
Ntah keberuntungan ataukah kesialan yang menimpa Alea malam ini. Di hari keduanya bekerja, ia harus mengalami nasib sial seperti ini. Ia hampir saja di jual oleh manager nya sendiri, pada pria tua hidung belang. Beruntung, Adila datang tepat waktu.
Kini Alea duduk bersama Adila di sofa paling ujung. Sofa paling besar dan mewah, berbeda dengan meja-meja yang lainya.
Malam ini, Alea harus melewatkan satu sesi pekerjaanya. Ia harus menemani Adila minum di sofa nya. Wajahnya masih terlihat kesal. Bahkan tidak ada pembicaraan apapun dari keduanya.
"Lea, kamu nyanyi ya. Aku mau ke room soalnya." Bisik seorang wanita yang tiba-tiba datang menghampirinya. Perempuan itu partner menyanyi Alea.
"Boleh." Jawab Alea sembari tersenyum manis.
"Bang, Alea nyanyi gantiin aku di sesi ini ya. Ini terkahir ko, abis ini Alea udah boleh pulang." Ucap perempuan itu pada Adila.
"Boleh. Silahkan." Jawab Adila. Ia masih terlihat sangat dingin. Tidak seperti Adila yang ia temui saat di hotel.
"Makasih bang." Ucap perempuan itu sembari menganguk sopan. "Ayo Lea, kamu udah mau mulai." Ajak perempuan itu lalu menarik Alea ke panggung. Alea bahkan belum sempat pamitan pada Adila.
Dengan mood yang masih berantakan, Alea harus menghibur para tamu dengan suaranya yang merdu. Ia harus pura-pura tersenyum manis, seolah tidak ada beban.
Di tengah-tengah ia menyanyi, ia melihat di sofa Adila sudah ada perempuan yang kini duduk bersamanya. Fokus Alea menjadi teralihkan. Ia ingin segera turun dan menghampiri Adila.
"Lea, ada request. Dari sofa pak Adila." Teriak seorang waitres.
Request lagu memang sudah biasa, dan sebagai penyanyi, Alea harus turun panggung, untuk memberikan microphone nya pada tamu yang meminta request lagu.
Dengan langkah gontai, Alea menghampiri meja Adila, yang kini tengah duduk bersama perempuan. Sepertinya perempuan itu yang bekerja di club malam itu.
"Nyanyi lagu apa sayang?" Tanya perempuan itu sembari merangkul Adila.
Alea benar-benar risih melihat dua orang yang kini ada di hadapanya itu. Bahkan Adila sama sekali tidak melawan, saat perempuan itu merangkulnya dengan mesra.
"Apa aja." Jawab Adila dingin.
"Ya udah, aku nyanyi disana ya. Eh, jangan goda tamuku ya." Ucap perempuan itu pada Alea. Ia lalu berjalan ke atas panggung, meninggalkan Alea dan juga Adila.
__ADS_1
Saat Alea hendak pergi, tiba-tiba Adila menarik tangan Alea, sampai ia terjatuh di pangkuan Adila.
"Cemburu?" Bisik Adila sembari memeluk Alea.
"Lepas! Aku ngga sudi di peluk laki-laki gatal kaya kamu!" Jawab Alea sembari berusaha melepaskan pelukan Adila.
"Aku ngga gatal. Perempuan itu yang gatal. Dia datangin aku kesini." Ucap Adila lagi.
Alea sama sekali tidak peduli, ia berusaha melepaskan pelukan Adila. Namun tenaganya tak cukup kuat. Sampai akhirnya ia hanya bisa pasrah.
Tidak berselang lama, dua orang laki-laki seusia Adila datang menghampiri Adila.
"Weh, udah duluan aja si Bro." Sapa pria yang memakai baju kaos hitam. Ketiga pria itu terlihat sangat tampan. Wanginya semerbak. Sepertinya mereka sahabat Adila.
"Minum. Lo udah telat 2 jam!" Ucap Adila lalu memberikan segelas minuman pada pria itu.
