
"Ini adalah ruang kerja ku..." Imbuh Wily memperkenalkan Kania ke dalam ruangannya yang bersih dan rapi. Seluruh buku tertara rapi di lemari kokoh yang mewah. Meja kerja beserta kursi yang selalu menemani Wily tampak begitu rapi tanpa debu yang nampak, meski beberapa berkas bertumpuk di samping meja kerjanya.
"Be-besar sekali..." Bisik Kania gugup.
"Coba lihat di sana..." Ucap Wily menunjuk jendela. Ia pun melangkah ke sana dan meraih remot lalu menekannya. Hingga tirai pun terbuka... Kania tersentak saat dua netranya di suguhkan pemandangan yang sangat menarik.
"Wahhh... Astaga..." Kania terpekik takjub.
"Kamu menyukainya?" Tanya Wily. Kania masih terbelalak tak percaya dan melangkah ke arah jendela ruang kerja Wily. Di lihatnya puluhan rumah tampak kecil berhampar. Dan gedung gedung pencakar langit tampak begitu tinggi di hadapannya. Ia melihat jalan jalan pun tampak kecil di atas sana.
Ini sungguh menarik... Aku belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Bathin Kania.
"Nah Kania... Mana berkas data dirimu (lamaran). Sini biar aku teliti..." Pinta Wily. Kania yang saat itu msih takjub pun seketika membuyarkan pikirannya dan mulai mengikuti langkah Wily. Ia berdiri di depan Wily yang saat itu duduk di meja kerjanya.
"Duduklah..." Pinta Wily.
Kania mulai mencari berkas kerjanya di dalam tas hitam miliknya. Lalu menyerahkannya pada Wily "Ini tuan..." Ucap Kania. Wily meraih berkas itu dan lekas membacanya...
Beberapa hal tak membuat ia terkejut, namun saat ia membaca riwayat hidup kania. Ia pun terbelalak ketika menatap kartu tanda pengenalnya "Menikah? Apakah kamu sudah menikah?" tanya Wily kaget Sembari menatap Kania dalam dalam dengan mata membulat.
"...Eh. Ia... Saya sudah menikah... Tapi, " Kania seketika itu menunduk. Wily tampak mssih puas akan jawaban Kania "Tapi...?" Tanya Wily sigap.
"Tapi... Aku sedang mengumpulkan uang untuk bercerai dengannya" Kania sungguh polos. Ia bahkan membeberkan urusan rumah tangganya pada orang lain.
"... Untuk bercerai? Apakah ini alasannya hingga kamu mau bekerja di perusahaanku?" tanya Wily begitu penasaran pada gadis itu. Mendengar Kania ingin bercerai dengan suaminya membuat hati Wily bahagia.
"...Sepertinya begitu. Maaf jika saya sangat egois karna mamanfaatkan tawaran anda untuk bekerja" kania masih menunduk dan enggan menatap Wily.
"Kalau begitu aku sangat senang membantumu. Jika hubungan pernikahan hanya mengikat dan membuatmu sakit... Sebaiknya di lepas saja. Karna itu akan membuatmu lebih baik..." Jelas Wily tampak menghasut.
"...Anda benar" Kania tampak lesu.
"Yap. Kalau begitu... Apakah kamu bisa membuatkan kopi hitam untukku?" tanya Eily mulai menyender di kursinya.
"...Membuat Kopi hitam?" tanya Kania bingung.
"Ya. Kamu bisa kan?"
"...Ia. Tapi, saya tak melihat ada dapur di ruangan anda?" Kania celingukan.
__ADS_1
"Tentu. Karna kamu akan membuatnya di dapur lantai dua" Jelas Wily. Kania mengangguk "Oscar akan membantumu untuk menunjukan di mana tempatnya" Jelas Wily. Baru saja Kania punya tugas pertamanya. Seseorang datang dengan mengetuk pintu dua kali "Masuk..." Ucap Wily.
"Tuan ini kopi hangat anda..." Balas seorang wanita cantik yang berjalan lenggak lenggok. Ia tampak rapi ketika mengenakan seragam kantor tersebut. Wily menatap tajam ke arah wanita itu "Rena. Aku tak menyuruhmu membuat kopi..." Jelas Wily.
"...Tapi. Ini sudah jadi kebiasaan ku...' Balasnya seraya melangkah ke pinggir meja hendak meletakan kopi itu di samping Wily. Tapi entah tangan Rena licih atau teledor, Rena malah menumpahkan kopi itu di paha Wily.
Byuurr!! "Aaakk!!" Erang Wily tampak langsung berdiri dan berjingkrak ke panasan "Ah tuan maafkan aku!' Teriak Rena menutupi mulutnya.
"Sial... Kau ingin membunuhku ya!" Teriak Wily mendorong tubuh Rena hingga tersungkur di lantai.
"Aahhh ini panas sekali. Dasar wanita kurang ajar!" Tiba tiba Kania melihat sisi Wily yang menakutkan dan sangat kasar.
