
***
Hans sudah pergi, Kania bahkan tak tahu jika suaminya telah pergi dari kamarnya dan menghilang. Ia hanya tahu jika hari ini ia akan ikut ke kantor Hans dan meminta cuti liburan satu minggu tour ke korea.
Kania mulai selesai membersihkan diri dan lekas keluar dari Bathroom. Ia mulai mencari pakaian yang pas untuknya... Tapi sayangnya, di lemari Hans tak ada satupun pakaian untuk wanita. Hingga Kania sedikit bingung "Kenapa tak ada pakaian untukku? Lalu aku harus pakai apa dong?" Kania bingung.
Saat ia sedang berfikir sejenak untuk keluar dengan pakaian apa. Ia baru sadar jika Hans menghilang dari kamar itu. Padahal netra Kania sudah sangat jeli... Ia sudah menyisir setiap sudut kamar itu, tapi netranya sama sekali tak mendapati tanda tanda adanya Hans.
"Mas? Kemana dia?" bisik Kania.
Kania hanya bisa menatap pakaian Hans yang tergeletak di bawah ranjang yang berserakan tak karuan.
"Mungkin Mas Hans sedang ngobrol di bawah" Bisik Kania. Bahkan Kania sama sekali tak menyadari jika Hans benar benar pergi ke tempat Marsha.
Kania yang masih mengenakan handuk kimono dan menutup rambut basahnya dengan handuk pun mulai meraih pakaian kotor Hans untuk menaruhnya di ranjang cucian.
"Mas mas... Kamu memang tampan, tapi sayang kamu itu jorok" bisiknya. Kania pun lekas meraup dengan tangannya. Lalu ketika ia mulai ngangkat tumpukan pakaian Hans itu, sesuatu mulai jatuh, titik fokus Kania pun teralihkan oleh sebuah ponsel yang jatuh tepat di bawah Kania "Eh... Ponsel itu..." Kania mengerutkan dahinya. Ia pun meraihnya perlahan "Ponselku?" Kania tampak senang, ia mulai mengembangkan pipinya.
"Oh syukurlah... Ku pikir ponselku hilang tapi ternyata ada di pakaian mas Hans... Syukurlah..." Kania masih senang dan tak menaruh curiga terhadap ponsel itu sama sekali.
"Coba ku lihat apakah kontaknya masih ada?" tanya Kania seraya mulai mundur ke arah ranjang lalu duduk di sana.
"Emmm... ada panggilan tak terjawab. Ini nomor tak di kenal... Siapa dia, kenapa sampai sampai menelponku beberapa kali. Apakah dia seseorang yang ku kenal?" Bisik Kania curiga. Dalam keterangan, nomor itu tak meninggalkan nama hingga Kania heran.
"Apakah aku harus menelpon balik ya? Siapa tahu ini adalah panggilan dari kampung..." Bisik Kania.
Kania pun mulai menekan nomor itu dan mulai menatap layar ponsel itu "Belum ada yang mengangkatnya..." Bisik Kania.
Kania masih menatap layar ponsel itu, lalu seseorang mengetuk daun pintu. Hingga pandangan kania pun teralihkan pada seruan Ginaya "Kakak. Kakak... Apakah kakak ada di dalam?" Tanya Ginaya dari luar.
Kania pun menaruh kembali ponselnya dan menghampiri Ginaya "Ya Gin. Ntar kakak buka dulu pintunya" Ucap Kania tergesa gesa membuka pintu.
"Kakak..." Seru Ginaya lagi.
"Ada apa Gin?" Tanya Kania membuka pintu. Ginaya lekas masuk seraya menenteng hanger di tangannya "Ini kakak. Aku mau berikan gaun rancangan baru ku buat kakak" Jelas Ginaya.
__ADS_1
Ginaya memberikan kania gaun warna merah "Pasti bagus kalau kakak yang pakai" Rayu Ginaya.
"Iiih... Cantiknya. Makasih ya Gin" komen kania
"Ya. Sama sama... Sekarang kakak pakai deh. Pasti kak Hans makin cinta deh sama kakak"
"Kamu Gin. Bisa aja... Ya udah kakak pakai dulu deh" Bals Kania seraya tersenyum.
"Ya udah aku keluar dulu ya..." Ginaya mulai keluar. Kania baru ingat jika dia ingin bertanya apakah Hans ada di bawah atau tidak.
"Tadinya aku bertanya apakah Mas Hans ada di bawah atau tidak.. Tapi aku malah lupa, ya udah... Nanti aja deh'
Kania malah berkutat meriae wajahnya agar tampak lebih cantik agar Hans terkesima...
***
Rumah sakit, Hans sampai lebih cepat dua puluh menit karna ia yang menyetirnya dengan kecepatan tinggi.
"Sayang..." Tangis Marsha. Marsha tampak berantakan dan membuat Hans iba.
Sedang Hans masih berdiri mematung di depan daun pintu "Sayang. Kamu sedang apa? Cepat kemari... Aku sangat kangen sama kamu!" Cerocos Marsha.
Dengan langkah yang berat, Hans pun mulai mendekati Marsha kaku "Hiks. Sayang... Jangan buang aku begini. Kamu tega..." Tangis Marsha merengek untuk meminta Hans agar memberi kasih sayangnya pada Marsha yang terlihat tak berdaya.
