CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM

CEO TAMPAN UNTUK WANITA MALAM
Part 16 | Terbongkar semua


__ADS_3

Kesabaran Alea sangat tipis. Niat hati ingin menunggu sampai esok pagi, tapi ia sudah tidak sabar, untuk mengetahui siapa perempuan yang berada di dalam apartment Adila. Dari wajahnya, bukan perempuan yang pernah melabraknya di parkiran mall tempo hari lalu.


Perlahan Alea berjalan mengjampiri pintu apartment Adila. Lima menit sudah ia berdiri mematung, sembari mengepalkan tanganya. Rasanya terlalu sulit untuk mengetuk pintu yang ada di hadapanya. Suaranya mendadak terasa berat.


"Lo bisa Lea!" Gumamnya sembari memejamkan matanya. Ia menarik nafas berat, lalu mengetuk pintu apartment itu dengan sangat kuat. Semua tenaga nya ia keluarkan, agar si pemilik apartment keluar.


"Bentar!" Teriak seorang perempuan dari dalam.


Jantung Alea kembali berdetak kencang. Ia takut jika perempuan ini tiba-tiba keluar tanpa busana, atau hanya memakai handuk saja. Pikiranya sudah sampai sejauh itu. Karena ia tau, Adila tipe orang seperti apa. Pikiranya selalu mes*m. Apalagi pakaian dua perempuan tadi terlihat sangat seksi dan menggoda.


"Iya siapa?" Tanya seorang perempuan yang berdiri di hadapan Alea


Ternyata dugaanya benar, perempuan itu hanya memakai handuk saja. Tanpa menjawab, Alea langsung menerobos masuk ke dalam, lalu melihat Adila tengah asik di pijat oleh satu perempuan.


"Oh jadi ini kelakuan lo!" Teriak Alea.


Adila dan Mika tersentak kaget, lalu menoleh ke arah Alea yang kini berdiri di hadapan mereka. Perempuan yang tadi membuka pintu untuk Alea, berlarian menyusul Alea masuk ke dalam.


"Mba ngga boleh masuk. Ayo keluar!" Ajak perempuan itu lalu menarik tangan Alea.


"Lepas!" Bentak Alea lalu menepis tangan perempuan itu.


Adila yang sedang asik di pijat, ia berdiri lalu membenahi handuknya. Ntah apa yang merek lakukan. Sampai semuanya memakai handuk yang sama, dan duduk di ruang tamu di temani sebotol wine di atas meja.


"Sayang, ko kamu disini?" Tanya Adila lalu menghampiri Alea.


"Lo diem!!! Mulai sekarang, gue bukan siapa-siapa lo lagi!!" Jawab Alea dengan suara lantang. Ia lalu keluar dab berlarian kembali ke apartment miliknya. Air matanya terus mengalir begitu saja. Belum ada hubungan apapun saja sudah sesakit ini.


Sesampainya di apartment, ia langsung menganti pakaianya, dan membawa tas miliknya. Malam ini, hatinya benat-benar terasa hancur. Setelah apa yang ia berikan untu pria bernama Adila.

__ADS_1


"Sayang kamu mau kemana?" Tanya seorang pria yang tak lain adalah Adila. Kini ia berdiri di hadapan Alea. Pakainya terlihat acak-acakan. Sepertinya ia buru-buru mengganti pakainya, lalu menyusul Alea ke apartment.


"Jangan panggil gue sayang lagi! Lo bukan siapa-siapa gue!!" Bentak Alea dengan berurai air mata.


Adila mencoba menahan lengan Alea, dan membawanya ke dalam pelukanya. Namun Alea menolak, dan menginjak kaki Adila.


"Gue ngga sudi di panggil sayang, sama cowo murahan kaya lo!" Bentak Alea sembaro menunjuk wajah Adila.


Ia lalu keluar dari kamar dengan langkah tergesa-gesa. Mendengar keributan yang terjadi, bu Marni keluar lalu menghampiri Alea. Ia sempat menahan Alea untuk tidak pergi, tapi ia gagal. Hingga akhirnya, Alea pergi berparian keluar. Dari belakang, Adila terus berusaha mengajar Alea.


