Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Curiga...


__ADS_3

Hans keluar begitu saja dari dalam kamarnya, ia terlihat sangat tergesa gesa. Hingga langkah lebarnya di hadang oleh sang ayah, sang ayah tampak heran hingga ia mengerutkan dahinya seraya menatap lurus ke wajah sang anak "Hans. Kamu mau kemana? Kok buru buru?" Tanya Tuan Angga curiga.


Hans pun sontak kaget, karna ia tak menyangka jika sang ayah akan menghadang jalannya tanpa sengaja "Ah... Ayah. I-ini... Yah, ini ada masalah di kantor, kayaknya File yang aku kirim kemarin tertukar dengan File klien kita yang baru... Jadi aku harus menyelesaikannya ke salah pahaman ini dulu..." Bohong Hans mencari alasan agar ayahnya percaya.


Sang ayah makin curiga dan mengerutkan alisnya kembali hingga tatapannya menjadi tajam... "Benarkah? Kenapa bisa hal seperti itu terjadi... Kamu sedang tidak membohongi ayahkan?" Pertanyaan sang ayah lantas membuat Hans terpojok.


"Tidak... Eh Maksudku bisa saja yah. Soalnya, akhir akhir ini aku sedang tidak fokus..." Hans tak bisa menatap dua manik hazel sang ayah karna ia memang sedang berbohong.


Sang ayah mengangguk seraya menekan dagunya hingga bibirnya terlihat sedikit manyun "Emmm... ya sudah. Lekas pergi..." Balas sang ayah.


Hans mengembangkan pipinya tampak senang "Baik yah..." Hans mulai menjauhi ayahnya dan melangkah menuju pintu keluar.


"Tunggu Hans..." Pekik ayahnya. Hans kembali mematung dengan mata membulat sempurna. Ia tak berani menoleh ke arah ayahnya karna jantungnya terlanjur bedetak kencang seakan pecah. Ia amat takut jika kebohongannya akan terbongkar begitu saja.


"I- ia Yah. Ada apa lagi?" Tanya Hans perlahan menoleh ke arah sang ayah yang ketika itu tengah menghampirinya.

__ADS_1


"...Richi harus ikut" Pinta sang ayah. Hans sedikit terkejut... Richi tak bisa bohong pada ayahnya. Jika Richi ikut, rencana Hans pasti terbongkar dan ia akan kehilangan Kania lagi.


"Tak perlu lah yah... Aku bisa menyetir sendiri" Elak Hans.


"Lho kenapa? Kok kamu kayak yang parno gitu... Apa kamu lagi bohongin ayah?" Tanya sang ayah kian menusuk.


"Mana mungkin yah. Ayah kan tahu sendiri, Richi dan Ginaya lagi dalam tahap pendekatan... Jika Richi ikut. Nanti Ginaya pasti jutek pada ku... Jadi aku pergi sendiri saja..." Cerocos Hans seraya menjauh dari sang ayah.


Ayah Hans menatap di kejauhan tanpa komentar apapun. Tapi yang jelas hati tuan Angga seakan tak bisa di bohongi oleh anaknya itu.


Baru saja Hans mengeluarkan mobilnya dari garasi, gerbang pun terbuka dan sebuah mobil hendak masuk. Kini mobil Hans dan mobil Pazero merah malah berpapasan.


"Sial. Siapa lagi ini? Dia malah memblokade jalanku... Padahal aku sedang memburu waktu!!" Marah Hans memukul stirnya.


"Minggir!!" Pekik Hans menekan klaksonnya.

__ADS_1


"Tuan Hans!" Balas seseorang dari dalam sana...


'Sial. Siapa itu? Dari suaranya saja rasanya aku tak asing...' Bisik Bathin Hans.


Tak berselang lama, seseorang mulai keluar dan menghampiri mobil Hans "Tuan. Kebetulan sekali... Cepat ikut saya!" Pintanya terburu buru.


"Ada apa? Lagi pula... Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Aku sama sekali tak mengenal anda" Komen Hans.


"Ini aku! Laurent! Menegernya nona Marsha...!" Jelas Laurent.


"Oh. Kau... Kenapa panik? Apakah ada masalah di rumah sakit?" Hans sedikit cemas.


Lalu Lauren menarik Hans dari mobil nya dan menceritakan hal apa yang terjadi pada Marsha. Hans terlihar cemas, Alhasil... Hans malah meninggalkan mobilnya di halaman depan dan ia malah pergi bersama Laurent ke rumah sakit.


Hal ini akan menimbulkan kecurigaan Kania dan tuan Angga... Hal apa sebenarnya yang ingin Hans sampaikan pada Marsha. Apakah Hans akan memperjelas statusnya yang kini telah beristri dan mulai mencintai Kania, hingga akan memutuskan Marsha dengan tegas?

__ADS_1


__ADS_2