
***
Kania dan Hans saling bergenggam tangan... Meski tangan mereka memakai sarung tangan tapi, nampaknya bagi pasangan yang sedang kasamaran. Semua itu terasa sangat indah.
"Uuuh Dingin sekali ya cuacanya" gumam Kania seraya menatap langit cerah yang indah di korea.
"Jika dingin mendekatlah" pinta Hans menarik tangan Kania dan memasukan tubuhnya ke jaket tebal yang ia pakai. Diran memeluk Kania di muka umum hingga setiap mata yang berpapasan dengan mereka tak luput menatap ke mesraan Hans pada istrinya.
"Aku paling mencintaimu..." ucap Hans seraya mengecup bibir istrinya.
"Iihhh nakal..." Pekik Kania mendorong dada Hans hingga kecupan genit pun terlepas.
"Kamu... Awas ya!" Hans melangkah cepat mengejar istrinya yang terus berjalan seraya beberapa kali bermain mata dengannya.
"Jika tertangkap awas saja, akan ku buat kamu lemas semalaman" imbuhnya. Gertakan itu malah membuat Kania tertawa.
Apakah ini mimpi? Jika ini mimpi, ku mohon jangan pernah membangunkan ku tuhan. Bahagia sekali jika punya seseorang yang mencintaimu selain orang tuamu... Aku bahagia tuhan... Amat bahagia. Bathin Kania.
Hans mendapatkan Kania...Hans memeluk Kania dari belakang begitu erat "Jangan kabur lagi..." Pinta Hans seraya melepas pelukannya.
"Baik baik aku mengaku kalah..." Ucap Kania.
Mereka pun mulai berjalan menuju restorant yang telah di pesan Hans.
__ADS_1
BRAK!! Nampaknya seseorang sedang murka... Ia bersembunyi di dalam mobil berwarna hitam... Dan setelah menggebrak kursi belakang kemudi itu, dia pun lekas keluar dengan langkah lebarny. Lalu di ikuti sesosok wanita di belakangnya... Nampaknya mereka adalah sepasang pria dan wanita... Tapi kenapa mereka terlihat tengah mengintai Hans dan Kania?
***
"Selamat datang..." sapa para pelayan dengan bahasa inggris. Karna autor tak terlalu pintar bahasa inggris. Autor hanya akan membuat teks dengan bahsa indonesia.
"Silahkan..." sambung para pelayan lain. Mereka menyambut Hans dan Kania begitu rama. Kania menatap Hans kala Hans mempersilahkan Kania masuk terlebih dulu "Mas... Kamu romantis sekali malam ini" ucap Kania tersenyum lebar para Hans.
"Untuk mu sayang, apapun akan aku lakukan..." Jelas Hans.
Kania pun perlahan masuk ke ruang terestoran tersebut, dan saat ia masuk. Sepasang netranya sungguh terpukau saat menyimak adaan di dalam restorant tersebut "Waaahhhh..." Kania berdecap kagum. Kania membungkam mulutnya kala menyaksikan ruangan Dinner yang begitu megah dan indah. Hans menyuruh para pelayan restorant itu untuk menata ruangan tersebut denga semenarik dan seromantis mungkin.
"Kamu menyukainya sayang?" Tanya Hans seraya memeluk Kania dari belakang.
"Syukurlah... Bisa melihat senyummu saja sudah membuatku bahagia..." rayu Hans seraya menyematkan kecupan mesranya di leher Kania. Kania memang tampak berbeda setelah ia membuka mantelnya. Apa lagi gaun yang Kania pakai sangat pas di tubuhnya hingga membuat Hans selalu tergoda dan ingin nempel terus kayak prangko.
"Ayo duduk..." Ucap Hans. Hans menyodorkan kursi untuk Kania duduk, Kania mulai duduk seraya menatap dua manik mata Hans "Makasih mas... Malam ini kamu memang is the bast" Ujar Kania terkekeh.
"Apapun itu... Asal kamu bahagia, aku pasti akan melakukannya" Jawab Hans makin membuat Kania terpesona padanya.
"Ayo kita mulai makan..." Pinta Hans.
Kania mengangguk, mereka mulai menikmati hidangan khas restoran tersebut. Daging steak dengan kematangan medium membuat suasana malam makin hangat dan romantis "Sayang tunggu..." ucap Hans, Kania pun lekas menghentikan gerakan tangannya yang sibuk memotong motong daging Steak di depannya.
__ADS_1
"Ada apa mas" tanya Kania menatap Hans curiga. Hans tersenyum seraya meraih selebar tissue lalu mengusapnya lembut di bibir bawah Kania.
"Ada bumbu yang menempel di bawah bibirmu sayang" ucap Hans sembari mengusapnya lembut.
"Aahh benarkah. Aku sungguh teledor maafkan aku..." cerocos Kania, padahal Hans ingin membuat moment tersebut berkesan. Tapi karna Kania tak berhenti bicara, Hans jadi mulai menyerah dan apa boleh buat.
"Jangan khawatir... Aku akan selalu ada untukmu sayang mulai dari sekarang" Jelas Hans. Kania lagi lagi terdiam kala mendengar kata kata manis itu terlontar dari bibir tipis Hans.
Setalah makan malam romantis, Kania dan Hans bersulang ketika meneguk jus anggur. Hans memilih minuman itu karna tak ingin Kania mabuk...
"Lalu sekarang apa mas?" tanya Kania cengengesan menatap Hans.
"Tuh suara musik indah mulai mengalun. Bagai mana jika kita berdansa?" tanya Hans kania mulai membelalak "Dansa mas? Gimana ini, aku nggak bisa dansa..." ucap Kania memundurkan wajahnya karna grogi.
"Aku yang akan mengajarimu..." jelas Hans mulai berdiri dari ddukknya dan menghampiri kursi Kania. Ia mulai membungkukan tubuhnya lalu menjulurkan tangannya di hadapan Kania. Kania tersenyum dengan rona merah pekat di pipi nya.
"Tapi mas aku nggak bisa dansa nih..." Elak Kania.
"Raih tanganku lalu kita berdansa bersama" Jelas Hans.
Kania mulai menurut sja lalu membalas uluran tangannya "Jangan khawatir... Aku akan memperlakukan mu dengan baik" Jelas Hans menenangkan suasana hati kania.
Kania mulai msuk ke lantai dansa bersama Hans. Kania hanya bisa mengikuti alunan musik bersama langkah kaki Hans yang membawa Kania dalam sebuah ketenangan.
__ADS_1