Hans duduk, ia lebih banyak diam dan beraut wajah dingin "Sayang. Kenapa kamu menjauhiku... Apakah kamu udah nggak perduli lagi padaku?" tanya Marsha menangis sesegukan.
"Lihat... Aku jadi kurus dan pucat. Ini semua karna kamu yang tak mau menghubungi atau mengangkat telpon dari ku! Kamu keterlaluan!" Teriak Marsha.
Marsha yang merasa sikap Hans mulai acuh pada nya pun terpaksa bermajaan di tubuh Hans meski Hans tak menginginkannya. Marsha memeluk Hans dan melingkarkan tangannya di pundak Hans erat seakan mengunci pergerakan Hans.
"...Marsha! Marsha tolong jangan begini!" pinta Hans mengelak. Hans mencoba melepaskan pelukan Marsha dengan menolak keras perlakuan Marsha yang selalu pulgar padanya.
"Sayang? Ada apa denganmu? Kamu bahkan tak memanggilku dengan kata sayang lagi. Apakah kamu sudah tak sayang lagi padaku?" Marsha bertanya demikian dengan nanar yang pucat dan mata yang berkaca kaca.
"...Maaf Marsha. Mulai sekarang dan seterusnya... Aku tak bisa menghubungi mu lagi. Kita tak usah saling berhubungan lagi..." Jelas Hans.
__ADS_1
JDERRR!
Bah di sambar petir, tatapan Marsha seakan gelap ketika Hans mengatakan kalimat tersebut.
"....Sayang. Kamimu serius?" tanya Marsha dengan lidah kelu.
"Marsha. Tolong hentikan, jangan buat diriku merasa bersalah karna harus mengulang ulang perdebatan yang sama setiap kali kita bertemu..." Hans ingin meninggalkan kamar itu dengan mangabaikan marsha setelah ia mengatakan nya.
Marsha tak terima dan teriak "Tapi kenapa sayang!! Kenapa kamu ingin berhenti mencintaiku! Apa alasannya...!! Apakah karna sekarang aku sudah tak cantik lagi di matamu sayang?!" Marsha gelagapan. Ia nyerocos tak ada habisnya dan Hans sadar jika dia terus ada di sana maka dia akan terjebak oada rencananya sendiri.
"Karna aku sudah beristri. Dan kini aku mencintai istriku..." Jawabnya lantang seraya melangkah mantap tanpa menoleh lagi ke arah Marsha.
"Tidak sayang! Aku tidak mau kita pisah! Jika kamu beristri... Jadikan saja aku madunya! Aku nggak terima kamu mutusin aku begini aja! Sayang! Jangan pergi!!" Teriak Marsha di ranjangnya.
Bukannya membujuk, yang Marsha dapati hayalah kepahitan. Ia sangat menyesal ketika itu dan ia pun tak bisa menghalangi Hans ketika ia ingin pergi dari nya.
Hu hu hu... Ini salah ku! Seandainya dulu aku tak egois... Mungkin Hans sudah ada di tanganku. Dan aku tak mungkin di campakannya seperti ini. Hans adalah milikku. Aku tak akan memberikan milikku pada siapa pun termasuk Kania sekalipun. Bathin Marsha menggumam.
Di kediaman Angga Kania sangat penasaran hingga kembali menghubungi nomor tak di kenal tadi setalah berdandan rapi dan cantik.
Lalu seseorang mengangkatnya... Bukan sapaan yang kania dapatkan, tapi sebuah ******* keras yang timbul dari ponsel itu "Sayang... Hans! Aku mencintaimu!!" Desahnya begitu manja seakan menikmati sesuatu. Kania terbelakak dan mulai melempar ponsel di tangannya hingga ponselnya tergeletak di lantai.
"S-S-Sssiapa... Siapa itu? Kenapa dia memanggil nama suamiku?" bisik Kania membungkam mulutnya dengan tubuh yang gemetaran dan hampir tumbang ke lantai. Kania sungguh lemas dan mulai mati rasa... Ia sadar jika dirinya sudah tak snggup lagi berdiri karna kakinya begitu gemetaran.
Jangan Mas. Jangan sampai kamu berhubungan lagi dengan mantanmu itu... Karna aku tak sanggup jika harus memaafkanmu untuk yang ke dua kalinya.
***
Di luar rumah sakit...
"Aku harus telpon Richi untuk menjamputku... Aku tak mau Kania jadi curiga karna aku terlalu lama meninggalkannya" bisik Hans seraya merogoh jasnya "Lho kok nggak ada... Padahal tadi aku ingat jika aku memasukkannya ke sini" bisiknya. Lalu Hans pun mencari di saku celananya dan ia pun tak dapati ponselnya di manapun.
"Aneh. Apakah terjatuh ya... Sial...!" Hans marah dan mulai mencari taksi agar ia tak terlambat pulang.
Rencana Hans sangat berantakan, Marsha terlanjur pintar dalam membuat sebuah sekenario jebakan. Saat berpelukan tadi, Marsha sengaja mengambil ponsel Hans untuk membuat Hans di benci oleh istrinya dan kembali menjadi kekasih Marsha.
__ADS_1
Lantas apa yang akan kania lakukan pada Hans setalah ia pulang?