
***
Beberapa hari kemudian... Pikiran Hans sungguh kacau balau setalah melakukan hal bodoh pada Kania.
Hans mulai keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi dan trandy. Ia tampak sibuk ketika membenahi kancing baju di lengannya. Lalu tak berselang lama, Kania pun keluar dari kamar yang berhadapan dengan Kamar Hans. Pakaian yang Kania kenakaan tak kalah rapihnya dengan Hans. Hingga Hans yang tak sengaja menatapnya pun mulai curiga "Mau kemana kau?" tanya Hans sinis. Kania mulai merespon pertanyaan Hans sigap, lalu memjawab dengan sebuah tatapan tajam ke arah Hans "Aku... Tentu saja akan pergi bekerja" jawab Kania lantang.
"Bekerja... Memangnya siapa yang menyuruhmu kerja. Sebaiknya di rumah saja!" Bentak Hans.
"... Apa masalahmu. Lagi pula aku ingin punya uang sendiri untuk memesan pengacara" Jels Kania mendelik lalu membuang wajahnya dari Hans.
"Pengacara? Memang kenapa kau harus memasan jasa pengacara?" Hans sungguh marah kala Kania menyinggung soal itu.
"... Aku akan memesan pengacara untuk bercerai denganmu" Jelas Kania. Mendengar ungkapan itu, Hans pun tersedak salivanya sendiri.
"Uhuk! Heh... Kau pikir mudah bercerai denganku?" Hans mulai menyunginkan bibirnya.
"Aku tak perduli... Yang jelas, aku sudah tak ingin dekat denganmu..." Kania mulai melangkah menjauhi Hans dengan membuang wajahnya sendiri.
"He-hei! Kembali aku belum selesai denganmu!" Hans pun melangkah cepat untuk mengejar Kania.
"...kenapa kau begitu percaya diri, memangnya melamar kerja itu hal yang mudah apa?" Hans mulai menghasut.
"...Ini bukan urusanmu!" Bantah Kania.
"Hehehe... Memang nya siapa yang mau mempekerjakanmu. Kau ini hanya lulusan Sma sederajat, dan mana mungkin ada perusahaan yang mau merekrutmu..." Hans masih belum menyerah soal Kania yang ingin pergi bekerja.
"...Oh ya... Apakah menurutmu aku memang tidak ada gunanya?" tanya Kania mulai menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Hans.
"Jangab pura pura bodoh... Kerja di kota itu susah, jika kau bekerja dan ada yang mau mempekerjakan mu. Mungkin saja kau akan bekerja di bar, atau bahkan di cafe-cafe... Menurutku kantor tak akan sudi mempekerjakan mu, kecuali sebagai office Girls..." Jelas Hans panjang lebar seaakan ingin membuat nyali Kania ciut...
"... Kau sungguh sangat menyebalkan!" Kania mulai membuang wajahnya dan kembali melangkah kan kakinya lebar. Ia pergi mengabaikan Hans...
__ADS_1
"Hei... Apakah kau belum menyerah juga? Awas saja jika kau sampai melamar kerja di tempat karoke atau semacamnya. Aku akan segera laporkan ke pada Ayahku!" Bentak Hans di kejauhan. Kania mendengar gertakan Hans, tapi ia sama sekali mengacuhkannya dan enggan berdebat lagi dengannya soal ia yang akan melamar kerja.
***
Meja makan...
"Non. Anda sangat rapi sekali... Apakah anda akan pergi bekerja di tempat tuan Hans?" tanya Bi Marsih.
Kania yang sedang asyik menyantap roti selai di meja itu mulai tersenyum "Ya begitulah bi..." Jawab Kania singkat.
"Syukurlah. Bibi senang melihat ke akraban Nona dan Tuan muda yang terjalin akhir akhir ini..." Jelas Bi Marsih ke girangan.
"Ya. Bi... Terimakasih..." Jawab Kania seraya mengangguk.
Lalu Hans datang dari arah tangga dan mulai duduk di meja yang sama "...Aku selesai" Kania lekas meraih susu lalu meneguknya dan mengusap bibirnya dengan tissue untuk menghilangkan remah roti di bibirnya.
Hans menatap tajam gerak gerik Kania "Aku datang kau langsung saja pergi... Memangnya aku semenakutkan itukah di matanya?" tanya Hans dalam hati.
Hans menatap Kania sedikit sinis... "Lho non. Apakah tidak menunggu tuan sarapan dulu?" tanya Bi Marsih curiga.
"Ayo cepat... Sebentar lagi aku akan kesiangan" Umpat Kania sembari menatap layar ponselnya.
