Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Kecupan Cinta


__ADS_3

***


Meja makan terasa hangat oleh kedekatan Kania dan Hans. Sang ayah sangat bangga pada anaknya hinga ia bersikeras memberikan Hans sebuah kado "Hans, karna akhir akhir ini kamu sibuk... Jadi, Ayah berinisiatif menggantikanmu untuk beberapa hari ke depan" Jelas sang ayah. Hans pun terkejut.


"Lho Ayah... Kenapa tiba tiba? Bukannya Ayah juga sangat sibuk dengan beberapa mega proyek yang ayah kerjakan?" Tanya Hans heran.


Sang ayah mulai terkekeh "Proyek yang sedang ayah garap, semuanya sedang berjalan dan alhamdulilah lancar jaya. Jadi ayah pikir, ayah dan rekan rekan perusahaan ayah yang akan menggantikanmu mulai besok" Jelasnya.


"Tapi Yah. Kenapa tiba tiba... Apakah karna kinerjaku buruk akhir akhir ini? Tapi aku rasa perusahaan dalam ke adaan stabil... Iakan Richi" Hans sungguh curiga pada gelagat ayahnya hingga ia meminta pendapat Richi.


"Benar tuan besar... Beberapa hari yang lalu, dua perusahaan besar yang hendak bekeja sama dengan kita. Telah mengirimkan beberapa Auditornya untuk mengecek lapangan dan kinerja perusahaan. Dan ternyata... Kita lulus Audit, hingga mereka sepakat untuk bekerja sama dengan menanamkan saham mereka di perusahaan tuan muda..." Panjang lebar Richi menjelaskan.


Tuan Angga tertawa lebar hingga terbahak bahak "Tenang lah Richi... Aku tak akan mengambil alih perusahaan anakku yang hendak sukses besar itu. Aku hanya ingin memberinya cuti untuk beberapa hari saja" Imbuh Tuan Angga. Hans pun melotot ke arah sang ayah...


"Apa maksud ayah?" tanya Hans menatap sang ayah tajam.


"...Hans, ayah akan memberimu dua tiket bulan madu ke Korea..." Jelas sang ayah.


Hans dan Kania melotot "Apa? Bulan madu?" Teriak ke duanya.


"Ke- K-K- Ke korea??!" Teriak Kania melotot.


"Apa an sih ayah. Kok Ke korea? Lagi pula Kania belum punya Pasport apa lagi Visa! Kita tidak bisa membuatnya dengan tergesa gesa Yah... Kalau soal ini sebaiknya Ayah jangan bercanda deh" Hans tampak ragu pada ayahnya. Sedangkan Kania sangat Tersentak ketika mendengar tiket terbang ke korea seperti mimpi di siang bolong saja. Hans menoleh ke arah istrinya yang terlihat syok itu.


"Sayang. Kamu baik baik saja kan?' Tanya Hans menepuk pelan pipi istrinya pelan.


"...K-korea... Apakah ini sungguhan. Apakah kita akan pergi ke korea?" Kania masih bertanya perihal demikian...


"Sudahlah. Jangan bercanda, kita abaikan saja ocehan ayah yang terdengar mengelikan ini" abai Hans.


"Rupanya kamu meremehkan Ayah ya..." Ucap sang ayah tak nyaman.


"Tentu ayah... Ini sangat mendadak dan membuat Kania Syok..."


"Baiklah. Kania apakah kamu mau pergi atau tidak? Jika kamu ingin pergi... Ayah sudah siapkan segala sesuatunya" Jelas sang ayah. Kania menoleh ke arah ayah mertuanya "Apakah ayah serius?" tanya Kania dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Tentu saja... Mana mungkin ayah bohong" Imbuh sang ayah. Kania tersenyum lebar dan mengembangkan pipinya dengan wajah merona dan nanar yang bahagia, Kania pun mengangguk "Ya Ayah. Aku ingin pergi... Bulan madu di korea... Itu adalah mimpi yang mustahil bagiku. Tapi jika ayah yang memperkenan kan. Maka aku akan sangat bahagia Ayah..." Kania sungguh senang. Hans tak ada pilihan lain selain menggelengkan kepalanya.


"Baiklah... Kita bersiap siap dulu. Kita harus urus Parport dan Visa luar nergri" Jelas Hans.


"Tak usah repot repot. Ayah sudah siapkan segalanya... Tiket pesawat dan Pasport Kania sudah ayah siapkan. Richi juga Ginaya akan ikut kok..." jelas Sang ayah.


Ginaya dan Richi terbelalak "Apakah ayah serius?" Tanya Ginaya senang.


"Apa? Hans nggak setuju! Ginaya nggak usah ikut. Apa lagi Richikan bukan Mahromnya... Ngak ngak! Hans nggak setuju ayah... Biar Hans dan Kania saja yang pergi jika itu maunya ayah!" Cerocos Hans membantah kehendak ayahnya.


"Apaan sih kakak. Kakak nggak mau acara bulan madunya di ganggu oleh kita ya... Iih kakak jahat! Yah jangan dengerin kakak deh!" Rengek Ginaya.


