
***
Wily, Richi, dan Kania masih berdiri mematung di depan gerbang kediaman Yohans Buana Wijaya Kusuma. Sementara, wanita berambut pirang itu melotot ketika Hans di lempat sepatu oleh Kania secara tidak sopan, dan yang lebih parahnya lagi... sepatu tersebut mengenai pas di ubun-ubun Hans. Hingga Hans mulai murka dan mengatai Kania Pe-lacur... Hans mengelus kepala nya yang terasa benjol itu. Dengan amarahnya yang membara... Hans terlihat seperti seekor singa yang hendak menerkam Kania.
Kania mulai salah tingkah ketika Hans mendelik ke arahnya dengan tatapan tajam yang geram.
Oh tuhan. Apa yang sudah aku lakukan? Gara-gara emosiku tadi... Aku malah membuat pria itu makin garang saja padaku. Bathin Kania menggumam.
"Sayang. tahan emosimu..." Pinta Wanita berambut pirang itu mengelus dada Hans seakan menghentikan sebuah amukan yang hendak terjadi.
"Heh... ini bukan urusanmu!" balas Hans menepis telapak tangan Wanita berambut priang itu begitu saja.
Hans mulai menghentakan kakinya dengan langkah yang amat lebar "Tuan bos..." Gumam Richi panik dan memperhatikan Kania. Kania tampak pucat pasi, ketika Hans hendak mendekatinya.
Di sana Wily malah tersenyum ketika melihat exspresi Hans yang amat tampak memalukan di matanya. Ia ingin tertawa, tapi ia tahan untuk sebuah tujuan. Wily hanya bisa melihat jidak benjol hans yang mulai berwarna ungu tua.
Apa yang harus aku lakukan? gumam Bathin Kania. Menatap mata Hans yang merah pekat begitu. Karna terlanjur mengamuk... tentu saja membuat Kania salah tingkah. Ia di buat mati kutu oleh tatapan Hans.
Tap!
Hans sudah ada di depan Kania sekarang... Richi hanya bisa menatap ke garangan bosnya. Entah apa yang merasuki Hans saat ini...
"Kenapa kau bisa-bisa nya melemparku dengan sepatu kotormu itu?!" Tanya Hans membentak di iringi dercitan gigi yang menggerigi seakan gemas dan ingin melahap Kania saat ini juga. Kania bingung, ia hanya bisa melotot dengan bibir terkunci tanpa bisa berkata-kata. Sedangkan, hari ini... Kania baru sadar jika suami yang kemarin pendiam itu berubah menakutkan di daerah kekuasaannya.
"Tuan... Bos, dia baru saja tiba... Tidakkah anda berbaik hati?" ucap Richi merayu.
"Ini bukan urusanmu" Dengus Hans kesal.
__ADS_1
Deg! Richi langsung bungkam.
"Maafkan aku, ini salahku... aku tak sengaja melempar sepatu itu... Karna ada kutu di rambutmu. Makanya" kebohongan itu lolos begitu saja dari bibir kania hingga membuat Hans makin marah.
"Bedebah! Siapa yang mengijinkan mu menjawab!" bentak Hans lagi. Hans melempar telapak tangannya ke arah pipi Kania. Kania hanya bisa membelalakkan matanya lebar-lebar hingga tak bisa menepis atau pun mengelak pukulan yang jika tertampar akan terasa amat perih, bahkan bisa berdarah.
Syuuut! Tangan Hans terlempar kencang dan melesat cepat hampir hinggap di pipi bening yang gemoy itu.
Tap! Alhasil, seseorang menepis lesatan tangan kekar pria tampan yang kini berstatus sebagai suami Kania itu. Tangan Hans di tahan seseorang, Hans mendelik tajam ke arah pria yang telah menahan tamparan tangannya itu.
"Kau..." Dengus Hans gemas menatap Willy kelam.
"Hemmm..." Willy tersenyum dan menyungingkan bibirnya tampak mengolok-olok kelakuan Hans.
"Lepaskan tangan kotormu dariku!" gumam Hans menepis tangannya dari cengkraman tangan Willy.
"Tapi... menurutku, pria yang menampar wanita juga lebih kotor lho..." Santai kalimat itu lolos dari mulut Willy.
"Kau! Jangan ikut campur! Uruslah urusanmu sendiri!!" Bentak Hans murka.
