
"Tunggu! Kita mau kemana?!" Teriak Kania sedikit berontak. Hans tetap bungkam... Kania pun mulai memperhatikan jalan di sekitarnya.
...Ini bukan jalan menuju kamar Mas Hans... Apakah aku akan di kurung di kamarku, Bathin Kania menggumam....
Kania pun keget sebab kamarnya pun telah terlewati. Akhirnya Hans pun menghentikan langkahnya dan Kania mulai terbelalak.
"...I-ini..." Kelu Kania memperhatikan sekeliling.
"Kau lihat kan? Ini adalah kolam rengang ke diaman ku... Sekarang kuras airnya lalu sikat sebersih mungkin... Kau paham kan?" tanya Hans.
Kania mengerutkan alisnya "Tapi Mas..." Kania sungguh tak paham.
"Kenapa? Ingin komentar lagi?" tanya Hans menatap Kania sinis.
"...Tapi, inikan tugas pembantu Mas. Dan lagi... Mana bisa di kerjakan sendiri dan aku sedikit lelah" Komen Kania.
"Kamu itu... Di kasih kerja ringan ngeluh. Di kasih tugas beginian ngeluh juga... Sudah sana, jika tidak mau mebngurusi ku. Setidaknya urus rumah ku juga... Aku akan mengawasimu di sini..." Hans mulai duduk di kursi santai lalu merebahkan dirinya.
"...Tapi mas. Emang kamu nggak kerja?" tanya Kania.
"Nggak. Aku cuti untuk beberapa hari..." jelas Hans.
"...Lalu... Tugas kantor?"
"Kenapa kamu khawatir pada pekerjaan ku? Kerjakan lah pekerjaan mu... Dasar bawel" Umpat Hans ketus.
Huh. Kenapa juga aku harus menerima tawaran seperti ini? Bathin Kania.
"Cepat kerja. Ambil peralatanmu lalu sikat kolam ini sampai bersih... Kau paham kan maksudku?" Tanya Hans mulai bangun dan menunjuk nunjuk Kania.
"Huh. Menyebalkan baiklah..." Bisik Kania nyaris tak terdengar. Hans kembali rebahan dan mengintip dengan ekor matanya.
Anggap saja ini sebagai hukuman karna kamu selalu ngobrol bersama pria lain. Lagi pula... Aku juga tak suka pada Wily, heh... Kita lihat. Sampai di mana kau bisa bertahan dan memohon ampun padaku. Bathin Hans menggumam.
Beberapa menit kemudian...
__ADS_1
Kania mulai berkerigat karna menyikat lantai kolam yang memang terawat hingga tak ada yang perlu ia bersihkan lagi, ia pun melangkah ke area drynase untuk menguras air kolam itu. Namun sesuatu menbuat matanya menoleh ke arah kolam.
"Apa itu?" tanya Kania menghampiri sebuah kotak merah berbentuk hati tersangkut di tangga kolam. Ia pun mengambil jaring lalu menangkapnya.
"Ini... Lucu sekali" Seru Kania. Nampaknya kotak hati yang di lempar Hans tak di temukan siapapun saat para pelayan bersih bersih. Malah Kania yang menemukannya.
"Apa isinya ya? Apakah aku boleh membukanya?" gumam Kania mulai membuka kotak hati itu.
Setelah kotak itu terbuka, pandangan Kania mulai berbinar "Wah. Ini indah sekali..." Pekiknya seraya berjingkrak.
"Horeeee! Aku menemukan harta karun! Pasti kalau di jual harganya sangat mahal" pikir Kania.
Hans terganggu oleh teriakan Kania hingga mulai bangun dan menatapnya langsung "Apa yang sedang kau lakukan? Memang pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Hans di kejauhan.
"...Mas, aku menemukan kalung cantik!" Teriak Kania ke girangan.
Hans mulai tercengang "Kalung?" tanya nya.
Hans mulai ingat lalu kesal, Ia pun menghampiri Kania dan merampasnya "Jangan sembarangan mengambil!! Ini adalah barang yang ku buang kemarin!" Bentak Hans.
Kania curiga "Kenapa di buang itu kan bagus!" Teriak Kania.
"Tidak! Biarkan aku memiliki ini!' Kania berontak seraya meraih kotak kecil itu.
