
***
Pagi tiba di kediamana Yohanes Buana Wijaya Kusuma. Pagi ini, Hans baru terbangun dari lelapnya. Ia tidur di kamar yang berbeda dengan Kania, sampai saat ini... rupanya Hans belum mau menerima kehadiran Kania di rumah itu. Hingga disiapkanlah kamar khusus untuk kania di lantai dua.
Tok! Tok! Suara pintu di ketuk. Hans segera mengingsrutkan tubuhnya untuk bersandar di bantal empuknya.
"Masuk!" Jawab Hans ketus. Lalu seseorang dari luarpun mulai masuk ke kamar megah sang tuan muda kejam itu.
"Pagi tuan bos. Apakah semalam anda tidur dengan nyenyak?" tanya Richi menyambut sang tuan muda dengan segelas susu hangat.
"Nyenyak apa nya? Gara-gara wanita sial itu, aku jadi terjaga sepanjang malam" omel Hans membuang wajahnya begitu saja. Richi terkekeh "Hmmm... syukurlah, tuan sudah mulai membuka hati dan mau memikirkan nona Kania sepanjang malam" komen Richi menyangkut pautkan.
"Sial! Tutup mulutmu... aku tak mau mendengar nama itu di sini. Jangan salah paham... yang mengganggu pikiranku bukanlah wanita sial itu! Tapi..." Hans lekas menahan kalimatnya.
"Tuan, anda akan sangat melukai nona Marsha dengan sandiwara anda yang seakan-akan anda bukanlah milik nona Kania..." Jelas Richi menasihati. Hans balik marah dan mencaci Richi "Ini bukanlah urusanmu... Antara aku dan Wanita sial itu, itu semua adalah Aib yang harus di sembunyikan. Jika sampai kekasihku tahu, hubungan antara aku dan wanita itu... Maka! Ku habisi semua!" Jelas Hans seraya merubah posisinya ke duduk dan mulai turun dari ranjang megah itu.
Hans lekas melangkah tegas, Hans berlalu begitu saja melewati Richi dengan sebuah delikan tajamnya "Ingat ini Richi, Aku menghormatimu dan segala patuhanmu... jika sampai kamu ikut campur dalam urusan ini. Maka aku tak akan segan mengganti mu dengan yang lain. Camkan ini" jelas Hans seraya berlalu, tatapan dingin dan kejam itu tak pernah di perlihatkan pada siapapun sebelumnya. Tapi kali ini, Hans sungguh serius, ia tak ingin menerima apapun alasan tentang Kania.
Hans lekas masuk ke Bath room dengan menutup pintu sekeras mungkin Blam!!! Seketika Richi paham suasana hati Hans saat ini. Richi mematung di ruang megah itu, ia heran pada kelakuan tuannya yang tidak baik saat ini.
Tuan muda sedang amat marah sekali pagi ini... Apa yang terjadi semalam ya hingga ia begitu sangat marah sekali. Bathin Richi menggumam.
Dalam Bath Room...
Ssssssrrrrsss
Air sawwer mengguyur tubuh kekar yang saat ini tengah telanjang bulat itu. Punggung berotot yang putih mulus tanpa cacat terlukis indah ketika beberapa air menetes membasahi kulit mulusnya.
Hans tampak termenung di bawah guyuran air hangat tersebut, pikirannya berputar-putar mengingat satu wanita yang paling ia cintai. Hans tak habis pikir, rencana yang telah ia susun untuk merayu Marsha agar ia tak lepas dari gengamannya malah berujung menyakitkan.
Sial! Apa yang sudah aku lakukan?! Seharusnya aku tak menggendong wanita sial itu di depan Kekasihku. Jika tahu begini... sedari awal, aku buang saja dia ke hutan... agar dia tak bisa menemukan kediamanku Bathin Hans mengoceh.
Padahal Hans semalam berjibaku mencari jejak Marsha. Bahkan ia menyambangi kediaman Marsha yaitu masion yang ia beli dengan uang dari Hans. Tapi tetap saja, Hans sama sekali tak bertemu dengan wanita itu. Hingga Hans terus menerus menyalahkan Kania dalam sagala permasalahannya.
"Wanita busuk! lihat saja akan ku buat kamu menyesal atas keonaran yang telah kau lakukan!" Bentak Hans memukul dinding kamar mandi tersebut dengan segenap amarahnya.
