Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Cara menarik perhatian


__ADS_3

***


"Tuan Hans! Di mana kamu?!" Cari Kania ke seluruh ruangan kediaman itu.


"Non anda cari siapa?" Tanya Bi Marsih.


Kania mulai menoleh kearah bi Marsih "Ya bi... Aku lagi cari tuan Hans" balas Kania tergesa gesa.


"Ahhhh... Tuan Hans" Bi Marsih mulai mengingat.


"Ya bi... Apakah bibi melihat tuan Hans?" Tanya Kania berharap.


"...Oh ia. Tadi bibi lihat tuan Hans ada di kolam renang" Tunjuk Bi Marsih ke arah kolam.


Kania mengangguk lugas lalu pergi ke arah tersebut "Oh... Baik aku mengerti" Kania mulai berlari ke arah tersebut.


***


Kolam renang... Kania sampai di sana dan berdiri celingukan mencari.


"Itu dia..." Tunjuk Kania memastikan bahwa pria yang sedang duduk berjemur santai di kursi kolam tersebut adalah Hans.


"Hei tuan tidak sopan" pekik Kania menghampiri Hans.


Suara Kania yang cempereng melenting itu membuat Hans mendelik ke arahnya. Namun gerakan mata Hans tam dapat Kania pastikan sebab Hans memakai kacamata hitam di tengah teriknya mentari siang itu.


"Hei... Uughh! Apakah dia tidur?!" Umpat Kania menghampiri hingga berdiri di depan Hans.


"Kau tidur ya! Jika tidur cepatlah bangun! Ada hal yang harus aku bicarakan!" Kania masih belum mendapat jawaban dari Hans.


"Dasar menyebalkan!!" Kania mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Hans untuk memastikan mata Hans terpejam atau hanya pura pura tidur...


Dekat dan makin dekat... Hans sangat suka posisi Kania yang terlihat memperhatikannya itu. Hans mulai bangkit tiba tiba hingga Kania membuat Kania tersentak. Ia menjauhkan tubuhnya seketika itu...


"Ada apa?" Tanya Hans pura pura polos.


"...A- I- Itu..." Kania jadi parno gegara kelakuan Hans yang tiba tiba itu.

__ADS_1


"...A i itu apa maksudmu... Apakah kau sedang berusaha menciumku?" tanya Hans mendelik Kania. Kania pun terslot dan mulai mencari alasan "Me-me- mencium... Apa maksudmu... Ka- kenapa aku harus menciummu?" Kania cengengesan dan berkata semberawut dengan terbata bata.


"Kenapa? Bukankah aku adalah suamimu...?" Hans mulai menyinggung pernikahan.


"...Tadi aku mau bicara apa y... Gara gara kamu tiba tiba bangun. Aku jadi bingung sendiri... Dasar" Kania tak jadi bicara dengan Hans karna Hans membuatnya tak bisa menjawab apapun.


'Mau keman?" tanya Hans.


"...Ada urusan lain" balas Kania belum berhenti melangkah.


"Apakah kau akan tetap bekerja di perusahaan milik Wily?" tanya Hans. Nampaknya pertanyaan itu berhasil membuat Kania menghentikan langkahnya.


"Apakah karna kau menyukainya?" tambah Hans mulai menyinggung hal tersebut.


"...Dari mana kamu tahu, kalau aku melamar kerja ke perushaannya... Dari awal aku memang tak pernah bilang apapun" Kania mengabaikan petanyaan Hans dan mulai berlalu pergi dari hdapannya.


Hans menatap punggung Kania yang telah menghilang di balik pintu...Tangannya mengepal erat dan masih memegang kotak kado yang berisi perhiasan dari Wily.


Ia kesal tanpa sebab hingga melempar kotak itu ke kolam dan membuat kotak tersebut mengambang di kolam tersebut.


"Kenapa... Aku jadi marah padanya gara gara ini!! Sial..." Amuk Hans.


***


"Apa ini pekerjaanku?" Tanya Kania membelalakan matanya.


"Tentu saja... Ini adalah pekerjaanmu. Meski kita tidur terpisah... Kau tetap lah istriku. Sekarang buatkan aku mi instan" Pinta Hans. Kania sungguh risih... Ia pikir ia akan di pekerjakan di kantor Hans seperti Wily.


"Baiklah..." Kania sungguh risih dan memperlakukan Hans dengan ketus.


