
***
"Bagai mana dok? Apa yang terjadi pada Ke- Ke!" Lidah Hans langsung kelu seketika itu. Ia lupa jika sudah lama sekali Marsha bukanlah kekasih Hans.
Dokter mencercidkan Alisnya heran "Apakah yang anda maksud adalah nona Marsha?" Tanya sang dokter. Hans langsung menelan salivanya sendiri "Gluk..." sembari menganguk diam.
"Oh. Pasien atas nona Marsha...?" Dokter melepas kaca matanya dan mulai mengajak Hans ke ruangannya. Nampaknya Marsha mengalami peyakit serius. Hans mulai gelisah sepanjang perjalanan menuju ruang dokter.
Blam! Akhirnya... Doktet dan Hans duduk berhadapan. Hans tampak tegang dengan hasil apa apun yang akan dokter sampaikan padanya.
"Maaf sebelumnya. Apakah anda adalah kluarga pasien?' Tanya sang dokter. Hans mulai panik untuk menjawab, ia tak mungkin bilang bahwa ia adalah kekasihnya.
"...Ah itu. Saya adalah teman dekatnya..." Jawab Hans bingung.
"Oh begitu. Apakah anda bisa menghubungi kluarganya..." Tanya sang dokter.
Hans diam sebentar dan mulai bicara "Sebanarnya, Marsha tinggal sendirian... Selama ini dia hanyalah berjuang sendiri dok. Karna dia tak punya orang tua atau kerabat terdekat" Jelas Hans. Dokter pun mulai menekan kepalanya seakan risau.
"Memang apa yang terjadi padanya dok?" Tanya Hans.
Dokter mulai menyerahkan hasil raboraturium..." Ya kami baru saja selesai memeriksa. Kami melihat di layar Usg, bahwa nona Marsha memiliki penyakit radang usus buntu akut dan harus segera di angkat. Tapi, karna dia tak punya kluarga... Kami jadi bingung untuk mengambil resiko" Jelas sang dokter.
Hans terkejut dan sangat takut "Lalu apa yang harus kita lakukan dok. Tolong selamatkan dia! Apapun resikonya saya akan tanggung jawab asalkan dia sembuh!" Lugas Hans menyelot sang dokter.
__ADS_1
Setelah lama berunding... Akhirnya Dokter dan Hans sepakat dan mulai mengambil langkah selanjutnya.
Dokter mulai menyiapkan berkas dan tanggal oprasi...
***
"Tuan. Apakah anda baik baik saja?" tanya Richi mulai duduk di samping Hans.
Hans menoleh pada Richi dengan tatapan sayu "Richi. Apakah aku sudah membuat kesalahan lagi?" tanya Hans tampak sendu.
"..."Richi diam karna tak ingin salah bicara.
"Aku melakukannya lagi. Padahal aku ingin memperbaiki hubungan dengannya... Tapi lagi lagi aku melupakannya dan memilih masalalu ku. Dia pasti akan sangat marah padaku" Keluh Hans seraya memijat kepalanya.
Seketika Hans terbelalak "Ya ampun! Kau benar! Sial... Aku sungguh lupa!" Pekik Hans mulai berdiri untuk pergi ke arah di mana Kania di tinggalkannya.
Namun dokter datang dan meyahut Hans "Tuan. Anda mau kemana? Hasil penentuan tanggal oprasi sudah keluar!" Teriak sang dokter di kejauhan. Ia melambaikan selembar berkas bermap biru.
Seketika itu kaki Hans terhenti "Apa? Bagai mana ini? Kania atau Marsha?" Ia mulai pucat, kakinya terasa berat ketika hendak memutar langkah.
"Tuan... Jika anda sibuk. Biarkan saya yang datang ke restorant dan mengajak Nona Kania pulang" Jelas Richi.
Hans bimbang dan hanya diam "Baiklah Richi tolong jemput dia dan antar ke rumah. Sampaikan juga permintaan maafku padanya" Jelas Hans mulai melangkah menjauhi Richi menuju Sang Dokter. Hans pun mulai masuk ruangan Dokter.
__ADS_1
Hans sungguh tertekan, bahkan hadiah yang ia belikan untuk Kania pun lupa ia berikan padanya. Hingga menjadi isi jas nya saja...
Dia pasti akan makin benci padaku. Bathin Hans...
Dokter dan Hans mulai setuju jika jadwal oprasi Marsha akan di lakukan secepatnya..
***
Richi sampai di restorant dan tak menemukan tanda tanda adanya Kania di sana "Di mana nona cantik yang tadi duduk di sini?" tanya Richi panik.
Salah satu pelayan pun mulai menjawab "Oh nona Kania? Tadi dia di jemput tuan Ceo Velgin... Apakah jawaban kami bisa membantu anda?" tanya Pelayan.
Velgin? Wily? Kenapa dia bisa datang kemari? Bthin Ŕichi menggumam.
"Tuan? Apakah anda baik baik saja?" tanya Pelayan itu. Seketika lamunan Richi mulai buyar "Ah... Ia... Tidak saya tidak apa apa? Oh ia. Berapa tagihan yang perlu saya bayar" Ucap Richi seraya merogoh dompetnya lalu mengeluarkan debitnya dan menyerahkan debit itu ke arah pelayan.
Pelayan tersenyum "Oh maaf. Tapi tagihannya sudah di bayar penuh oleh Ceo dari Velgin... Jika tidak ada keperluan lain. Silahkan anda bisa keluar tuan... Restorant kami akan tutup sekarang" Jelad pelayan itu.
Richi sempat terkejut, ia seakan di sambar petir di siang bolong. Mau tak mau Richi harus pulang kerumah dan memastikan apakah Kania sudah pulang atau tidak.
"Jika tuan muda sampai tahu... Habislah sudah..." Bathin Richi.
Richi lekas keluar restorant itu dengan tergesa gesa dan masuk mobil lalu tancap gas menuju Kediaman Hans.
__ADS_1