Cinta, setelah pernikahan

Cinta, setelah pernikahan
Ada yang marah?


__ADS_3

***


Pagi mulai tiba...


"Pagi tuan..." Sapa para pelayan.


"Pagi..." Hans lekas duduk di kursi meja makan lalu sarapan sepiring roti hangat dan segelas susu pullcream.


Hans tampak celingukan mencari Kania, Tapi nampaknya ia tak dapati wanita itu di area tersebut "Tuan, siapa yang anda cari?" tanya Richi yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


"...Tidak, aku tak cari siapapun" Balasnya.


"Begitu ya. Oh ia, hari ini anda ada pertemuan penting dengan klien dari Korea selatan tuan Young Hi" Jelas Richi.


"Oh... Jam berapa dia akan datang?" tanya Hans tampak gelisah.


"Mungkin sekitar jam 12 siang. Saat makan siang tiba" Jelas Richi.


"Oh begitu ya... Baiklah. Aku akan selesaikan sarapan lalu pergi" Hans makan tergesa gesa hingga ia menyisakan remah roti di samping bibirnya.


"Ini..." Ulur seseorang menyodorkan tisue untuknya. Hans pun meraih nya tanpa melirik "Terimakasih Richi" Ucap Hans.


"Jangan sungkan" Balas suara Kania. Hans pun terperanjat dan menoleh "Heh... Kenapa kau tiba tiba ada di sini?" Hans sedikit kaget.


"Kenapa? Aku yang menyiapkan makanan mu. Tuan pikirannya penuh dengan kotoran!" Bals Kania seraya pergi.


"Heh. Apa? Sekali lagi kau bilang begitu... Aku usir kamu!" Bentak Hans marah besar, wajahnya memerah pekat.


"Terserahlah... Pekerjaanku sangat banyak dan bertumpuk. Lagi pula, apa bedanya aku dengan pembantu?' Deliknya seraya pergi.


"Cih apa apaan dia. Mengeluh begitu, seharusnya kau bersyukur... Punya tempat tinggal pun sudah untung!" Mood Hans jadi jelek gegara ucapan Kania.

__ADS_1


"Richi. Ayo pergi!" Bentak Hans seraya meraih jasnya dan mulai melangkah kesal ke arah pintu keluar.


***


Kantor...


"Sayang..." Marsha datang dan mulai duduk di paha Hans. Tapi netra Hans acuh pada nya karana sedang mengetik keyboard di depannya.


"Sayang... Lusa kan adalah hari ulang tahunmu... Bagai mana kalau kita rayakan di Villa ku?" tanya Marsha. Hans yang sibuk hanya bisa menjawab "Ya. Terserah padamu saja" Balasnya tanpa menghiraukan ucapan nya.


"Benarkah? Aku ingin siapkan pesta yang sangat meriah" Balas Marsha.


"Ya. Boleh juga..." Acuh Hans.


"Ok. Aku pulang dan segera siapkan segala ke perluannya..." Marsha mulai berdiri dari duduknya dan lekas menjauhi Hans. Tak lupa ia mengecup pipi kiri dan kanan Hans.


"Aku pulang dulu... Karna masih banyak pemotretan yang aku lewatkan tadi" Imbuh Marsha.


Nampaknya Marsha sebal karna telah di abaikan... Ia pun keluar dengan membanting pintu tersebut sedikit kasar.


BLAM!


Hans hanya menatap pintu itu lalu diam sejenak, ie mulai menyenderkan tubuhnya di kursinya dan mulai memijat kepalanya yang sedikit pening.


Sial! Kenapa sejak Wanita itu kenal dengan Willy... Hatiku jadi tidak tenang begini. Aku harus laporan pada ayah... Agar pernikahan palsu ini segera di usut. Aku tak mau menanggung benalu di benakku. Apa lagi, hanya untuk wanita kotor seperti Kania. Bathin Hans menggumam. Ia berniat mengumpulkan bukti perselingkuhan Kania dengan Wily lalu berniat menceraikannya.


***


Kania memasak hidangan makan malam di bantu beberapa pelayan...


"Nona... Biar kamu saja yang selesaikan" Pinta para pelayan.

__ADS_1


"Tidak... Kalian pasti lelah. Jadi aku ikut membantu memasak hidangan yang tak seberapa ini" Balas Kania.


"Anda sungguh baik hati..." Ucap bi Marsih.


"Tidak... Ini juga tanggung jawab ku sebagai istri dari suamiku"


Ya... Tugas istri yang tak pernah di anggap oleh suaminya sendiri. Gumam Kania dalam hatinya.


Setalah menatap meja cukup lama... Hidangan pun mulai siap dan tertata begitu cantik di meja makan. Hans kembali dari kesibukannya, namun ia kembali bersama kekasihnya. Kania sungguh kesal karna Marsha ada di samping Hans.


"Wah wah... Ada acara besar apa ini?" tanya Marsha terkesima oleh hidangan yang Kania masak.


"Tuan... Silahkan duduk" Ucap Para pelayan.


"Mewah sekali sayang. Apakah kamu punya koki baru di rumah ini?" Tanya Marsha mulai mendudukan Hans di kursi dan ia pun duduk di sampingnya.


"Ini adalah hasil kerja keras nona Kania" jelas Bi Marsih.


"Nona?" tanya Marsha menatap Hans.


Hans abai dan enggan membalas, padahal Kania saat itu berharap pujian dari Hans. Apa apaaan pria ini. Sok keren sok dingin padahal dia adalah monster... Setidaknya hargai lah hasil kerja keras orang lain. Dasar psycopath! Bathin Kania menggumam kesal.


"Ayo makan... Aku yakin rasanya tak seenak kelihatannya" ucap Hans ketus.


Heh. Aku tak akan mau memakan masakan wanita itu. Tempo hari dia berniat membunuhku gegara masakannya... Bathin Hans menggumam.


"Wah enak!" pekik Marsha di suapan pertama.


Kania amat marah pada wanita itu dan ingin sekali menyiramnya dengan air mendidih. Sembari menggigit bawah bibirnya hati Kania menggumam Seharunya aku yang duduk di sampingnya lalu berkata demikian. Kenapa derajatku lebih rendah tiga tingkat di banding para pembantu ini. Bathin Kania.


Karna tak kuasa menatap ke mesraan Hans dan Marsha. Kania pun putuskan untuk keluar dari suasana itu. Ia lebih memilh menahan lapar di sebuah ruangan yang ia sebut kamarnya. Bahkan ia tak bisa merasakan hangatnya kasih sayng Hans. Apa lagi malam indah bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2