
"Karna kau yang memulainya... Maka akan ku kabulkan!" Hans mulai balik menyerang Kania. Ia menindih tubuh Kania dan mengecup bibirnya mesra. Ia mulai meremas kasar dua buah dada Kania dengan sangat kasar.
"Ahhhh..." Desahnya Kania menikmati sentuhan itu.
"Aahh... Lakukan lagi..." Pinta Kania. Hans pun tak sabaran dan mulai melu*mat kembali bibir Kania dan mulai melepas pakaiannya. Hans tak sabar untuk melakukan hubungan suami istri dengan Kania. Tubuh Kania yang wangi membuat hasrat Hans makin memuncak.
Saat Hans hampir telanjang bulat, seseorang membuka pintu "Hah! Apa yang sedang kau lakukan!" Teriak seseorang. Hans menoleh ke arah suara itu dan betapa kagetnya kala dua bola mata Hans mendapati bahwa yang berteriak kala berdiri di daun pintu itu adalah Kania.
"K-kau! Lalu siapa yang ada di sini?" tanya Hans malu besar. Hans lun menoleh dan di lihatnya tumpukan bantal yang empuk itu telah berhasil membuatnya tergoda "Apa!!" pekik Hans lekas meraih selimut dan menggulung tubuhnya dengan selimut "Apa yang sedang kau lakukan di kamarku?" tanya Hans malu.
"A- aku hanya ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di sini" Jelas Kania.
Sial... Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat malu... Batthin Hans menggumam.
"Apa yang ingin kau ambil... Cepat ambil dan pergilah" Hans membuang wajahnya malu.
"Ahh tak jadi... Rasanya aku tak menjatuhkanya di sini" Balas Kania hendak pergi. Hans yang terlanjur malu mulai terpekik "Aahh sakit...!" Pekik Hans menjatuhkan dirinya ke matras. Kania kaget dan lekas mendekat.
"Ah... Apakah kamu baik baik sjaa?" tanya Kania mendekati Hans.
Hans tampak terkapar tak berdaya "Apakah aku harus menelpon dokter!' Pekik Kania. Tapi Hans belum bergeming sama sekali. Kania yang panik lekas meraih selimut dan menutupi tubuh telanjang dada milik Hans. Kania pun berdiri hendak keluar untuk memberi tahukan hal ini pada Richi.
Tapi siapa sangka, Hans hanya bercanda dan ia mulai meraih tangan Kania dan menjatuhkannya di matras.
Bruk!!!
"Aaakkhh!" Pekik Kania.
Hans lekas menindih Kania saat itu juga. Kania terbelalak dan tak percaya pada apa yang sedang ia lihat saat ini "Aku yakin... Kau juga bukan yang asli!" ucap Hans tiba tiba. Hans pun menahan dua tangan Kania oleh dua telapak tangannya yang kekar dan mulai mencium bibir Kania kasar.
"Ummhhhh! Lepaskan!" Pekik Kania terhalang bibir Hans yang ganas. Ciuman yang meraksak ke dalam hingga membuat kania kekurangan oksigen. Ia hampir mati karna tak bisa bernapas oleh desakan ciuman ganas Hans.
"Ummm..." Ringis Kania. Hans tersenyum puas, Hans mulai menciumi lekuk tubuh Kania.
"Hentikan! Brengsek apa yang ingin kau lakukan?" bentak Kania memaki Hans.
"Aku tahu kau bukan yang Asli... Jadi biarkan aku melakukannya" Ucapnya. Hans pun mulai mencium keras lehar kania hingga warna merah terpampang jelas di leher Kania.
"...Sakit" Erang Kania.
__ADS_1
Hans mulai tersadar kala menatap warna merah di leher Kania yang mulai tertera jelas.
Tok Tok! Pintu di ketuk... Hans pun mulai bangkit dari tubuh Kania dan sadar seketika itu "Ahhh apa yang aku lakukan. Aku pasti sudah gila..." Bisik Hans mencengkram kepalanya.
"Dasar berengsek!" Kania lekas mengingsut lalu menampar Hans dengan tangan kanannya.
PLAK!
"Tuan... Maaf menggangu... tapi ada seseorang yang ingin bertemu dengan nona Kania" Pekik Richi dari luar kamar Hans.
"Aku tak akan lupa atas apa yang telah kau lakukan... Hari itu dan sekarang. Bagiku, kau adalah pria brengsek... Yang tak akan pernah termaafkan!" Bentak Kania seraya bangun dari tempat tidur Hans.
Sedangkan Hans tak bisa berfikir sama sekali... "Apa yang sedang aku pikirkan..."
"Richi siapa yang ingin menemuiku?" Tanya Kania di luar kamar Hans.
"Tuan Wily tiba tiba datang dan menunggu di luar gerbang" Balas Richi.