__ADS_1
Usai membersihkan diri, Hans keluar dari Bathroom dan kembali ke kamarnya lalu ia masuk ke ruang ganti yang bersampingan dengan kamarnya. Ia membenahi diri dan memilah pakaian yang akan ia pakai saat ini. Setelah tubuhnya nyentrik dengan balutan kaian elegan. Ia pun lekas turun ke lantai bawah untuk sarapan.
Hans berjalan terburu-buru dengan stelan kantornya. Kemeja biru dengan dampingan jas biru dongker membuatnya sangat tampan. Apa lagi, celana katton ketat dan pentopel hitam menambah kesan kegagahan pria itu. Lilitan dasi motip kotak-kotak berwarna hitam dan putih makin menambah pesona hans.
Hans mulai ada di lantai bawah, beberapa pelayan menyambut tuan tersebut. Beberapa ada yang meraih tas tuan muda itu dan beberapa ada yang menjamunya menuju ke meja makan.
"Apa menu hari ini?" tanya Hans.
"Anda bisa memilihnya sendiri tuan muda" jawab kepala pelayan Yan. Yan itu nama orang ya Guys.
Hans mulai berpikir, tapi selagi ia berpikir. Ada sesuatu yang membuat hidungnya mencium bau yang cukup menggoda.
"Wangi apa ini? Belum pernah tercium sebelumnya?" tanya Hans mengendus-endus seraya memejamkan matanya seakan membayangkan rasa dari masakan itu.
Tiba-tiba Richi datang dan menjelaskan sekejul hari ini "Tuan muda. Pagi ini anda ada meetting dengan perusahaan The Bost... Pertemuannya di jadwalkan pukul 08.30 wib" Jelas Richi. Hans lekas membuka matanya yang tak sabar ingin ******* makanan yang menurutnya menggoda itu.
"Mmmh... aku tahu, Richi... rasanya aku ingin makan sesuatu. Tiba-tiba saja perutku lapar setelah mencium bau masakan ini... Apakah kau menciumnya juga?" Tanya Hans menatap sayu ke Richi. Richi pun tersenyum dan mengangguk "Ya tuan. Tadi saya sudah makan duluan... dan rasanya enak sekali" jawab Richi inisiatif.
"Bawakan aku... makan dengan aroma ini. Tiba-tiba perutku tak sabaran sampai-sampai liurku menetes begini" Ocehnya meraba-raba bibirnya dan menggenggam sendok di depannya.
"Silahkan tuan... Anda akan sangat menyukainya" jelas Kepala pelayan Yan. Salah satu pelayan lain menyajikan nya di depan tuan arogan itu. Lalu membuka tutupnya "Silahkan di nikmati tuan..." jelas pelayan lain.
Hans mulai menatap ke arah piring di depannya "Makanan apa ini? belum pernah aku melihat makanan berminyak seperti ini. Tapi aromnya sangat menggoda" bathin Hans.
"Makanan apa ini Richi... belum pernah aku melihat yang seperti ini?" tanya Hans. Richi pun tersenyum.
"Kepala pelayan. Silahkan anda jelaskan pada tuan muda menu apa ini..." Pinta Richi mempersilahkan.
"Ia tuan... Perkenalkan. Ini adalah menu baru di kediaman kita. Warna kuning pekat berasal dari kunyit yang di ulek hingga kalis. Lalu di taburi beberapa helai daun kemangi. Hingga wanginya sangat menyengat tapi menggugah selera. Tuan kunyit sendiri punya khsiat baik bagi lambung. Juga daging yang di masak hingga empuk trasa gurih. Sebab, bumbu rempah yang di masak bersama ayam akan terasa hingga kedalam dan meresap sempurna. Jadi, nama menu pagi ini adalah pepes ayam spesial..." jelas kepala pelayan. Hans mengagguk, ia mulai meraih serbet dan memasangnya di lehernya. Lalu mulai memegang garpu "Selamat menikmati..." Hans makan perlahan seraya merasakan ketika menu itu masuk di mulutnya "Tuan. Apakah anda suka?" tanya pelayan Yan. Hans mengangguk... beberapa sendok nasi mulai di campurkan. "Apaakah rasanya enak?" tanya Richi...?" Hans menjawab lagi-lagi dengan anggukan. Hans makan dengan lahap, bahkan piringnya hampir bersih tak tersisa.
"Rasanya enak... aku suka" balas Hans seraya sendawa.
"Syukurlah. Jika anda menyukainya..." Richi dan Yan tersenyum.