"Tuan muda! Apa yang terjadi?" Teriak Oscar menghampiri. Sedang Kania hanya berdiri da tak berbuat apa apa pada pria di depannya itu.
"Oscar. Panggil petugas medis... Ini sangat menyakitkan!" Teriak Wily mengelus pahanya yang terasa terbakar.
"Baik...' Oscar menelpon petugas medis perusahaan itu dan tak menunggu lama sebuah tandu pun mulai di datangkan para petugas itu.
Seketika Wily mulai di angkut keluar. Sementara Rena mulai berdiri dan menghampiri Kania "Hei kau..." Pekik Rena. Kania menoleh "...Ah. Ya aku?" Tanya Kania menunjuk dirinya sendiri.
"Ya kamu..." Rena menghampiri Kania.
"...Mamang ada apa?" tanya Kania bingung. Rena menyungingkan bibirnya.
"Sekarang kau masih aman karna nona Meght tidak ada di indonesia. Tapi jika ia pulang ke mari dan melihat kalian masih bersama... Maka, tamatlah riwayatmu" Jelas Ren.
Megant? Memang siapa dia. Bathin Kania menggumam ia tampak takut pada gertakan Rena.
"...Pasti dalam pikiranmu yang sempit itu, kau bertanya siapa Megnt bukan? Akan ku beri tahu.. Megnt adalah..." Saat Rena hendak membeberkan rahasia Wily. Oscar datang dan menyelot pembicaraan Rena "...Nona Kania. Saya akan antar anda pulang" jelas Oscar yang tiba tiba masuk hingga Kania tak bisa mendengar lanjutan kalimat Rena.
"Ah baik..."
Oscar dan Kania mulai keluar dari ruangan Wily. Rena curiga pada berkas yang ada di meja Wily. Hingga ia pun meraihnya dan mengambilnya tanpa di ketahui oleh Wily.
"Kau ingin menggantikanku jadi assisten pribadi tuan Wily... Heh, yang benar saja" bisik Rena lekas meraih berkas tersebut lalu keluar dari ruangan Wily.
***
Dalam perjalanan pulang...
__ADS_1
"Nona maaf hari ini sangat kacau"Ucap Oscar.
Kania yang duduk di kursi belakang hanya bisa menatap mata Oscar di kaca sepion depan "Tak apa. Tapi apakah tuan Wily baim baik saja?" tanya Kania khawatir.
"...Pahanya terluka parah seperti terbakar. Jadi dia mungkin saja cuti beberapa hari ini..." jelas Oscar.
"Begitu kah? Oh... Kasihan sekali" Ucap Kania.
"... Jika anda tidak sedang sibuk. Anda bisa menjenguknya di rumah sakit tempat adik tuan muda di rawat" Jels Oscar.
"Begitu ya... Ya nanti saya akan datang ke sana" Balas Kania.
"Oh ia nona... Kita hampir sampai. Tuan muda menyuruh saya memberikan katong kecil ini pada anda" Oscar mulai mengesampingkan mobilnya menyerahkan kantung kecil yang di tentengnya tadi.
"Apa ini?" tanya Kania.
"Itu adalah ucapan maaf dari tuan Wily..." Jelas Oscar.
"...Tapi saya tak pantas menerimanya" Tolak Kania.
"Tolong terima. Jika tidak maka tuan Wily akan sangat marah pada saya..." Jelas Oscar bersikeras.
Akhirnya mau tak mau Kania menerima kantung kecil itu sebagai hadiah. Kania mulai turun dan lekas masuk kediaman Hans...
***
Sepanjang jalan menuju rumah Hans Kania sungguh risau. Ia takut jika kelak saat bekerja dengan Wily. Wily akan memakinya seperti saat memaki Rena. Hingga ia melangkah dengan tatapan kosong sebab terlalu banyak hal yang ia khawatirkan. Hingga ia tak perhatikan seisi rumah itu...
"Wah wah... Kenapa kau pulang secepat ini?" Tanya Hans membuat Kania tersentak.
"Apakah kau di tolak. Sudah ku bilang gadis desa seperti mu mana ada yang mau mempekerjakan..." Hans mengoceh dan membuat Kania kesal.
"...Sebaiknya, besok kau tak perlu ke mana pun. Karna kau memang tak pernah di butuhkan siapa pun!" Sambung Hans tampak belum puas.
Kania yang sedikit kesal pada Hans mulai mengabaikannya dan terus berjalan ke arah kamarnya... Hans kesal dan ia menawarkan uang yang tak sedikit untuk menarik Kania "...Jika kau ingin uang. Datanglah bekerja denganku. Akan ku gajih 5juta perhari.. Apakah tawaranku bagus?" tanya Hans.
Kania yang mendengar uang yang besar pun mulai menoleh... "5 juta perhari?" tanya Kania menatap Hans intrents.
Hans tersenyum Dapat... Ternyata mudah mengalihkan wanita ini. Bathin Hans menggumam.
__ADS_1