"Jika kau ingin aku makan lebih cepat. Setidaknya, suapi aku..."Pinta Hans merengek.
Kania melotot ke arah Hans "Kau pikir kau itu adalah bayi besar yang perlu ku suapi apa? Dasar pria arogan yang licik. Bisa bisa nya dia mengulur waktu ku begini..." gumam Kania dalam hati.
"Jika kau tak ingin membantuku makan, maka aku juga tidak akan makan..." Hans mulai menghentikan aktifitasnya dan kembali meletakan roti itu di piring.
"...Kau ini sungguh manja sekali. Waktuku sungguh terbatas, jika kamu seperti ini... Aku bisa gagal interview! Menyebalkan!" Kania lekas berdiri.
"...Itulah yang ku inginkan, kau tak pantas bekerja, diam dan tunggu rumah saja... Biarkan aku yang mencari uang. Aku kan boss" gumam Hans bangga dalam hatinya.
__ADS_1
"Ayo makan..."Pinta kania seraya tersenyum pahit juga menutup matanya. Hans tahu jika raut wajah Kania saat ini begitu menyeramkan... Karna Kania jelas sekali pura pura tersenyum.
"Kalau begitu suapi aku..." pinta Hans.
"Baiklah... Ayo makan" Kania lekas meraih pisau dan garpu. Ia memotong motong roti itu sadis lalu menusuk roti itu secara kasar "Dasar kau... Kenapa aku harus selalu di permainkan oleh mu! Menyebalkan! menyebalkan! menyebalkan!" Gumam Kania dalam hati bersama amukannya.
"Makan ini!" Kania terus menyuapi Hans meski mulut Hans masih penuh oleh potongan roti itu "Ummm... Tunggu dulu aku belum sempat mengunyah" bisik hans namun kata kata itu tidak jelas terdengar. Kania tersenyum "Oh... Kamu ingin minum?" Tanya Kania. Hans menggelengkan kepalanya. Kania pun mencengkram gelas itu sinis dan leks menuang air itu ke bibir Hans. Hans sungguh merasa ke susahan oleh ulah Kania.
Gluk! Gluk! Gluk! Hans bahkan menghabiskan satu gelas penuh air suusu itu tanpa bernapas.
"Hosh! Hosh! Hosh!" Hans terengah engah.
"Sudah ya aku pergi sampai nanti" Kania berdiri dan pergi seketika itu. Hans hanya terduduk diam melihat tingkah Kania yang mulai berani membulynya.
"...Tadi hanpir saja... Dia sangat menakutkan, dia ingin membunuhku untuk yang ke dua kalinya... Dasar, sebelumnya tak ada wanita yang berani berlaku kasar padaku. Tapi dia... Entah karna didikan desa yang tak bermartabat hingga membuat nya jadi wanita arogan begitu!" bisik Hans ketakutan.
***
Kania mulai ada di luar kediaman Hans yang berpagar tinggi menjulang itu...
"Tuan Oscar. Maaf terlambat..." Kania menghampiri Oscar yang saat itu membuka kan pintu mobilnya.
"Tak apa nona... Anda pasti sangat kesulitan meninggalkan rumah tuan Hans' tebak Oscar tepat sasaran.
"...Ah hahaha... Ya begitulah..." Kania sungguh merasa tak nyaman.
"Silahkan masuk nona. Tuan sudah menunggu di dalam" Ucap Oscar. Kania pun mulai masuk dan duduk di samping Wily. Tapi saat Kania masuk, Wily tampak manis sekali ketika ia tertidur...
"Pria tampan yang baik memang sangat mempersona kala terlelep" Gumam kania dalam hati. Mau bagai mana lagi? Hans dan Wily memang sama sama tampan. Tapi, Karna Hans lebih arogan... Kania tak bisa menyebut Hans sebagai pria manis.
"Nona... Kita berangkat..." Oscar mulai menyalakan mesin mobil lalu melesat seketika itu.
__ADS_1
Sedangkan Hans, karna ia pandai meretas komputer. Ia pun melihat gerak gerik Kania dari laptopnya. Hanya dengan memasukan kode cctv yang ada di depan rumahnya. Atau pun mobil yang sedang Kania naiki. Atau bahkan perushaan Wily yang pengamanannya sangat ketat.
"Dia jadi singa saat dekat denganku. Tapi kenapa dia tiba tiba jadi kucing manis saat dekt dengan Wily... Wanita ini memang sangat merepotkanku!" Bisik Hans ke panasan. Kelihatannya Hans mulai cemburu oada kedekatan Kania dan Wily itu sebab nya Hans selalu marah pada Kania.