"Sebaiknya kami tak usah ikut tuan besar. Yang di katakan tuan Hans benar... Nanti jika kami ikut, acara tuan Hans akan terganggu dan malah membuat mereka tak nyaman" Komen Richi.


"Tapi..." Ginaya merengek.


"Begitu ya..." ayah Hans pun pasrah.


"Ya sudah... Kalau gitu kami akan siap siap dulu" Hans lekas berdiri. Dan dengan semangatnya mengendong Kania menuju kamar Hans yang dulu di tinggalinya sebelum menikah.


"Wah wah... Anakku sudah sangat bersemangat" Bisik Tuan Angga seraya tersenyum senang.


"Hu uh. Apa maksud ayah... Kenapa ayah tidak mau mengijinkan aku dan Richi pergi..." Ginaya cemberut.


"...Sayang bukan begitu... Ayah mengirim kakak mu ke luar negri itu karna, setelah mereka pulang. Ayah berharap menantu ayah akan mengandung anak kakak mu... Karna ayah sudah tak sabar ingin mengendong cucuk pertama ayah..." Jelas sang ayah.


Ginaya pun mulai paham "Begitu ya. Belarti... Ginaya akan punya keponakan pertama dong?" Tanya Ginaya ke girangan.


"Tentu saja... Kamu setuju kan?" Tanya Sang ayah.


"Tentu saja aku setuju! Aku sangat setuju ayah... Apalagi jika bayi yang di kandung kak Kania adalah perempuan... Pasti akan sangat menyenangkan. Ia kan Kak Richi?" Tanya Ginaya meminta pendapat Richi.


Richi tersenyum seraya menggaruk pipinya yang tak gatal "Gimana ya... Padahal aku berharap, tuan muda melahirkan anak laki laki... Supaya kelak ada ahli waris perusahaan tuan muda yang kini mulai berkembang sedikit demi sedikit" jelas Richi.


"Iiih apa aan sih... Aku nggak setuju. Bayi Kak Kania harus perempuan!" rengek Ginaya.

__ADS_1


"...Richi! Kita sehati... Kau memang calon menantuku yang terbaik... Kelak, setelah menikahi Ginaya, kamu harus menjadi Direktur perusahaan kedua ayah selain Perusahaan yang Hans pimpin ya!" Jels tuan Angga.


Richi menunduk malu "Anda terlalu berlebihan tuan..."


"Jadi ayah merestui hubungan ku dengan Richi?" Tanya Ginaya ke girangan.


"Tentu saja. Apapun yang membuat putriku bahagia... Aku akan memberikannya, meski kami meminta ayah memetik bintang di langit..."


"Thank ayah... Love you!" Peluk Ginaya. Sedang Richi hanya bisa menunduk malu...


#Kamar Hans...


BRUGH! Kania di jatuhkan di matras empuk kamar Hans dulu ketika ia lajang.


"I-ini kamarmu?" tanya Kania gagap.


"Tentu... Apakah kamu menyukainya?" Tanya Hans.


"Engh. Meski ini kamar laki laki, tapi rasanya sangat rapi dan nyaman" balas Kania seraya menunduk malu.


Hans tersenyum dan menyungingkan bibirnya, ia mulai dudul di sisi ranjang dekat Kania "Maafkan aku ya... Kamu jadi sangat menderita karna ulahku dulu" Permintaan Maaf itu lolos beberapa kali dari mulylut Hans.


"Sudahlah... Jangan tengok ke belakang lagi, yang harus kita lakukan adalah menatap lurus ke depan. Jangan sampai kita membuat kecewa ayah dan orang tua ku di kampung. Mereka pasti berharap banyak tentang hubungan kita, jika hubungan kita baik baik saja. Maka, mereka akan sangat bahagia... Apa lagi mereka berharap kita langgeng... hingga ajal menjemput salah satu dari kita" Cerocos Kania. Hans tersenyum dan mulai meraih pipi Kania lembut.


Ia mengangkatnya perlahan dan mereka saling bertatapan satu sama lain. Hans mulai mendekatkan wajahnya dan meraih bibir Kania dengan menyematkan sebuah kecupan manis. Kania merasa seprti ada di alam mimpi... Hal yang mustahil itu tiba tiba di lakukan oleh suami yang tak pernah mencintainya selama ini.


Hans melepas kecupannya perlahan "Aku mencintaimu... Kania" Ucapnya.


Kania mengangguk dan Hans pun sangat bahagia hingga ia pun memeluk Kania dengan eratnya "Jangan ragukan cintaku yang mulai tumbuh ini. Lagi pula... Aku sangatlah beruntung punya istri sebaik dan secantik dirimu" Ujar Hans memeluk Kania penuh cinta.


"Sayang. Kalau begitu... Aku mandi duluan ya?" Ucap Hans melaps kania.


"Pergilah... Nanti setelah kamu selesai aku pun akan membersihkan diri" Balas Kania.


"Aku mencintaimu" kecupan terakhir di sematkan di kening Kania sebelum Hans masuk kamar mandi di kamar itu.

__ADS_1


Maksih mas aku sungguh bahagia. Ku harap kebahagiaan ini akan tumbuh selamanya... Aku tak ingin luka itu kembali membuatku hancur dan tak berdaya... Bathin Kania menggumam.


__ADS_2