
***
"Aku sangat mencintaimu Kania..." Jelas Hans. Suara itu membisik tajam dan hinggap di telinga Kania dengan jelasnya. Kania tak bisa berkata kata... Ia takut jika itu hanyalah gertakan Hans yang salalu saja Kania tampak bodoh.
"...Apakah ini hanya lelucon mu seperti biasanya?" tanya Kania dengan lidah yang sedikit kelu.
"Jangan samakan aku dengan Hans yang dulu... Aku janji aku akan berubah sesuai harapanmu. Mari kita mulai segalanya dari awal..." pinta Hans. Kania mulai memutar langkahnya dan menghadap ke arah Hans.
"Apakah ini sungguhan? Ataukah ini mimpi?" tanya Kania belum bisa percaya begitu saja.
Hans tersenyum, Hans pun mulai mendekatkan jidaknya dan menempelkannya ke jidak Kania "Aku sungguh brengsek... Hingga kamu tak mampu percaya padaku... Mulai saat ini, aku akan selalu ada untukmu. Jadi... Jangan ragukan janjiku ini... Ku mohon" Jelas Hans. Kania terdiam sesaat dan mulai menunduk, Netra Kania mulai berbinar di iringi senyuman tipis menyunging... Beberapa bulir basah mulai bertumpuk seakan hendak terjun. Seketika netra Kania yang berbinar itu mulai berkaca-kaca. Mau bagai mana lagi, Kania sangat bahagia mendengar pernyataan Hans yang selalu ia tunggu selama ini.
"Aku mencintaimu... Kania" Ucapnya lagi. Hans mulai menepis beberapa bulir basah yang melewati pelipisnya itu. Hans tersenyum seraya memeluk tubuh Kania "Maafkan aku yang egois dan arogan ini... Aku sungguh menyesal" Bisik Hans menangis haru, ia sangat merasa bersalah karna telah menelantarkan Kania selama ini... Karna ini bagaikan mimpi, Kania pun mulai membalas pelukan Hans, ia merangkul Hans dan memeluknya erat.
"Hiks... Ini sungguh bukan mimpikan, aku sungguh sungguh bisa memelukmu... Hal yang selalu aku harapkan, adalah menjadi istri terbaikmu dunia akhirat... Aku sungguh senang, Terimakasih Mas... Ku harap, kata katamu saat ini adalah sungguh sungguh tanpa sebuah dusta lain Mas..." Balas Kania mendekap Hans erat erat.
Melihat keharmonisan yang timbul, Ginaya tak kuasa menahan haru, ia menangis dan mulai menarik bahu Richi lalu menangis di dadanya "No-nona... Nona Ginaya apa yang anda lakukan?" Richi kaget dan gagap kala Ginaya begitu fulgar padanya.
Ayah Ginaya hanya bisa mengelus kepala anaknya, sedangkan Richi tampak kiku dengan beberapa kali delikan mata ke arah Tuan Agga.
"Kita harus merayakannya..." Jelas sang ayah.
"Benar yah. Selama ini kak Kania sangat menderita karna Marsha. Dan sekarang, kak Kania terlihat senang karna kakak mulai mencintainya..." Balas Ginaya.
"...Tuan memang sangat beruntung..." Bisik Richi.
Ginaya menatap Richi "Lalu jika kakak ku sangat beruntung. Apakah aku juga beruntung kak Richi... Aku sangat menyukaimu. Tapi kamu selalu saja dingin padaku.." Ginaya menekan Richi dengan pandangan memelasnya. Sedangkan pipi Richi yang merah pekat menggambarkan segalanya. Richi juga suka pada Ginaya, tapu ia tak enak pada ayahnya Ginaya yang seorang tuan besar sebuah perusahaan.
__ADS_1
"...Mmm... Sebaiknya kita segera membuat pesta kecil itu untuk nona dan tuan muda..." Jelas Richi menghindar. Richi pun lekas menjauhi Ginaya dan turun dari kamar Ginaya dengan pipi yang merona.
"Ayah... Apakah ayah marah jika aku suka pada Richi?" tanya Ginaya. Sang ayah menoleh dan mulai mengelus pucuk kepala anaknya "Apapun yang membuatmu bahagia... Ayah akan sangat setuju dan merestuinya. Tapi, ayah ingin bertanya padamu. Apakah Richi juga menyukaimu?" tanya sang ayah.
Karna pertanyaan itu, Ginaya pun jadi lesu... Selama ini Ginaya lah yang selalu tancap gas mengejar Richi tanpa tahu Richi suka atau tidak padanya.
