Cerai Muda

Cerai Muda
kemarahan abian satria mahendra


__ADS_3

**Jangan lupa selalu dukung karya ku dengan cara :


-Selalu beri jempol


-Selalu beri vote


-Selalu beri rate


* juga komentar kalian yaaa.......


*biar aku semangat up nya....


jangan lupa readers dukung karya ku ini...


makasih**....


-"mas.... bangun... mami udah nunggu kita di bawah... " alina menguncang-guncang pelan tubuh bian . bian mengerjapkan mata nya. dan beranjak bangun dari sofa.


"kamu turun duluan aja... aku mau mandi dulu" kata bian tiba-tiba menyambar bibir alina dan berjalan ke kamar mandi meninggalkan alina yang mematung di sana.


"kau kembali seperti dulu mas... " gumam alina dalam hati... tangan nya memegangi bibir nya sendiri, dia benar-benar tak percaya kebiasaan rutin yang hilang kini hadir kembali.


selesai membersihkan diri bian keluar dengan lilitan handuk di pinggang... dan alina tetap dalam posisi yang sama. bian mengerutkan dahinya "apa yang terjadi padanya? " kata bian dalam hati sambil mengambil pakaian santai nya.


"a ... aa……mas... aku ambilin baju nya ya " Tiba-tiba alina tersadar dari lamunan nya.


"tidak usah... disini gak ada baju ku.. biar aku ambil sendiri ke kamar kinan" kata bian berlalu membuka pintu kamar dengan hanya mengenakan handuk dengan rambut yang masih basah.


bian menuruni tangga... Rata-rata pelayan rumah itu perempuan dan kini di buat nya menganga... melihat tubuh kekar bian yang hemmm bikin cewek-cewek klepek-klepek...


tok…tok…tok…

__ADS_1


"sayang.... " bian memanggil nya


tak ada sahutan. bian mencoba mengetuknya lagi. tapi tetap tak ada sahutan. akhirnya bian membuka dan pintu itu tidak terkunci . perlahan melangkahkan kaki nya, mata nya menyapu seluruh ruang kamar kinan tapi orang yang di carinya tak ada. bian mengecek kamar mandi pun tak ada. bian segera berpakaian dan keluar kamar berharap kinan sudah menunggu nya di meja makan.


bian menuju meja makan. semua kursi sudah terisi namun kursi kinan kosong. "mi... kinan mana... dari siang bian pulang kok gak kelihatan??" tanya bian yang masih berdiri di belakang kursi.


"itulah bi... selama kamu gak ada kelakuan istri kesayangan mu itu kluyuran. padahal mami dah ngingetin dia" jawab sang mami


"gak mungkin mi... bian kenal siapa kinan" bantah bian


"ya udah kalau kamu gak percaya" kata mami cuek


bian meninggalkan meja makan dengan kekesalan yang entah mau di tujukan pada siapa. kini di ruang keluarga ia duduk sendiri memenangi benda pipih nya.. berkali-kali ia menghubungi kinan tapi nomor nya tidak aktif. semakin gusar gelisah khawatir bercampur aduk.


Tiba-tiba dari arah luar terdengar suara motor. bian mengintip dari balik jendela samping pintu.


"makasih kak... udah nganterin aku" kata kinan


"iya Sama-sama, ini rumah suami mu kinan??" tanya dika sambil melihat betapa luasnya halaman rumah itu, berarti kinan menikah dengan orang kaya.


"lain kali aja... ini dah malem. kamu kan harus istirahat. jaga kandungan mu baik-baik ...salam untuk suami mu. kakak pulang dulu. assalamu'alaikum" dika pamit dan reflex mengelus perut kinan.


"wa'alaikumussalam" sahut kinan


dari kejauhan bian mengepal tangan nya pertanda ketidak sukaan nya melihat istrinya dengan laki-laki lain. "kinan... !"ucap nya menahan emosi yang memuncak.


dika berlalu menghilang dari pandangan kinan. kinan berbalik melangkah kan kaki memasuki halaman rumah mertua nya.


"malam pak asep" sapa kinan pada satpam rumahnya


"malam non kinan" sapa balik

__ADS_1


ketika membuka pintu utama baru selangkah kakinya menginjak lantai rumah tiba-tiba terhenti.


"dari mana kamu??!" tanya bian dengan nada tinggi dan tatapan tajam penuh dengan amarah.


kinan hanya menunduk diam tanpa suara


"jawab !!!!" bian membentaknya mencengkram kedua pundak kinan dengan tangan kekarnya.


"hiks…hiks…hiks…"kinan hanya menangis


"jawab kataku……!!!" Lagi-lagi bian mencengkram kedua pipi kinan dengan keras nya.


"dan siapa laki-laki yang mengantarmu ??!!!! jawab kinan... !!!" teriakan bian .


plak…plak… bian menampar kinan. tapi tak ada jawaban


"hiks…hiks…" menangis dan menangis yang bisa kinan lakukan.


karena kesal bian menyeret kinan ke kamar mandi belakang. hanya tangisan kinan yang terdengar memilukan.


mereka tak ada yang berani melawan kemarahan bian. mamipun tak peduli dengan apa yang terjadi pada kinan. bahkan mami menahan alina agar tak ikut campur urusan bian dan kinan.


sesampainya di teras belakang. bian menghempaskan tubuh kinan ke tembok. bian benar-benar terbakar emosi sampai-sampai ia lupa kinan sedang hamil tua. kinan jatuh tersungkur ke lantai. para pelayan pun tak bisa berbuat apa-apa.


sudut bibir kinan berdarah akibat tamparan keras suaminya. dan pipi kinan terdapat bekas tangan bian.


"dari mana... ???!!!dan siapa laki-laki itu??" bian mencengkram kinan lagi.


kinan menangis... bian menampar nya lagi dan lagi.


"tuan.... jangan sakiti non kinan... " bik ira memeluk kinan menghalangi dari pukulan bian. bik ira pun menangis tak tega melihat kinan penuh luka lebam.

__ADS_1


tak berhenti disitu bian menguyur kinan dengan air dan menyeretnya ke kamar mandi belakang menguncinya. bik ira meraung memohon pada bian agar membuka pintunya.


"tuan... biarkan saya mohon... jangan sakiti non kinan" bian benar-benar di kuasai amarah hingga tak dapat berfikir jernih. ia kalap saat itu. makin lama suara tangisan kinan makin melemah.... bian meninggalkan bik ira yang bersimpuh di lantai.


__ADS_2