
***
Siang menjelang... Rupanya Marsha membawa Hans ke sebuah restorant yang telah di boking oleh Wily dan Kania...
"Maaf... Tapi tempat ini sudah di pesan oleh seseorang sebelumnya. Jadi... Kami tidak bisa membiarkan ada pelanggan lain di restoran kami. Kami sungguh minta maaf" Jelas pramu saji restorant itu.
"Huh apa apaan itu! Memangnya siapa yang memesan... Apakah kalian tidak tahu, jika saat ini kalian sedang berhadapan dengan siapa?" Marah Marsha menantang
Namun tiba tiba Oscar datang dan menyuruh Marsha masuk begitupun Hans. Di sana Hans sedikit curiga, pasalnya ia kenal dengan supir pribadi Wily jadi saat ini perasaannya memang sedang tidak enak.
"Masuklah..." pinta Oscar.
"Terimakasih... Sayang Ayo" Ucap Marsha mulai bergelendong di sikut Hans. Mereka berjalan begitu anggun dan elegant.
Namun saat sampai di tempat yang ingin mereka singgahi, mata Hans mulai membulat sempuran. Ia lihat istrinya sedang makan siang bersama pria yang baru saja ia temui di rumah sakit tadi pagi.
Dia lagi dia lagi! Apa yang ingin dia lakukan? Huh... Kemana pun aku melangkah kenapa dia yang slalu aku lihat! Ugh sial!" Bentaknya dalam hati.
"Sayang kita makan di sebelah mereka" Ucap Marsha menarik Hans ke arah di mana Kania bersama Wily tengah duduk.
"Se baiknya kita cari tempat yang lain saja!" Pinta Hans menolak.
"Tidak. Ini kesempatan bagus... Ayo kita duduk di sana saja..." Pinta Maesha bersikeras. Akhirnya, Hans pun pasrah dan mulai mengikuti langkah Marsha, ia tertunduk malu kala Marsha menghampiri Wily.
"Selamat siang tuan Willy, kita bertemu lagi di sini ya..." Wanita itu tampak sedang merayu dengan suara manjanya.
__ADS_1
Wily menoleh ke arah Marsha "Ah... Anda, kebetulan sekali... Apakah kalian ingin makan di meja yang sama?" tanya Wily dengan tatapan menyoroti netra Hans seakan pamer.
"Heh. Tidak terimakasih, kami akan cari meja lain sja" balas Hans ketus. Namun tatapan Hans di buat membulat oleh ke lakuan kekasihnya yang langsung duduk menyosor kursi Willy. Hans pun tak bisa berbuat apapun selain mematung kala Marsha bercengkrama dengan Willy begitu dekatnya.
"Astaga...!" Hans hanya bisa berdecap demikian.
Akhirnya mereka pun duduk dalam satu meja yang sama. Marsha amat bahagia dan tak berhenti bicara, sedangkan Kania hanya bisa menatap Hans lurus dan tajam begitu pun Hans.
"Mari makan..." ucap Wily menepuk Kania yang tampak pokus kala menatap suaminya yang saat itu duduk di hadapannya.
Kania mulai bergeming hingga ia pun terpekik"Ah..." Kania segera membuang tatapannya dan lekas mengangguk ke arah Wily sungkan.
Sedangkan Hans yang merasa gemas pada kelakuan Kania itu hanya bisa diam dan mengumpat dalam hatinya Heh... Pintar sekali dia merayu pria lain... Heh. Lihat saja, jika sampai ayah tahu apa yang telah kau lakukan... Habis sudah semua sandiwara mu itu. Bathin Hans menggumam kesal.
Hans, Marsha dan Wily menyantap lahap sembari bercengkrama tampak akrab. Namun Kania sama sekali tak nyaman berada di antara mereka... Mau bagai mana pun, Kania tetap saja tak cocok berada di antara orang orang berada. Ia sungguh canggung "Uhuk!" Kania tersedak oleh pasta pedas sepaygeti. Hans menatap refleks namun Wily lekas memberi Kania segelas air dengan sigapnya.
"Terimakasih..." Kania lekas meletakkan gelas tersebut di sampingnya.
"Jangan sungkan... Apakah sudah baikan?" Tanya Willy. Kania mulai mengangguk diam "Syukurlah..." ucap Wily lekas mengusap sisa air di bibir bawah Kania. Hans lekas marah dan memaki Kania "Makanya kalau makan pelan pelan dasar rakus!" Bentaknya marah besar. Kania lekas membuang wajahnya yang saat itu tengah terpana oleh ke baikan Wily dan mengandai andai Wily adalah suaminya.
