
***
Pagi pun tiba, Kania membuka netranya perlahan lalu mencercep kannya beberapa kali untuk menyeimbangkan cahaya yang masuk ke pupil matanya.
"Ehhh..." Hal pertama yang ia lihat adalah langit langit kamar yang sedang ia tiduri "Di mana ini?" Bisiknya, ia pun mulai bangkit dan mengingsutkan tubuhnya ke kepala ranjang.
"...Bukankah aku sedang berjalan di tengah hujan? Tapi bagai mana aku bisa ada di sini? Apakah ini hotel? Suasana nya belum pernah aku lihat sebelumnya, lagi pula ini juga bukanlah kamarku..." Bisiknya.
Saat Kania dalam kebingungan dan sedikit cangung, seseorang datang dan mulai menyeru "Kau sudah bangun?" tanya suara pria. Kania panik da lekas masuk ke dalam selimut lalu bersembunyi di sana tanpa menoleh ke ara Hans.
"Ak! Siapa anda? Jangan lihat saya... Ini adalah ke salah pahaman!" Pekik Kania masih menggulung wajahnya di dalam selimut.
"Heh. Kenapa kau besikap se panik itu, kau pikir kau sedang bicara dengan siapa?" Tanya Hans.
"Ah... Maaf, tuan Wily, kenapa anda membawa ku ke mari. Kita bukanlah muhrim. Lagi pula, anda tak pernah berlaku se kurang ajar ini pada saya. Jadi tolong jangan salah paham akan kedekatan kita..." Cerocos Kania tanpa henti.
Mendengar Nama Wily sungguh membuat Hans marah. Hans lekas menarik selimut yang membalut tubuh Kania "Hah!" Netra Kania membulat seketika itu.
__ADS_1
"Kau lihat siapa yang ada di hadapanmu..." Tanya Hans sinis dengan menatap Kania tajam.
"Aku pasti bermimpi..." Bisik Kania mengedip kedipkan matanya seakan tak percaya.
"... Mimpi katamu... Dasar wanita merepotkan!" Hans marah, ia manarik tangan Kania dan menahan tangannya di kepala ranjang.
GRAP!!
"A-apa yang kau lakukan?!" Pekik Kania panik, ia menatap tangannya yang sedang di cengkram erat oleh Hans.
"...Lepaskan! Aku sungguh tak sudi bicara denganmu... Apapun yang kau lakukan, kau pantas di benci!" Pekik Kania berontak.
Hans mulai mencercidkan matanya sinis dan lekas mencekik leher Kania "Akkh... Sakit!" Pekiknya.
"Apa yang kau lakukan? Sakit! Lepaskan!!' Teriak Kania berontak.
"Kau sungguh benci padaku? Kalau begitu... Coba saja..." Hans mulai mendekatkan wajahnya dan mencium Kania dengan mata terpejam. Sedangkan Kania terbelalak tak percaya... Cium Hans tak begitu belarti, tak ada permainan di dalamnya. Tapi, entah kenapa... Kecupan itu membuat jantung Kania hendak meledak.
__ADS_1
Hans perlahan melepaskan kecupannya dan menatap netra Kania dengan seksama. Kania masih terbelalak tak percaya pada apa Yang Hans lakukan pada nya. Lalu Hans menyungingkan sebelah bibirnya tampak mencemooh "Hemmm... Coba lihat pandangan mata itu. Kau pikir, wanita yang membenci suaminya... Akan mau di kecup dan membiarkan bibirnya besentuhan? Kau memang payah!" Hans mulai melepaskan tangan Kania dan bangun menjauh dari wanita itu. Sedangkan Kania hanya bisa terdiam dan tak bisa menghentikan detak jantungnya yang menggebu bah genderang yang hendak perang.
"Kau diam... Artinya kau masih menyukaiku..." Ucap Hans. Hans lekas membalikan badannya dan mulai membuka pintu.
"Kau salah... Aku akan tetap bercerai denganmu..." Ucap Kania lantang. Hans pun terdiam di balik daun pintu... Ia tak ingin menoleh ke arah Kania.
"Heh... Kau pikir ini akan mudah..." Balas Hans.
"...Apapun resiko yang akan ku ambi, aku akan tetap bercerai darimu... Akan ku akhiri pernikahan konyol ini dan membiarkan mu bahagia dengan wanita pilihanmu" Tegas Kania. Dia memang bisa bicara se lantang itu, tapi entah kenapa, Hatinya sangat sakit bah di tebas sebilah pedang.
"...Aku akan lebih menyiksamu... Jika kau sungguh ingin bercarai denganku..." balas Hans seraya membuka pintu dan menutupnya keras.
BLAM!!!
Hans pergi dan tinggallah Kania di dalam kamar istimewa milik Hans. Baru pertama kali sepanjang pernikahan mereka, Kania di bawa ke kamar tersebut. Kania mulai menatap kosong, ada hal yang tak ia ingat sebelumnya... Ia tak paham kenapa tiba tiba dia ada di dalam kamar Hans dan memakai pakaian yang tidak dia kenakan malam itu.
"Siapa yang sudah mengganti pakaianku. Lalu, apa arti dari kecupan pria berengsek itu. Apakah ini juga termasuk dalam penghinaannya untukku... Aku memang bukan wanita sempuran. Tapi, apakah aku tak pantas untuk bahagi?" tanya Kania pada diriny sendiri.
__ADS_1