
***
Pagi tiba...
Hans yang terlelap di kursi tunggu mulai tersadar perlahan setelah seorang suster mengabari kabar baik untuk Hans.
"Tuan. Pasien di kamar 203 sudah selesai melewati pase oprasi" Jelas Sang suster.
Hans yang baru saja tersadar mulai sedikit menyungingkan bibirnya "Benarkah? Apakah Marsha sudah kembali ke kamarnya?" Tanya Hans sigap.
Suster mengangguk "Anda sudah bisa menjenguk pasien..." Balas Sang dokter. Hans pun lekas bangkit dan segera melangkah kan kakinya ke kamar 203.
Hans membuka pintu itu pelan. Lalu masuk mengendap endap, di lihatnya di kejauhan... Marsha masih terlelap di bawah balutan selimut putih kamar pasien itu. Hans merasa sangat lega hingga ia menghelan napas panjangnya.
"Huhhh... Syukurlah. Aku akan kembali ke rumah jika begini..." Bisik Hans. Hans pun kembali memutar langkah tanpa menghampiri ranjang Marsha.
Hans keluar perlahan lalu menelpon Richi "Lama sekali" Dengus kesal Hans.
Ia menelpon Richi berulang ulang kali tapi tak satupun jawaban dari Richi. Richi sama sekali tak mengangkat ponselnya.
"Kemana Si Richi ini?" Umpat kesal Hans.
Akhirnya seraya berjalan Hans pun kembali menelpon rumah "Hallo Bi? Apakah Richi ada?" tanya Hans dengan nada tinggi nampaknya ia kesal.
"...Oh. Richi sedang pergi keluar" Balas Bi Marsih santai.
"Begitu ya... Baiklah. Aku akan naik taksi saja" Ucap Hans. Ia kembali melangkah menuju pintu keluar Rumah sakit lalu naik taksi sesuai pikirannya.
***
Dalam perjalanan Hans kembali merogoh jasnya. Ia menatap kotak merah berisikan perhiasan cantik berupa Kalung dan cincin untuk Kania.
__ADS_1
"Ku harap dia menyukainya..."Bisik Hans.
Beberapa menit kemudian... Hans pun sampai di kediamannya. Ia keluar dari taksi lalu melangkah lebar menuju pagar besi gerbang rumah nya.
Ketika ia msuk kediamannya ia di sambut beberapa pelayan. Lalu Bi Marsih datang dan menghampirinya "Tuan. Saya panik sekali... Kemana anda semalaman?" tanya Bi Marsih sedikit gelisah.
"...Maaf karna telah membuat kalian khawatir. Tadi malam ada sedikit urusan mendesak" Jelas Hans.
"Oh begitu. Tapi syukurlah jika anda sudah menyelesaikan urusan anda selamat datang" Ucap Bi Marsih.
"Oh... Terimakasih bi karna telah perhatian padaku. Oh ia... Mana istriku?" Tanya Hans. Jelas mendengar pertanyaan itu, Bi Marsih jadi sedikit gelagapan.
"...Nona Kania..." Bi Marsih tak bisa berbohong dan dia sangat bingung. Lalu Richi datang dari belakang tiba tiba "Ada di kamarnya! Dia sedang tidur!' Pekik Richi menghampiri Hans tiba tiba.
"...Richi! Kau dari mana saja? Aku telpon berkali kali pun kamu nggak mengangkatnya" Umpat Hans.
"...Eh anu. Tadi aku ke toserba untuk mencari sebuah barang yang agak sulit jadi..." Richi tampak sangat gelisah dan Hans bisa membacanya.
Richi membuang wajahnya dan enggan menatap mata Hans "Ah tidak... Mungkin hanya kelihatannya saja" jelasnya berkeringat dingin.
"Oh begitu. Ya sudah... Aku akan naik ke kamarnya" Ucap Hans seraya melangkah ke arah kamar Kania.
Bi Marsih menatap Richi yang tampak gelisah dan merasa sangat bersalah karna telah membohongi Hans. Jika Hans sampai tahu bahwa Richi bohong. Habislah Richi...