"A-apa masalahmu... Ka-Kau pikir aku mau tersedak hah?!" Kania mulai bangkit dan mulai mundur dari kursinya.
"Mau kemana?" tanya Wily meraih tangan Kania.
"A-aku ingin ke toilet sebentar" Balas Kania mulai menarik tangannya dan mulai menatap Hans tajam, Hans membalas tatapan Kania dengan tatapan yang sama.
__ADS_1
Karna benci, Kania pun mulai membuang wajahnya "Aku pergi" Ucap Kania lekas melangkah ke arah di mana toilet berada sesuai petunjuk arahan.
"Sayang. Ada apa denganmu? Kenapa kamu begitu perduli padanya?" Tanya Marsha menekan nada bicaranya.
"Ah... Itu..." Hans lekas menekan kepalanya dan mengelak pertanyaan Marsha. Sedangkan Willy hanya menatap Hans penuh curiga.
Aku yakin... Hans dan Wanita itu punya suatu hubungan yang cukup misterius. Tak mungkin hans bisa berlaku demikian saat aku mendekati wanita itu. Heh... Jika wanita itu sungguh berpengaruh untuk spikologis Hans... Jangan salahkan aku, jika aku akan membalas dendamku dengan cara yang cukup menyenangkan untukku... Bathin Wily menggumam senang. Ia lekas meraih gelas dan meminum air putih seraya tatapannya tak luput dari pria yang ingin ia balas itu.
***
Toilet... Karna panik, Kania tak melihat gambar yang tertera di daun pintu. Ia lekas menerobos toilet pria dan segera mendonggakan kepalanya ke arah di mana para Pria berdiri. Langsung saja keributan terjadi "Aaaa! Ada wanita!" pekik Para pria yang kaget dan lekas menutup rel sleting mereka dengan tergesa gesa. Kania pun terpelalak dan ia pun lekas keluar dengan terburu buru "Maafkan aku!"
BLAM!
"Astaga... Apa apaan ini... Kenapa aku bisa salah masuk! Aah sial!" bathin Kania. Kania lekas masuk toilet yang seharusnya dan mulai mencuci wajahnya di wastafel. Ia menatap wajahnya di sebuah cermin besar tersebut dan bertanya pada dirinya "Kania... Nasib mu sungguh buruk" Bisiknya menepuk nepuk wajahnya hingga memerah.
Toilet terasa hening karna hanya Kania yang ada di sana. Ia segera meraih tissue dan lekas mengeringkan wajahnya. Ia pun segera membenahi pakaiannya dan lekas keluar dari toilet tersebut.
Ia mulai ada di luar toilet wanita. Namun ia tak pernah menyangka jika ia akan kedatangan seseorang "Ikut aku!" Hans nampaknya menunggu Kania kedatangan sedari tadi, Hans menarik paksa tangan Kania dan membantingnya di dinding.
Brukkk!! "Aaahh!" Kania terpekik. Hans melempar Kania ke tempat yang cukup sunyi dan tak banyak orang lalu lalang di area itu "Sakit!" Pekik Kania menatap Hans gemas.
Hans mendekati Kania dan menggebarak tangannya di dinding itu. Kania lekas diam dan terpana. Ia sungguh kaget kala menatap mata Hans yang begitu murka padanya "Dengar!' Dengus Hans kesal...
Kania hanya bisa menatap Hans yang berada begitu dekat dengannya, amarah Hans tanpa sebab hingga membuat Kania bingung "... Kau boleh berkencan dengan siapapun! Aku tak perduli... Tapi, yang ada yang harus kau ketahui... Pria yang selalu mendekatimu itu. Bukanlah pria baik baik... Jadi, sebaiknya kau tak perlu pamer di hadapanku! Kau paham!" Bentak Hans memastikan Kania dengan penjelasan yang cukup keras. Kania tak masalah dengan amarah Hans, namun yang membuatnya sakit adalah kenyataan bahwa Hans sama sekali tak cemburu padanya. Hans sama sekali tak perduli padanya.
__ADS_1
"Ingat... Kau jangan salah paham. Karna aku sama sekali tak perduli padamu!" tambahnya seraya menjauhi Kania dan pergi meninggalkannya.
Kania hanya bisa menatap punggung Hans yang berlalu itu, tatapan berkaca kaca mulai menghiasi dua bola mata indah miliknya itu. Kania nampaknya putus asa bahkan ia lebih dari patah hati oleh kata kata Hans yang begitu sadis baginya.