Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Terpikat?


__ADS_3

Malam makin larut, Tuan Angga terjaga di ruang tengah rumah Hans bersama putri bungsunya Ginaya.


"Ayah. Apakah kakak baik baik saja?" Tanya Ginaya tampak resah.


"Entahlah nak. Ini sudah cukup memakan waktu, apakah terjadi sesuatu pada Kania hingga Hans tak menemukannya?' Balas Tuan Agga terasa di lema.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Ginaya dengan wajah cemas, Bagi Ginaya, Kania bagaikan kakak perempuan yang brharga. Sejak ibunya tiada, Kania lah yang selalu menyuport dirinya. Hingga Ginaya sedikit takut jika hal buruk akan menimpa Kania.


"Apakah tuan Wily kembali dan mengambil nona Kania y? Bagai mana pun juga, Tuan Wilyem sangat murka pada tuan Hans, karna dia menyimpan dendam atas adiknya yang sekarat saat ini. Jika sampai, Hal tersebut terjadi... Maka, Tuan Hans dalam masalah..." Bathin Richi menggumam resah.


Saat seluruh isi rumah panik dan sangat resah, Titik fokus merka pun teralihkan dengan suara mobil yang Hans bawa.


"Apakah itu mereka?" tanya Ginaya lekas keluar rumah.


"Sepertinya itu benar" Balas Ayah Hans.


Mereka menyambut suara mesin mobil itu bersama sama, dan benar saja... mobil Hans pun mulai masuk begitu saja ke areakiran... Kediaman Hans.


Hans lekas keluar mobil dan menatap Ayah dan adiknya juga Richi berada di luar rumah seakan menyambut kedatangannya "Tuan. Apakah semua berjalan lancar?" tanya Richi menghampiri "Ya semua nya baik baik saja..." Jelas Hans menghampiri pintu mobil sebelah kiri, Richi pun membantu Hans membuka pintu itu dan Kania pun di keluarkan Hans begitu saja.


"Tuan ada apa dengan nona Kania?" tanya Richi panik.


"Dia hanya sedikit ke lelahan. Tak terjadi hal yang aneh kok tak perlu cemas..." Jelas Hans.


"... Tapi, aku merasa ada yang aneh dengan pakaian yang nona Kania kenakan tadi dan sekarang" Ucap Richi masih heran pda apa yang telah menimpa Kania.

__ADS_1


"Hus. Jangan bicara hal yang aneh aneh... Ku bilang dia baik baik saja itu saja kan sudah cukup! Kau ini... Dasar kepo" Marah Hans memaki Richi dengan Wjah yang merah pekat.


"Be-begitu ya..." Richi pun bungkam. Ia tampak curiga pada tuan nya yang mulai memerah kala ia menyinggung soal pakaian nona Kania. Dan mungkin saja di jalan tadi terjadi sesuatu hal yang menurut richi romantis.


"Kakak apakah kak Kania baik baik sajakan?" Tanya Ginaya khawatir.


"Apa yang terjadi padany?"Tanya Ayah Hans.


"Tadi dia ketiduran di mobil. Jadi aku harus membawanya ke kamarku..." Balas Hans leks mengabaikan ayahnya dan menggendong Kania ke kamar miliknya.


"... Kasihan sekali kak Kania..." Sedih Ginaya.


"Sebaiknya kita pulang dulu nak. Besok kita kalarivikasi lagi soal masalah isu yang beredar di medsos... kita harus biarkan menantu istirahat dulu" Jelas ayah Hans.


***


Kania di tidurkan... Ia tampak lelap di dalam pelukan selimut milik Hans. Hans tak bisa berbuat banyak, Ia haya bisa diam dan tak banyak berulah. Ia mulai duduk di samping ranjang dan menyibat rambut hitam lurus Kania lembut.


"Kenapa kau bisa bisa nya jadi istriku? Padahal aku tak mencintaimu sama sekali... Heh... Maaf saja jika kamu begitu menderita saat ada di dekatku. Karana aku pun tak punya hal berkesan saat dekat denganmu" Imbuh Hans mengoceh sendiri.


Hans tampak tak sadar jika dirinya mulai hanyut dan merasa terpikat oleh wajah Kania yang begitu imut kala terlelap. Hingga ia terus membelai rambut itu dengan nyamannya...


Namun ketika ia menyentuh jidak istrinya, Ia mulai tersadar jika Kania memang sedang tak baik baik saja. Kania sungguh sedang demam "Auh... Panas sekali" Bisiknya.


Lantas saja dia sampai tak kelas bangun. Padahal saat aku gendong tadi tubuhnya baik baik saja... Bisik Hans menggumam.

__ADS_1


"Bi! Tolong ambilkan baskom dan handuk kecil" Pinta Hans.


Tak berselang lama pun, Bi Marsih pun datang dengan benda yang Hans inginkan "Taruh di mana tuan?" Tanya Bi Marsih.


"Taruh di sini saja bi" Ucap hans seraya menunjuk meja lampu di dekatnya.


"Tuan. Apakah nona Kania baik baik sjaa?" tanya Bi Marsih.


Kenapa seluruh orang yang ada di kediaman ku sangat khawtir pada wanita ini. Memangnya apa yang sudah dia lakukan untuk mereka. Banthin Hans menggumam.


"Dia hanya terserang flu..." Balas Hans sedikit abai


"Oh ia tuan. Beberapa hari yang lalu... Nona Kania di belikan ponsel baru oleh teman pria nya. Bibi Khawatir jika nona Kania akan suka pada pria itu... Soalnya, saat bibi lihat di cctv, pria itu sanga tampan dan baik..." Jelas Bi Marsih.


Hans hanya menatap bi Marsih tanpa ekspresi tertentu "Lalu...?" tanya Hans dingin.


"Bibi hanya menyarankan... Bahwa jangan sampai anda ke hilangan nona Kania, karna dia adalah wanita baik yang bisa membawa anda ke dalam sebuah kebahgiaan kluaga..."Jelas bi Marsih.


"Apakah ada hal lain yang ingin bibi bicarakan lagi?" Tanya Hans tak terpengaruh.


"Tidak tuan. Kalau begitu saya permisi" Bi Marsih pun pergi meninggalkan Hans yang saat itu menjaga Kania.


Hans lekas menngambil handuk kecil itu dan memasukkan nya ke dalam baskom berisikan air dingin dan meletakannya di jidak wanita itu.


Karna lelah Hans pun terlelap di samping Kania...

__ADS_1


__ADS_2