"Baru datang gue Dil. Jangan langsung di kasih ini dong. Kenalin dulu cewenya siapa." Jawab Pria itu dengan tatapan mesum melihat Alea.
"Jangan macem-macem! Lo minum, atau gue laporin Bianca!" Bentak Adila.
"Ini yang tadi malam lo bawa ke hotel? Pantesan aja, nyokap gue liat lo keluar dari kamar." Tanya pria yang memakai kemeja hitam.
"Udah, gue undang lo kesini, bukan untuk tanya-tanya soal gue. Gue minta lo kesini, buat temenin gue happy. Lo mau perempuan? Biar gue kasih. Mau berapa? Dua, tiga?" Jawab Adila. Gayanya menawarkan perempuan, sudah seperti tengah menawarkan barang.
Tidak berselang lama, perempuan yang tadi bersama Adila, sudah kembali. Ia baru saja selsai bernyanyi. Ia kaget saat melihat Adila sudah berpelukan dengan Alea.
"Loh? Lo bisa minggir ngga?" Ucap perempuan itu pada Alea.
"Jangan sentuh dia!" Jawab Adila dengan tegas.
Suara musik Disk jockey mulai terdengar. Sehingga mereka harus kembali berteriak untuk saling berbicara satu sama lain.
"Sini cantik. Mendingan sama aku aja." Ucap pria yang memakai kaos hitam.
__ADS_1
"Itu Mika. Dia teman saya. Malam ini, kamu temenin dia." Jawab Adila.
Meski masih kesal, karena sepertinya perempuan itu ingin duduk di samping Adila, namun akhirnya ia berpindah tempat dan duduk di samping pria bernama Mika itu.
Tanpa segan, Mika langsung merangkul perempuan itu. Pakaianya yang seksi, membuat Mika leluasa. Bahkan perempuan itu tidak melawan sama sekali, saat tangan Mika mengenai dada nya.
"Jangan murahan kaya dia. Kamu cuma punya aku." Bisik Adila pada Alea.
Tanpa di bilang seperti itupun, Alea sudah tau apa yang harus ia lakukan. Melihatnya saja, Alea sudah jijik. Apalagi harus melakukan hal itu.
"Minum dong." Ucap Mika pada perempuan itu.
"Lo mau cewe juga?" Tanya Adila pada pria yang duduk di samping nya.
"Gue mau ke toilet bentar." Jawab pria itu lalu bergegas pergi begitu saja. Sepertinya pria itu tengah mencari seseorang.
"Kamu ngga minum lagi?" Bisik Adila dengan suara lembut.
"Ngga! Aku ngga mau tidur di hotel lagi." Tolak Alea dengan tegas.
"Minum, atau ngga minum, kamu tetap akan temenin aku di hotel. Karena kamu sudah menjadi milik aku." Ucap Adila lalu mencium pipi Alea. Ia kembali melingkarkan tanganya di perut Alea.
"Sawer dong!!" Teriak perempuan yang ada di samping Alea. Sepertinya ia sudah mabuk berat. Padahal ia baru saja meminum dua gelas.
"Sawer Mik. Jangan buat malu." Ucap Adila sembari tertawa puas.
"Oke. Gue sawer. Tapi gue mau simpen di sana duitnya." Jawab Mika menunjuk dua dada gadis itu, yang terlihat sangat jelas.
"Oke. Sini masukin." Teriak perempuan itu lalu membusungkan dadanya. Tanpa menunggu lama, Mika memasukan lima lembar uang pecahan seratus ribuan ke dalam dada Perempuan itu. Keduanya lalu tertawa puas, dan saling berciuman.
Rasanya sungguh miris, padahal mereka baru saja saling mengenal.
"Kamu mau? Disini, atau disini?" Tanya Adila dengan sesuka hatinya, mengenggam dada Alea lalu berpindah ke bagian inti tubuh Alea.
__ADS_1
"Apaan sih!" Jawab Alea lalu menepis tangan Adila. Laki-laki ini sudah sangat kerterlaluan.
"Ngga usah marah dong. Kamu kan udah aku bayar. Malam ini, kamu jadi perempuan open BO dulu."