"Ssst Richi! Kemari!" Sahut Bi Marsih. Richi yang tampak bimbang pun mulai menatap Bi Marsih dan menghampirinya.
"Ya bi... Ada apa?" tanya Richi membisik.
"Kau yakin. Nona Kania ada di kamarnya?" tanya Bi Marsih curiga.
Richi bungkam dan mulai menggelengkan kepalanya "Astaga... Habislah jika sampai tuan muda tahu bahwa kamu berbohong padanya" Cecar bi Marsih.
__ADS_1
"Mau bagai mana bi... Nona Kania tak ada di mana pun. Bahkan saat aku tanya penjaga kediaman tuan Angga. Mereka malah menggelengkan kepala mereka... Mereka sungguh tak tahu nona Kania ada di mana..." Jelas Richi panjang lebar.
Kamar Kania...
Hans melangkah pelan, ia menatap seseorang yang terbaring di tempat tidur dengan mengumpat di balik selimut tebal kamarnya.
Hans merasa bersalah pada Kania, ia mulai duduk di samping Ranjang Kania dan menarik napas panjangnya "Kania... Apakah kamu marah padaku soal kejadian tadi malam?" tanya Hans tanpa basa basi.
"...Aku sungguh meminta maaf padamu. Aku tahu, Ini bukan kali pertama aku mengabaikan mu. Jika kau marah pada ku... Aku sungguh tak keberatan. Tapi... Ku mohon, berikan aku sebuah kesempatan lagi. Aku janji aku akan memperbaiki sikapku yang angkuh pada mu selama ini... Jika kamu bersedia memaafkan ku. Aku sungguh amat merasa bersyukur..." Hans panjang lebar bicara pada sebuah gundukan selimut yang tampak seperti orang yang terlelap.
"...Kania... Jawablah, jangan diam saja. Aku tahu aku memang keterlaluan... Tapi ku mohon berilah aku satu kesempatan lagi. Aku janji... Kali ini aku tak akan membuatmu kecewa. Aku janji..." hans kembali memohon.
Hans mulai merogoh jasnya dan mulai meraih kotak merah berisikan kalung dan cincin untuk Kania sebagai tanda ketulusan hati Hans untuk istrinya.
Hans kembali menoleh dan ia sedikit curiga, matanya mulai mencercida dan dahinya mengkerut. Ia sangat ingin membuka selimut itu dan memastikan, apakah Kania masih marah padanya atau tidak.
"Kania... Sudahlah... Jangan marah marah lagi. Aku sungguh tak akan melakukan nya lagi. Aku sungguh sungguh kali ini... Dan aku sungguh janji padamu. Antara aku dan mantan kekasihku... Kami sudah putus dan tak ada hubungan lagi. Ku harap kamu percaya padaku..." Cerocos Hans menjelaskan dengann berbagai alasan.
Hans masih tak dapati Kania yang bawel dan pemarah itu ketika merespon ungkapan hatinya. Karna kesal, Hans pun menarik selimut itu dan mulai melenparnya.
"Kenapa kau mengabaikanku!!! Kau pikir siapa durimu!!" pekiknya membentak Kania.
Namun saat selimut itu terhempas, kedua bola mata hans sungguh terbelalak ketika menyaksikan bahwa yang ada di sana hanyalah tumpukan batal dan guling yang di susun sedemikian rupa.
"Apa!! Apa apaan ini!! Di mana dia??? Kemana Kania!!" pekik hans memegang kepalanya panik.
"Richi... Richii... Richi! Richi pasti tahu kemana Kania pergi... Tidak mungkin dia pergi ke kamar mandi di jam seginikan??" Hans tampak gelagapan. Akhirnya dengan sangat panik, Hans pun mulai keluar dari kamar Kania dan turun tangga menuju ruang tengah di mana Richi dan Bi Marsih sedang berbisik bisik.
"Richiiii!!!" Teriak Hans menyahut Richi.
Oh tidak. Habislah aku... Umpat Richi dalam hati.
__ADS_1
Kira kira kemana Wily membawa Kania ya... Autor sungguh bingung mencarinya... Jadi kasihan sama Richi yang akan habis di lahap Kemarahan Hans...