Hans sungguh murka dan merampas kasar lagi kotak itu dari tangan Kania "Mas!!! Balikin!!! Sayang kalau di buang!" Pekik Kania masih terobsesi.
Hans menatap mata Kania dengan penuh emosi lalu melempar kembali kotak kecil itu ke tengah kolam. Kania menoleh ke arah Hans melempar kotak itu "Mas! Kau sungguh keterlaluan!" Bentak Kania seraya pergi dari hadapan Hans.
"Sebaiknya bekerjalah... Jangan buat masalah!" Desis Hans kesal. Tangannya mengepal erat...
Hans pikir Kania akan kabur karna marah pada Nya. Tapi nyatanya Kania melangkah ke arah kolam dan mulai meraih kotak merah yang tak bisa ia jangkau.
"Hei Hati hati. Kau bisa tenggelam nanti!" Teriak Hans di kejauhan.
Baru saja bicara demikian, Kania malah terpeleset dan tercebut BYUUURR!!!
__ADS_1
Mata Hans mulai terbelalak dan lekas berlari menghampiri Kania "Hei. Kau baik baik saja?" Panik Hans.
Kania tampaknya tak bisa berenang "Keterlaluan!!" Hans sangat marah pada Kania. Tadinya ia ingin menolong Kania yang terus berusaha menjaga kepalanya.
"Tolong!!!" Teriak Kania berusaha muncul ke permukaan. Tapi Hans yang kesal tetap diam tanpa bergeming "Tolong!!" Kania terus teriak meski dengan suara yang sedikit parau.
"...Urus saja urusan mu sendiri. Kenapa malah selalu membuat masalah dan membuatku makin sebal padamu!" Bentak Hans.
Lalu Richi datang dan mulai memaksa Hans "Tuan! Apa yanh sedang anda lalukan? Cepat tolong nona Kania!!" teriak nya.
Hans mulai sadar pada apa yang ia lakukan dan lekas melompat ke air meski ia sedikit terlambat....
Di dalam Air... Kania sudah hampir ke habisan napas dan lemas. Netranya mulai sedikit gelap dan penglihatannya pun memudar. Namun saat ia tengah tenggelam... Remang remang, ia lihat... Seseorang berenang menghampirinya. Lalu menarik tangannya... Gelembung udara mulai keluar dari mulut Kania dan membuatnya memejamkan mata.
Hans panik dan lekas memberikan sebagian napasnya lewat sebuah ciuman... Sesaat Kania mulai membelalak kala Hans melakukan hal trsebut.
Hans melepas kecupannya dan menatap Kania yang saat itu melotot padanya...
Aahhhh... Apakah ini halusinasi ku? Bathin Kania menggumam.
Hans lekas memeluk erat Kania lalu berenang ke atas permukaan... Kania masih tak percaya pada apa yang sedang ia lihat dan simak saat itu.
Byuuur! Hans muncul ke permukaan bersama Kania "Tuan anda baik baik saja?" tanya Richi khawatir.
"Hosh! Hosh! Hosh! Ya aku baik baik saja... Mana Bi Marsih... Bawa wanita pembuat onar ini ke kamarnya. Hari ini dia sudah banyak sekali membuat masalah!" Marah Hans.
Kania mendelik tajam ke Hans lalu membuang wajahnya kesal "Kau pikir kau sedang apa? Apakah ini caranya membalas pertolongan ku tadi?" tanya Hans kesal.
"Huh. Tapi aku tidak meminta mu menolongku" gumam Kania membantah.
"Oh begitu ya! Kalau begitu... Aku akan melepaskan pelukan ku dan membuatmu kembali tenggelam!" Jelas Hans memperingatkan Kania.
"Ah tidak tidak! Jangan!" Kania lekas merangkul tubuh Hans sangat erat karna takut kambali temggelam.
"Hemm..." Hans mulai menyungingkan bibirnya bangga.
__ADS_1
Ruchi mulai menarik Kania ke darat "Sana ganti pakaianmu lalu kembali bekerja!" pinta Hans.
"Apa? Kembali bekerja? Ahhh kau sungguh keterlaluan!" Kania mengumpat seraya pergi bersama Bi marsih. Sedangkan Hans lekas mengambil kotak merah itu lalu berpikir untuk menyimpannya di tempat yang sedikit aman hingga tak membuat istrinya dalam masalah besar lagi.