mewah, yang Adila belikan untuk Alea.


Tapi Alea tidak mau memberitahu Nadia tentang Adila dan apartment nya ini. Apalagi tentang toko kue dan barang mewah lainya, yang ada dirumah ibunya saat ini. Ia memilih berbohong, dan mengatakan jika ini Apartement saudaranya.


"Sejak kapan lo punya saudara kaya? Perasaan hidup lo, dari rulu gitu-gitu aja." Dengan senyuman mengejek, Nadia duduk kembali di tepian tempat tidur.


Ungung saja, malam ini, Adila tidak pulang ke apartment. Jika tidak, ntah apa yang Nadia katakan pada Alea.


Namun tidak berselang lama, samar Alea mendengar suara Adila yang memangiil dirinya.


"Hah? Sayang siapa itu?" Ucap Nadia sembari menatap Alea.


"Lo tunggu be..." Belum selsai Alea berbicara pada Nadia, tiba-tiba sahabatnya itu langsung menyelonong keluar begitu saja.


"Boleh ya mas, aku tinggal disini?" Rengek Nadia dengan gayanya yang centil.


"Sayang boleh ngga?" Tanya Adila yang kini masih di peluk oleh Nadia, lalu menatap Alea.


"Pasti boleh dong. Alea kan teman aku." Jawab Nadia dengan gaya centilnya.


"Kalau saya, terserah Alea saja. Kalau dia mau, ya silahkan saja." Ucapan Adila sama sekali tidak tegas. Padahal Alea, menginginkan Adila bersikap tegas dan menolak permintaan Nadia. Meski Nadia adalah sahabatnya.


"Makasih mas Dila." Satu kecupan manis mendarat di pipi Adila begitu saja. Nadia lalu melepaskan pelukanya, dan kembali ke kamar. Baru kali ini, Alea melihat Nadia secentil seperti sekarang ini. Ia benar-benar merasa jengkel dan kesal.


"Cemburu?" Adila lalu menarik tangan Alea ke dalam pelukanya. Kecupan manis mengujani wajah Alea begitu saja. Dan kali ini, Alea sama sskali tidak melawan.


Setelah puas mencium wajah Alea, Adila lalu melepaskan pelukanya, dan mengajaknya duduk di sofa. Barang yang Adila bawa saat ini sangat banyak.

__ADS_1


"Aku bawain baju sama makanan dari Bandung, untuk kamu. Kamu pasti suka." Ucap Adila lalu memberikan paper bag yang ia bawa pada Alea.


Namun Alea kembali, teringat akan toko kue yang tadi ia datangi. Ia lalu menatap Adila dengan wajah kesal.


"Ada apa sih cintaku?" Tanya laki-laki tampan yang kini ada di hadapanya. Ia lalu kembali mencium bibir Alea tanpa permisi. Kebiasaan yang selalu membuat Alea kaget sekaligus campur senang.


"Kamu beliin ibu ku toko kue? Maksudnya apa sih? Kenapa ngga bilang dulu sama aku?" Ucap Alea dengan wajah serius.


"Kan surprise sayang. Masa surprise harus bilang."


"Bisa ya, kamu bilang itu surprise. Padahal yang kamu kasih itu toko, bukan kue nya."


"Itu supaya ibu kamu, calon mertua ku, ngga perlu susah cari uang. Kalau ada toko, ngga perlu lagi kamu kerja. Alasan kamu kerja, bukanya untuk membantu ibu sama adik kamu? Nah sekarang, mereka udah ngga perlu susah lagi." Jelas pria tampan yang kini ada di hadapanya, sembari mencium pipinya kembali.


Tidak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Seperrinya, bukan tamu biasa, karena dari ketukan pintunya sendiri terdengar sangat kasar.


"Siapa?" Wajah Alea terlihat ketakutan. Karena ia takut, jika yang datang adalah istri, ataupun pacar Adila.


Bu Marni yang kini berada di dapur, langsung berlarian membuka pintu.


"Mana si pelakor itu!" Teriak perempuan yang menyembul dari balik pintu, dan langsung mendorong bu Marni sampai jatuh.


Alea dan Adila beranjak lalu menghampiri Bu Marni.


"Dasar pelakor!!" Perempuan itu langsung menampar Alea tanpa peduli dengan Adila.


Ntah siapa perempuan ini, tiba-tiba datang begitu saja, dan membuat keributan. Padahal keamanan apartment ini sudah yang paling bagus.


"Kurang ajar!! Kamu siapa?!" Bentak Adila lalu perempuan itu, dan mendorongnnya.


"Perempuan ini yang pelakor! Dia udah rebut suamiku!!"

__ADS_1


__ADS_2