Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Meracuni pikiran ku!!!


__ADS_3

***


Ruang rumah sakit terasa hening. Setelah dia tak sadarkan diri selama dua hari, akhirnya kelopak mata Hans mulai terbuka perlahan... Ia rasakan hal aneh yang kala itu mulai menyapa netranya.


Ia menatap dengan pupil membesar kala lampu oprasi menyala terang ke arah wajahnya. Ia kaget dan mulai berusaha bangun dari ranjang yang rupanya ranjang tersebut adalah meja oprasi.


"Ahhh! Sial! Dimana Aku!" Teriaknya mulai bangun dari rebahannya. Ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri jika saat ini ia sedang telanjang dada. Di sana ada beberapa kabel yang menempel di dada dan selang infus di tangannya.


"Sial! Apa apaan ini!" Teriaknya mulai melucuti beberapa kabel itu.


"Dimana Richi! Ricchi!" Teriak Hans kalang kabut. Saat Hans hendak turun dari meja oprasi. Tiba tiba sebuah suntikan besar terpampang jelas di hadapannya.


"Cuuurrr!" Suntikan di tekan dan cairan tipis pun mulai menciprat ke hadapan Hans. Hans panik dan gemetaran, ia mulai perlahan mendonggkan wajahnya ke arah seseorang di hadapannya.


Kedua bola mata Hans melotot tak karuan kala menatap Suster berjubah putih dan berpakaian medis. Suster itu menatap tajam ke arah Hans. Hans ketakutan dan mulai bertanya dengan suara bergetar "Se-se-siapa kamu..." Gugupnya.


"Lho. Kamu mau kemana? Bukankah kau bilang, kau ingin mengeluarkan makanan buatan ku? Jadi... Izinkan aku membelah perutmu dan mengeluarkan nya seperti yang kau inginkan" Jelas Medis itu.


Merinding Hans mendengar psycopat seperti istrinya saja. Bathin Hans menggumam.


"Tidak! Jangan sentuh aku! Aku akan pergi sekarang!" Jerit Hans berusaha kabur.


"Heh. Bukan kah kamu sendiri yang bilang... Richi! Tangkap dia!" Pinta Medis itu.


"A-apa! Richi jangan!" Teriak Hans ketakutan.


"Aku akan ambil gergaji besi listrik nya dulu" Jelas Medis itu.


"Siapa kau! Jangan berani beraninya menyentuhku! Jika kau berani akan aku..." Tak sanggup Hans meneruskan kalimatnya. Sebab ia melihat Suster yang tandinya membawa suntikan besar, kini ia mulai memenggangi suntikan itu dengan gergaji listrik yang bising dan besarnya bukan main.

__ADS_1


"Ah! Ah kau! Jangan sembarangan memainkan ini!" Teriak Hans ketakutan. Ia sampai pipis di celana kala melihat suster itu makin mendekat.


Saat suster itu mulai dekat ke arah Hans, ia pun menarik masker medis yang menutupi mukanya dan mulai menampakan wajahnya.


BRET! Hans terbelalak "Bersiaplah... Rasanya tidak terasa sakit kok" Ucap suster yang ternyata adalah Kania.


"Apa! W-wanita iblis!" Teriak Hans mundur. Kania mengacungkan gergaji itu dan mulai mengarah ke arah perut Hans. Hans menjerit dan...


"Huaaaaaaaa!" Teriak nya keras terperanjat dari ranjang hingga ia jatuh tengkurab ke lantai dingin.


BRUK!!


"Aaahhhh!!!" Ringisnya. Richi lekas membuka pintu ruangan Hans dan mulai menghampirinya. Namun, Hans terlihat telah di bantu bangun oleh Kania yang sadari kemarin menjaga pria itu.


"Mas... Kamu ngapain tiduran di lantai?" Tanya Kania polos.


"Tuan... Anda kenapa?" Tanya Richi menghampiri Hans. Hans lekas lari ke arah punggung Richi dan bersembunyi di sana.


"Richi. Singkirkan wanita itu dari hadapanku!" Pinta Hans menunjuk nunjuk Kania.


"Tuan tapi apa alasannya?" tanya Richi sungkan.


"Dia berusaha membunuhku! Wanita iblis itu" Teriak Hans hiteris.


Kania menatap Hans sedih...


"Tapi nona kania..." Richi hendak menjelaskan.


"Cukup Richi. Suruh dia pergi!" Sambung Hans memaki Richi.

__ADS_1


Dengan wajah sedih, Richi pun mulai mengajurkan Kania untuk keluar dari ruangan itu "Nona... Mohon maaf... Tolong keluar sebentar... Saya akan menjelaskan sesuatu pada Tuan Hans" Pinta Richi. Kania mengangguk dan mulai melangkah keluar dari hadapan Richi juga Hans. Seraya menggerutu Kania pun lekas keluar dengan delikan tajam ke arah Hans.


Sesampainya di daun pintu, Kania pun membanting pintu itu keras BLAM. Hans sampai terperanjat karna kaget...


"Cih... Wanita arogan" Komen Hans menatap daun pintu yang telah di tutup rapat oleh istrinya itu.


"Haaah... Syukurlah anda sudah sadar..." Ucap Richi menghelan napas panjangnya.


"Kenapa dengan wajahmu Richi?" hans Curiga.


"Aku sungguh khawatir, anda drop hingga tak sadarkan diri selama dua hari ini..." Jelasnya.


Hans tak percaya dan membuang wajahnya "Heh. Mana mungkin?" Elaknya.


"Tentu saja... Dokter bilang, anda dehidrasi berat dan kekurangan banyak nutrisi" Jelasnya.


"Sudah sudah aku akan pulamg hari ini. Tugas kantor pasti menumpuk gara gara kecerobohan ku dan ke usilan wanita keparat itu" Umpat Hans.


"Tuan. Sebaiknya anda istirahatlah dulu..." Pinta Richi.


"Tidak... Oh ia Richi, selama aku sakit... Apakah Marsha datang menjenguk ku?" Tanya Hans penuh harap.


Richi menekuk wajahnya lesu lalu menggelengkan kepalanya "Apa? Mana mungkin? Kau pasti tak mengabari kondisiku saat ini?" tanya Hans curiga, alisnya menyungking tajam dan netranya melotot ke arah Richi intrents.


"Maaf tuan. Tapi saat saya kabairi kondisi anda. Nona Marsha malah mementingkan pekerjaannya" Jawab Richi jujur. Hans hanya bisa menundukan wajahnya lesu.


"Heh. Mana mungkin aku parcaya pada kata katamu! Lagi pula kamu kan tidak suka akan hubunganku yang dekat dengan nya" Komen Hans. Richi hanya bisa diam dan menunduk di depan Hans.


"Kemarikan ponselku... Biar aku telpon dia sendiri" Hans mulai menekan ponsel Richi dan mulai menelpon Marsha. Ia meminta Marsha untuk datang menemuinya di rumah sakit sekarang juga.

__ADS_1


__ADS_2