Cerai Muda

Cerai Muda
mautlah yang akan memisahkan kita


__ADS_3

maaf y readers lama up nya coz aq nya sakit... ni aja masih belum sembuh total... tapi aq coba up lg demi kalian para readers...


-


****jangan lupa selalu dukung karya ku ini****...


beri komentar kalian biar aq semakin semangat.


-


-


"seharusnya kau tidak menerima perjodohan kita dulu" kata bian


"aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihat mu bi... " kata alina dengan wajah memelas


"terus kenapa kamu tidak menolak nya??"tanya alina


"orang tua ku mengancam ku" jawab nya datar


"tapi jika kamu gak cinta ma aku kenapa kau melakukan nya??" alina menitiskan air matanya


"aku sudah bilang itu kewajiban ku sebagai seorang suami dan memenuhi permintaan orang tua kita yang selalu menunggu keturunan kita" bian berkata dengan tatapan tajam


"aku berusaha mencintai mu tapi tetap tidak bisa" sambung bian dan meninggalkan alina yang merunduk di sofa.


bian berjalan menuju kamar kinan.


ceklek


suara pintu kamar terbuka. seketika obrolan mereka terhenti.


"maaf tuan saya permisi" pamit bik ira meninggalkan kinan dan bian berdua di kamar.


bian menghampiri kinan yang sedang rebahan di sofa. " kenapa rebahan di sini?? kenapa gak di tempat tidur saja" kata bian dengan kelembutan


"aku ingin nya disini mas" jawab kinan

__ADS_1


"anak ayah lagi apa sekarang?"" tanya bian mendekatkan wajah nya ke perut buncit kinan dan mengelus nya.


"lagi istirahat yah" suara kinan menirukan suara anak kecil


cup


bian mengecup bibir ranum kinan. "kamu mengemaskan sekali sayang" ucap bian


"ngemesin Apa mas nya yang mesum??" ledek kinan


entah kenapa setiap bian berada di samping kinan... bian bisa tertawa riang... sosok kinan mirip dengan arifa. tak banyak nuntut. menerima apa yang bian lakukan.


"yank jangan tinggalin aku" bian memeluk kinan begitu erat


"kau ini kenapa mas... seperti akan pisah lama saja" ucap kinan melepaskan pelukan bian.


bian menakup wajah kinan dengan kedua tangan nya "kamu janji akan menunggu ku sampai aku kembali,, hehh??"


kinan tersenyum "jika ini pertemuan terakhir kita... aku berharap maut lah yang akan memisahkan kita"


bian melepas tangan nya dan menyenderkan tubuhnya di sofa. "kenapa kamu bilang begitu?? aku tidak suka itu" bian merasakan kesedihan entah karena apa dan datang dari mana rasa itu muncul.


"jika nanti anak lahir aku akan memberikan dia nama kiabi mahendra... " kata bian


"bagus mas nama itu" kinan menanggapi


dua jam kemudian bian pergi ke bandara di antar pak ari. sebelum nya bian berpesan pada bik ira untuk melindungi dan menjaga kinan karena bian merasa akan ada sesuatu.


kini bian sedang di pesawat menuju London mengurus perusahaan ayah nya.


kediaman mami


alina mondar-mandir entah memikirkan apa.


sedang kan mami sibuk dengan ibu-ibu arisan nya.


tok…tok…tok…

__ADS_1


"siapa ??" tanya alina dari dalam kamar


"aku mbak, kinan" Jawab kinan dari balik pintu


alina membuka pintu" ada apa kamu kemari?!" tanya alina ketus


"mbak belum makan dari tadi siang, aku takut mbak sakit" jawab kinan


"eh.. kinan hati ku lebih sakit ,,, semenjak mas bian menikahi mu" alina menunjujk-nunjuk kinan dengan tatapan sadis


"maafin aku mbak... "kinan menundukkan wajahnya.


plak....


kinan tersungkur ketika alina menampar nya. karena sebenarnya keadaan kinan sedang tidak stabil. badan nya lemah. hanya di hadapan bian ia mencoba kuat menahan nya. -


-


bersambung....


-


-


-


-


**Terima kasih ya readers


jangan lupa selalu dukung karya ku ini


berikan jempol,


berikan vote


juga berikan rate

__ADS_1


dan tinggalkan komentar kalian yaaaaa**......


__ADS_2