"Oh begitu... Baiklah aku akan menemuinya" Kania terdengar pergi menjauhi kamar Hans. Sedangkan Hans mulai mengepalkan tangannya setelah mendengar nama Wily.
"Heh. Dasar wanita ******... Dia begitu senang saat pria itu datang menemuinya. Tapi... Dia sungguh berani menamparku beberapa kali semenjak aku berstatus jadi suaminya. Lihat saja... Aku akan membuat mu menderita Kania... Ingat itu" Ancam Hans bersumpah pada dirinya sendiri.
***
"Semalam apakah kamu tak apa apa?" tanya Wily khawatir.
"Ah ia... Aku tak menyangka jika Tuan Hans akan membuly ku seperti itu..." Balas Kania sedih.
"Maaf ya... Semua gara gara aku terlalu antusias mengajakmu ke pesta itu. Jadi kamu terlilit masalah besar deh" Wily sungguh tak nyaman.
"Tak apa... Lagi pula aku senang, Karna tuan Wily mau mengajak wanita terperti ku ke acara penting itu. Jika tuan Wily tak mengajakku... Mungkin aku akan bosa tinggal di rumah mewah ini" kania memang polos pikir Wily. Tak sengaja netra Wily menatap leher Kania yang merah pekat bah di gigit "Mark Kiss" Bisik Wily menyingkap rambut Kania dan mengelus area itu "Ah ada apa tuan' Kania menghindar.
"Ah maaf... Kenapa lehermu bisa merah begitu?" Tanya Wily curiga. Saat menatap warna merah di leher Kania, hati Wily sungguh marah dan tak terima.
"Apa? Merah... Mana mungkin... Oh astga jangan jangan karna serangga yang mengigitku semalam... Hahahaha" tawa kania mencari alasan. Karana ia sendiri pun tak tahu kenapa lehernya bisa merah begitu.
"Serangga malam ya..."Wily tersntak dan tak bisa merubah air wajahnya yang terlanjur kesal.
"Ahhh apakah tak ada hal lain?" tanya Kania.
__ADS_1
Wily kembali menatap Kania "Oh ia. Ini aku kembalikan, kemarin ponselmu tertinggal di mobilku" Jelas Wily seraya menyerahkan ponsel Kania.
"Wah. Terimakasih... Anda sungguh penertian. Saya sangat bersyukur punya teman sebaik anda" ucap Kania ke girangan.
Wily mulai diam dan menatap Kania tajam "Teman?" Bisik Wily.
Kania tercengang "Ah. Apakah anda terbebani dengan perkataan saya yang menyinggung nama teman?" tanya Kania bingung. Wily kembali tersenyum namun kali ini senyuman Wily terlihat pahit "Heh. Bagus juga... Kita memang sngat dekat karna kita adalah teman" Imbuh Wily membuang wajahnya.
"Oh ia apakah anda perlu masuk sebentar, aku akan buatkan kopi atau teh hangat untuk anda" Ujar Kania.
"Hem... Aku ingin sekali masuk, tapi... majikanmu pasti akan marah besar" Balas Wily. Akhirnya Wily pun putuskan untuk pergi dari kediaman Hans.
"Hati hati di jalan ya..." kania melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah Wily hingga Wily pergi dan menghilang.
"Sungguh pria yang baik..." Bisk Kania cengengesan.
***
"Tuan apakah anda baik baik saja?" tanya Oscar. Wily tetap diam dan menatap kosong.
"... Oscar, rasanya aku mulai menyukai wanita itu..." Ucap Wily. Oscar terkejut dan mulai menghentikan mobilnya.
"...Maaf tuan, tapi... Nona Megnt akan sangat marah jika dia tahu soal anda yang menyukai seseorang" Jelas Oscar.
"Heh. Megnt ya... Kenapa dengannya? Lagi pula kami bertunangan atas nama politik...belum tentu dia juga setia padaku" balas Wily menyungingkan bibirnya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan tuan?" tanya Oscar.
"...Tak ada... Biar aku sendiri yang cari tahu, siapa wanita itu sebenarnya. Dan lagi... Kenapa Hans sangat tertarik pada wanita itu... Dia memperlakukan Kania seperti mempelakukan wanita miliknya..." Dengus Wily kesal. Ia meremas kaleng bir hingga remuk.
"Jalan oscar kita ke kondominium ku" Pinta Wily. Oscar kembali melanjutkan perjalanan sesuai permintaan Wily.
***
Kania tampak senang ketika bertemu Wily "Heh... Apa yang membuatmu se bahagia itu?" tanya Hans sedikit kesal.
Kania mendelik ke arah Hans dan mulai bilang "Bukan urusan mu Bweee!" Balasnya ketus seraya menjulurkan lidahnya.
"Apa! Hei dasar kau... Kau pikir kau bicara dengan siapa? Dasar wanita sialan!' Hans terbakar emosi karna tingkah kania yang selalu kekanak kanaakan kala berbicara dengannya.
__ADS_1