"Tunggu!!" Ucap Adila yang berhasil mengenggam tangan Alea. Nafasnya tidak beraturan. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Nafasnya bau alkohol. Sepertinya ia telah minum wine yang ada di meja tadi.


"Please dengerin aku. Kamu salah paham. Aku ngga seperti yang kamu bayangin." Lirih suara Adila terdengar putus asa.


Namun hati Alea sudah terlanjur sakit melihat apa yang terjadi tadi. Ia mencoba menepis tangan Adila kembali. Tapi kali ini genggaman tangan Adila sangat kuat.


"Tolong lepas! Please jangan ganggu aku." Ucap Alea lirih. Air matanya terus mengalir di pipinya.


"Bukan. Tolong kamu dengerin aku dulu."


"Ngga perlu! Tolong lepasin, aku mau pergi!"


"Ngga! Saya ngga akan lepasin kamu." Adila kembali menarik tangan Alea dan membawanya ke dalam pelukanya.


Keduanya kembali berpelukan di plataran parkir. Meski tangis Alea masih terus mengalir di pipinya. Rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Kita ke dalam lagi yah. Kita bicara di dalam." Ajak Adila. Ia berusah membujuk Alea dengan lembut. Karena ia tau, ia salah.


"Aku mau ke tempat kamu tadi!" Jawab Alea lalu melepaskan pelukanya.

__ADS_1


Adila terdiam sejenak. Wajahnya terlihat bingung. Ntah apa yang sedang ia sembunyikan.


"Kenapa? Ngga berani?" Tanya Alea "Kalau ngga berani, biarin gue pergi, dan jangan kejar gue lagi!" Tukasnya.


"Oke! Oke! Aku bakalan bawa kamu kesana." Adila lalu menarik tangan Alea, dan membawanya ke apartment miliknya.


Tapi sayang, saat mereka masuk, suasananya sudah sepi. Mika dan kedua perempuan itu sudah tidak ada disana. Hanya botol wine dan gelas, serta bungkus roko yang berserakan di atas meja.


"Udah lo suruh pergi? Hebat banget ya, disaat gue ngga mau layanin lo, lo cari kepuasan di luar! Mau lo apa sih hah?" Teriak Alea lalu memukul dada Adila dengan sangat kuat.


Tidak ada jawaban apapun dari Adila. Ia hanya memeluk Alea dan mengusap kepalanya dengan lembut. Pria yang kini berada di hadapanya, memang tidak bisa di tebak. Terkadang ia baik seperti malaikat, namun sesaat kemudian, ia akan berubah seperti iblis yang menyakiti hati Alea.


"Kenapa kamu lakuin ininsama aku?" Tanya Alea lirih. Ia sudah tidak bisa berkata apapun lagi.


"Belum saat nya aku cerita sama kamu. Tapi yang jelas, kamu adalah orang yang aku cintai dsngan tulus. Jangan tanya kenapa." Jawab Adila. Ia lalu melepaskan pelukanya dan menghapus air mata Alea.


"Udah ya. Jangan nangis lagi. Aku bawain air minum bentar." Dengan cepat Adila bergegas ke dapur.


Pandangan Alea kembali teralihkan saat melihat sebuah foto Adila dengan seorang perempuan, yang terpampang jelas di dinding. Alea berjalan dan melihat foto itu dari dekat. Seorang pria dan wanita, dengan pose mesra, yang sepertinya foto praweding.


"Sayang minum du..." Adila menghentikan ucapanya lalu mengambil foto itu dan membuang nya keluar.


Percuma saja, Alea sudah melihat foto itu. Meski Adila membuang nya.


"Jadi, perempuan yang nyiram aku di mall kemarin, dia istri kamu?" Tanya Alea.


"Ngga usah dibahas ya. Minum dulu. Kamu pasti capek." Adila memberikan segelas air mineral pada Alea. Namun tanpa di duga, Alea malah melemparkan gelas itu ke dinding hingga pecah.


"Jawab aku!!" Teriak Alea yang kembali menangis pilu.

__ADS_1


"Beb, udah dong. Jangan gini!" Jawab Adila. Ia meremas kepalanya, dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Dasar bajingan!! Penghianat!!"


__ADS_2