"Yan. Aku puas dengan layanan mu kali ini" Ucap Hans meraih ponselnya lalu menekan nya dengan cepat.
__ADS_1
"Terimakasih tuan jika anda senang saya pun ikut senang..." Balas kepala pelayan Yan seraya mengangguk kan tubuhnya.
"Klik! Sudah ku transper bonus tambahan bulan ini... spesial seperti masakan mu. Jadi aku beri hadiah 50 juta. Cek sekarang" jelas Hans mulai minum seteguk air lalu meletakan handpone nya dan merapihkan pakaiannya. Lalu mengelap sisa bumbu kuning-kuning yang terciprat di bawah bibirnya.
Kepala pelayan seketika melotot ketika Hans menagatakan hal tersebut "50 juta?" tanya kepala pelayan Yan. Richi pun sangat keget "Ia. Itu hanya sebagian... nanti jika kamu masak yang lebih enak dari itu ku tambah lagi 100 juta" Jawab Hans mulai berdiri dan membuang tisue bekas di piring.
"Ta-tapi tuan..." Yan mengelak.
"Apa?... kurang? mau ku tambah lagi?" Tanya Hans melirik pelan.
"bukan... maksud saya..." belum juga Yan menyelesaikan kalimatnya. Hans mulai menyela "Sudahlah aku ada meeting hari ini. Aku hanya mau bilang terimakasih itu saja sudah cukup..." Hans lekas melangkah.
Kepala pelayan pun mulai menjelaskan "Tapi tuan. Masakan tadi adalah buatan nona Kania. Ia memasak untuk kami semua... juga anda" Jelas Pelayan Yan lantang. Seketika Hans berdegug dan mematung. Langkahnya terasa berat dan ada perasaan jijik yang tiba-tiba keluar dari hatinya.
"Apa?!" hans berbalik dengan wajah merah merona juga mata yang membelalak.
"I-ia... tadi, setelah bangun tidur... nona Kania mengambil alih dapur. Hingga memasakan makanan tersebut untuk kami semua. Jadi, hadiah tersebut tak pantas saya terima "Jelas pelayan Yan. Hans makin naik pitam... Ia menutup mulutnya dan lekas berlari ke area Westafel dan muntah-muntah di sana "Uek!Uek!" Hans merogoh tenggorokannya dengan jemarinya. Hingga makanan yang baru ia makan keluar semua. Hans tak ingin ada sisa makan secuil apapun terendap dalam tubuhnya. Apa lagi makanan itu buatan wanita yang paling ia benci.
Di sela-sela kepanikan Hans, Seseorang datang dengan segelas air dan sebutir pil "Ini, minumlah... jika kau minum ini, semua makanan yang telah kau makan akan keluar dengan sendirinya dan nggak usah di tusuk pake jari" Jelas seorang wanita. Hans yang panik lekas meraih gelas dan pil tersebut tanpa menoleh. Ia pun meneguknya seketika "Maksih..." Imbuh Hans.
"Sama-sama. Tadi obat yang kamu minum adalah obat pencahar. Jadi, setelah kamu makan itu... pasti efeknya akan sangat ekstrim" Jelas seorang wanita.
Gluk! hans terlanjur meminumnya. Mendengar suara pamiliar itu, Hans lekas menoleh pelan seakan merinding.
Deg!
Setelah dua netranya menatap Jelas. Ia sungguh terlejut... "Ka-kau! kau memberiku obat pencahar?!" Hans syok dan amat panik.
"Ya. Bukankah kamu tak sudi makan masakan ku? jika di tusuk dengan jari... tenggorokan mu bisa terluka. Tapi jika di beri obat pencahar, seluruh isi perutmu pasti akan keluar dengan sendirinya..." Jelas Kania menantang suaminya.
"Ke-keterlaluan... Kau! kau brengsek! aku sungguh benci padamu!!!" Teriak Hans seraya berpaling dan pergi.
Kania tertawa tak henti, sementara Richi dan Yan tak bisa lakukan apapun selain ikut tersenyum melihat konflik yang terjadi di antaranya.
"Richi! ayo pergi!" bentak Hans. Pelayan pun memberikan tas Hans pada Richi dan Hans pun malangkah pergi, dengan rasa was-was di hatinya. Sebab hari ini di tengah-tengah jadwal yang padat. Ia harus berjibaku keluar masuk toilet hanya untuk membuang sisa masakan kania.
__ADS_1
Bersambung...