
***
Seseorang menarik Kania yang saat itu jatuh tengkurab, lututnya berdarah dan kakinya terkilir. Kania mulai berdiri di hadapan pria itu "Kau baik baik saja kan?" Tanya Pria yang sedari tadi membantu Kania bangun.
Kania yang merasa suara pria tersebut sangat ia kenal, ia pun lekas mendonggakan wajahnya ke arah pria tersebut "Ka-kau..." Tanya Kania terbelalak. Ia tak menyangka jika hari ini ia akan bertemu lagi dengan tuan Willysone.
"Kau? Apa maksud anda?" Sambar Oscar tak suka kala Kania berbicara non pormal dengan tuannya.
"Ah maaf! Karna kaget saya jadi berkata tak sopan... Maafkan saya tuan" Kaku Kania membungkam mulutnya.
Wiily hanya bisa tersenyum "Tak apa... Oh ia, kamu mau kemana? Kenapa jalan?" tanya Willy. Kania mulai bingung, ia memang salah tingkah karna tak menyangka jika ia akan bertemu lagi dengan Willy secara tidak sengaja.
"Ummm aku... Aku mau pulang... Tapi..." kania mulai menunduk malu.
"Tapi?" Willy penasaran hingga ia mengharap kalimat sambungan dari kania.
"Tapi... Aku... Tidak punya uang" ucapnya polos. Wily hanya bisa tersenyum pasrah kala berhadapan dengan Kania.
Sejak bertemu Kania memang Willy selalu saja ingin tertawa. Kania sangat mirip dengan adik perempuannya... Tapi, karna adik Wily patah hati oleh seorang pria yang ia cintai, adik Wily pun jadi depresi hingga ia sakit sakitan.
"Baiklah. Aku antar kan saja kamu pulang ya?" Tanya Wily.
Tapi Oscar menyelot pembicaraan mereka "Tuan, tapi waktu kunjungan rumahbsakit lima menit lagi akan di tutup" Jelasnya.
Kania heran hingga ia mengerutkan alisnya "Kunjungan rumah sakit?" tanya Kania penasaran. Wily yang dilema pun mulai berfikir "Tuan. Sebaiknya anda lekas pergi, kasihan orang yang akan anda jenguk itu. Biar saya pulang sendiri saja... Saya pinjam uang saja untuk naik taksi" Jelas Kania. Wily tak mengijinkan Kania pulang sendiri hingga ia pun lekas menariknya masuk mobil.
"Ta-tapi tuan..." Kania sedikit menolak.
__ADS_1
"Masuk lah akan ku kenalkan pada orang yang paling spesial di hidupku" Jelasnya. Kania pun mau tak mau menuruti apa yang ia inginkan.
"Baiklah..." Kania pun masuk tanpa berontak lagi.
"Tuan... Pakai seam belt anda" Pinta Oscar. Akhirnya mobil pun melaju cepat membelah jalan menuju rumah sakit.
Di tempat lain, seseorang curiga pada kedekatan Wily dan Kania. Ia sungguh tak suka mereka berdekatan. Itu adalah Marsha, moodnya mulai buruk kala melihat mobil Wily yang mengabaikan lampu hijau juga mengikuti gadis lusuh itu hingga ia sempat sempatnya turun dari mobil untuk membantu bangun wanita lusuh tersebut.
"Apa apaan dia! Beraninya mendekati orang orang kaya dengan tatanan sok polosnya itu!" Marahnya. Marsha sampai lupa jika ia datang ke tempat itu untuk menemui Hans di rumah sakit. Pokusnya mulai hilang gara gara Kania yang mulai dekat dengan Willy.
"Nona... Mereka menuju rumah sakit tempat Tuan Hans di rawat" jelas Sang supir.
"Teruslah ikuti mereka... Aku tak sabar ingin menjambak rambut wanita itu!" Umpatnya kesal. Kenapa Masrsha kesal pada Wily dan Kania. Toh diakan bukan pacarnya gumam sekertaris Marsha yang sedari tadi duduk di samping wanita itu.
Mobil Willy mulai terhenti di front rumah sakit. Kania melotot karna ia masuk kembali ke rumah sakit yang ia tinggalkan tadi "Kenapa kita kemari?" tanya Kania risih.
"Karna aku akan menemui seseorang" Jelas Wily. Mereka pun turun berdampingan...
"Begitu ya... Baiklah... Ayo!" Ucap Willy seraya meraih tangan Kania dan menariknya untuk masuk. Tapi kania yang canggung hanya bisa menghempas tangan Wily dan Wily pun kaget.
"Maaf... Tapi, saya canggung... Biar kan saya jalan sendiri saja" Ucap Kania menghindar.
"Oh Maaf... Aku tak sengaja... Mari" Willy mempersilahkan Kania jalan lebih dulu. Baru saja melangkah beberapa hentakan kaki, Kania malah menjerit "Aaakkkhh! Sakit!" Pekiknya. Wily panik dan lekas menarik Kania ke pelukannya.
"Kamu tak apa?" tanya nya.
Kania melotot pada Wily yang begitu sigap menangkap tubuh wanita itu "Ka-kakiku... Kakiku terkilir" Ucap Kania.
__ADS_1
"Sayang sekali... Kalau begitu aku antar ke klinik" Jelasnya mulai meraih tubuh mungil Kania dan menggendongnya. Kania sungguh terkejut... "A-aku bisa naik kursi roda tuan" Pekik Kania canggung dengan wajahnya yang merah.
"Tak apa. Aku tak keberatan... Nanti jika dokter bilang kamu baik baik saja. Maka akan aku turunkan" jelas Wily. Kania sungguh malu... Seluruh pasang mata menatap ke arahnya. Marsah yang mengikuti Wily pun di buat ngos ngosan karna menahan kecemburuan besar pada kedekatan mereka.
"Wanita itu berulah lagi! Kemarin Hans yang menggendongnya... Sekarang tuan Willy... Dia memang harus di beri pelajaran! Berani beraninya wanita lusuh dekat dengan para jutawan! Menyabalkan!" Amuk Marsha tak terima.
Di sisi lain... Richi yang baru selesai mengambil resep obat malah berpapasan dengan Kania. Ia terbelalak "No nona! Apa yang terjadi" Richi panik.
"Ah Richi... Nanti aku jelaskan" Ucap Kania malu. Ia takut Richi salah sangka...
"Minggir!" ucap Wily. Richi mendonggakan wajahnya ke arah Willy dan terbelalak...
Kenapa nona Kania bisa berurusan dngan pria ini Bathin Richii...
"Minggir!" Tambanya... Richi pun mulai menggesr tubuhnya dan membiarkan Kania di gendong Willy.
Richi leks merogoh ponsel nya dan memotret lalu mengirimkan ke ponsel Hans, berharap Hans akan cemburu dan lekas mengambil Kania dari cengkraman Willy.
"Tuan... Nona Kania dalam masalah besar" isi pesan Richi.
"Richi... Tolong menyingkir" ucap Marsha di buntuti asistennya.
Richi menoleh Cih kenapa wanita ini datang lebih awal dari dugaan ku. Bathin Richi.
"Richi minggirlah..." pinta Marsha.
"Nona Marsha, kamar tuan muda ada di sebelah sana... Kenapa anda malah lari ke sini?" Tanya Richi.
__ADS_1
"Heh... Aku ada urusan lain" Ucapnya seraya melangkah kasar dan menabrak bahu Richi.
Richi tak habis pikir dan merasa sangat bingung pada kejadian hari ini.