Beberapa menit kemudian...


"Ini mie instan yang sama sepeti tempo hari ku masak" Ucap Kania menaruh mangkuk itu di depan Hans.


Hans menatap Mie yang msih panas itu tanpa bergeming. Richi dan bi Marsih saling menatap diam satu sama lain memperhatikan kelakuan Hans yang tak biasanya.


"Kenapa hanya di tatap? Ayo makan...' Pinta Kania ketus.

__ADS_1


"...Apa maksudmu. Kamu ingin mulutku terbakar?" Gerutu Hans mengabaikan makanan panasnya.


"...Jika di makan saat dingin. Rasanya akan berbeda dan menjadi sedikit hambar..." Ucap Kania memperingatkan.


"Kalau begitu duduklah... Lalu suapi aku" Pinta Hans mendelik ragu pada Kania... Ia seakan canggung kala menyuruh istrinya membantunya makan.


Apa lagi ini... Dia sudah meminta hal aneh aneh... Dia memang bermaksud balas dendam padaku... Kapan aku bisa lepas dari ke usilan pria ini. Bathin Kania. Mau tak mau Kania duduk dengan wajah yang masam.


Hans tersenyum Bagus... Ini artinya dia memang khawatir padaku. Bathin Hans menggumam.


"...Dasar manja" Umpat kesal Kania.


"Bukan manja... Tapi aku sedang di layani sebaik mungkin"


"Terserahlah... Menyebalkan" Kania mulai menyuapi Hans selembut mungkin karna ia tak ingin mendapat ocehan tak perlu dari mulut pedasnya itu.


Jijik juga... Jika di perhatikan... Bibirnya, adalah bekas Marsha yang selalu menciumnya tanpa ragu... Mata itu, adalah mata yang selalu berbinar saat menatap Marsha penuh ke bahagiaan... Dan tubuh, lalu tangannya juga rambutnya dan segala hal yang menempel di tubuhnya juga membuat ku jijik... Lalu maah... Marsha adalah wanita yang membuatku tersingkir dari hati suamiku sendiri. Bathin Kania.


"Pelan pelan! Kau ingin membunuhku ya?!" Pekik Hans bicara dengan mulut tersumpal.


Kania mulai sadar dari lamuannya dan segera menghentikan gerakan tangannya yang cepat kala menyuapi suaminya.


"...Ah maaf. Tadi aku sedang melamun" Kania reflek membalas amukan Hasn.


Melamun? Apa yang dia lamunkan? Apakah dia sedang melamunkan Wily? Tidak tidak. Beberapa hari ini Wily tidak menghubunginya... Ah mungkin saja dia gelisah karna Wily tak menghubunginya. Bathin Hans menggumam.


"Fokuslah pada pekerjaan mu sendiri... Kau pikir bagus melamun saat jam kerja! Aku bisa mati jika kau tak hati hati, kerterlaluan' Umpat Hans kesal. Ia terlihat jengkel jika ingat bahwa Kania selalu dengan Wily.


Kania menatap Hans lalu berkata "Kenapa kau mengumpat. Lagi pula kau bukan bayi... Saat aku menyumpal mulutmu kau bisa melepaskannya. Jika tidak suka... Makan saja sendiri. Lagi pula pekerjaan apa ini... Hanya membuatku bosan" Kania sungguh melawan Hans dan membuat Hans makin jengkel saja.


"...A-apa... Berani nya kau! Baiklah... Jika kau tak suka pekerjaanmu pergi sana! Aku akan membuatmu lebih lelah seharian!" Jelas Hans berdiri lalu menarik tangan Kania.


Ah apa ini? Bathin Kania tersentak kaget.


"Jika kau mengeluh... Kau akan menyesal!" Bentak Hans menyeret Kania ke suatu tempat.


"Jangan jangan kau akan membawaku ke...' Lidah Kania kelu seketika jika ingat pada matras milik Hans. Kejadian tempo hari saja membuat Kania sngat Syok.

__ADS_1


Jangan jangan Kami akan melakukan malam pertama di siang bolong begini... Teriak Bathin Kania menggumam.


Mungkin saja maksud Hans adalah malam pertama atau bisa jadi hal lain. Belum apa apa wajah Kania sudah merah pekat karna malu dan ia juga ingin membantah... Sebab ia sungguh tak ingin memakai barang bekas...


__ADS_2