Wily tetap saja mengoceh dengan gaya bicara yang tak menyenangkan di hati Hans "Baiklah... Lalu, apa hubunganmu dengan wanita ini?" tanya Wily menatap Hans dingin. Ia bahkan menghentikan ocehannya. Mendengar kalimat tanya terucap di bibir Wily, membuat Hans terdiam menatung di depan Kania.
Sementara Wily menunggu jawaban dari Hans, Wily sengaja mendelik ke arah Kania dengan ekor matanya. Di lihatnya, Kania tengah menatap Hans yang masih diam mematung. Kania tampak gelisah, seakan akan sedang menunggu sebuah jawaban dari Hans itu sendiri.
Wily kembali menatap Hans yang masih bungkam. Wanita berambut pirang pun mendekat dan menggelendong di sikut Hans "Ia sayang. Siapa wanita ini? Apakah dia adalah pembantu barumu yang kamu ceritakan tadi?" tanya Wanita berambut pirang itu.
JDERRRRRRR!!!
Bagaikan tersambar petir, hati kania makin hancur... Selain mendapatkan sebuah kebenaran, Bahwa suaminya hanya mempermainkan pernikahannya. Ia pun mengetahui satu hal lain, bahwa wanita di depannya nampak jelas adalah kekasihnya. Dan rupanya juga, kedatangannya ke kota bukanlah untuk jadi seorang istri. Melainkan, seorang pembantu "Nona Marsha! Tolong jaga intonasi anda..." Bentak Richi turut campur dalam ketegangan tersebut.
__ADS_1
Jadi begini... Kedatanganku hanya untuk di permainkan oleh mereka semua? Apa mereka pikir, aku ini adalah seorang badut yang sedang menghibur mereka semua? bathin kania meringis pedih.
"Benar"Celetuk Hans menatap Kania mantap.
Degh! Mendengar kata itu lolos dari bibir Hans membuat kania sungguh lemas.
"Tuan..." Richi seakan membentak Hans.
"Tentu saja benar... Mana mungkin, ada sebuah hubungan yang tak jelas antara aku dan wanita udik itu. Dia adalah pembantu yang ku ceritakan padamu tadi" jelas Hans memperburuk keadaan. Wajah kania mulai memerah, ada beberapa bulir basah yang bertumpuk di pelipisnya seakan menyembunyikan sesuatu. Hingga membuat Willy sedikit tertarik "Pembatu? baru?" tanya Wily. Hans mendelik cekatan "Semuanya sudah jelas kan? hari nampaknya mulai sedikit gelap. Silahkan and pulang ke kediaman anda. Jangan harapkan ada hal buruk terjadi di sini" Jelas Hans lntang.
Wily nampak tengah menyulut api di antara kepulan asap "Begitu ya. Tapi, sayang jika nona secantik ini menjadi pembantu di kediamanmu. Bisakah, aku menjadikannya sebagai Asisten pribadiku?" tanya Wily lugas.
Deg!
Apa? bathin Richhi.
"Apa maksudmu?" tanya Hans menoleh sigap.
"Ya. Kebetulan, di kantorku kursi Asistenku sedang kosong. Jadi... nampaknya aku tertarik pada wanita ini. Jadi bolehkah jika aku..." belum sempat Willy meneruskan kalimatnya. Hans mulai marah pada Wily "Cari saja yang lain. Aku tak akan pernah memberikannya padamu!" bentak Hans mendorong Kania ke mobil Richi.
"Wah! wah! wah! Serakah juga ya kamu rupanya?" gumam Wily tak senang.
"Richi. Bawa tamu jauh ini ke rumah. Dan suruh orang itu pergi!" bentak Hans. Menyeret Marsha menuju mobilnya. Kini Kania dan Richi pergi meninggalkan Willy. Begitu pula Masrha dan Hans mereka berlalu begitu saja dan menyisakan pria penuh misteri itu di depan gerbang sendirian.
"Bos. Kita pulang" pinta Oscar. Wily tersenyum "Baiklah. Tapi aku ingin, informasi tentang wanita itu... Melihat exspresi Hans tadi. Aku yakin, ada sesuatu yang istimewa dari nya..." imbuh Wily. Oscar mengangguk "Baik bos..." balas Oscar.
Wily dan Oscar mulai undur diri dari front kediaman Hans dan mereka melesat cepat secepat cahaya cinta.
Bersambung...
__ADS_1