Apakah Kak Richi suka atau tidak ya padaku... Pertanyaan ayah sungguh membuatku Broken. Bathin Ginaya.
Setelah bicara empat mata... Kania dan Hans pun keluar dari kamar Ginaya "Aku ingin mengganti pakaian ini... Aku sungguh ke gerahan" Gumam Kania.
"Jangan! Kau tampak sangat cantik dengan pakaian ini..." Pinta Hans.
"Ah. Tapi ini sngat tidak nyaman" Elak Kania. Saat mereka keluar dengan penuh canda gurau... Ginaya dan ayahnya menghampiri Kania dan Hans "Nah... ini baru anak ayah" Ucap sang ayah menepuk pundak anak laki lakinya.
"Ayah... Apakah ayah menguping?" hans tampak malu dengan wajahnya yang merah.
"Ginaya! Apakah ini semua rencana mu?" Tanya Kania curiga. Ginaya menggelengkan kepalanya.
"Tidak tidak... Aku kan hanya sedang merias kakak untuk busana pengantin yang baru saja aku rancang. Sesuai harapan kakak memang cantik dan jika kita melakukan pemotretan sekarang, Rancangan ku pasti akan juara satu nantinya" Cerocos Ginaya.
"...Kau memang the Bast Dek... Berkat kamu kakak jadi jatuh cinta lagi pada istri kakak" Slot Hans mengacungkan jempol.
"Iih Mas... Apaan sih, malu malu in aja" Kania merona merah karna malu, ia menunduk dan sesekali tersenyum malu.
"Lho ia kok... Apa yang di katakan Hans dan Ginaya benar. Ayah punya menantu yang sangat cantik, baik hati dan pintar memasak" Imbuh Tuan Angga.
"Nah kan... Kakak pasti jadi pusat perhatian jika masuk area perayaan busana nanti... Kakak harus ikut ya" Pinta Ginaya.
__ADS_1
"Mana mungkin kakak kan orang kampung. Kakak takut malu malu in nantinya" Elak Kania.
"Kamu tuh cantik kok... Jadi jangan malu, aku percaya padamu... Nanti batu saja Ginaya dan berikan ferporma terbaikmu ya kan sayang" Bujuk Hans.
Mendengar kata Sayang, Kania sungguh terpaku. Beberapa bulan menikahi pria itu, Baru kali ini Kania dengar Hans panggil dengan sebutan sayang.
Semua tawa tercurah pagi itu, di sana... Kania, Ginaya, Hans dan tuan Angga tersenyum lebar seakan tak ada beban yang belarti meski mereka tengah memikulnya.
"Tuan Besar! Makan siang sudah siap!!" Teriak Bi Rasih. Suara bi Rasih membuyarkan gelak dan tawa yang pecah di sana.
"Kakak... Ayo makan" Pinta Ginaya.
"Tapi kakak susah jalan. Jadi kakak akan ganti pakaian dulu" Kania mundur untuk masuk kembali ke kamar Ginaya dan menganti pakaiannya.
Hans mulai meraih pinggang Kania dan mulai menariknya di pangkuannya "Jangan... Karna kamu terlalu cantik dengan pakaian ini... Jadi Biarkan aku menggendongmu..." Rayu Hans seraya melangkah perlahan dengan tangan mendekap tubuh Kania di pelukannya.
"Huaaa.... Aku malu sekali..." Teriak Kania menutupi wajahnya dengan ke sepuluh jemarinya.
Ginaya dan tuan Angga merasa sangat senang dengan kemajuan yang Hans tunjukan untuk istrinya itu. Tuan Angga sungguh jadi senang melihat hal tersebut...
Hans turun dari tangga dengan sangat perlahan dan hati hati. Netranya tak luput dari wajah cantik Kania yanh saat itu merasa malu pada dirinya. Hans tersenyum manis ke arah Kania hingga mereka salinh bertatapan satu sama lain, Bagaikan sang pangeran yang menggendong putri di negri dongeng Hans terlihat sangat berbeda sekali.
Richi memotret ke harmonisan itu beberapa kali... Entah apa tujuannya, yang jelas Richi pun merasa sangat bahagia atas kemajuan Hans dalam pernikahan paksannya itu.
Setelah sampai di meja makan, Hans menurunkan Kania perlahan. Kania sungguh fi perlakukan dengan lembut habis habisan Oleh Hans. Kania di suapi dan beberapa kali Hans mengusap bibir Kania yang selalu terlihat menggiurkan itu.
Suasana yang tadinya tegang pun mulai terlihat sangat harmonis dan Hangat. Semoga... Kania dan Hans selalu bahagia selamanya...
__ADS_1