
"Tuan tunggu! Anda harus tenang" Pinta Richi membuntuti langkah Hans.
Hans yang marah malah abai pada ujaran Richi. Hans terus melangkah hingga ke lantai 4 seraya terus menempelkan ponselnya di telinga. Hans jadi buta karna rasa cemburu nya yang amat besar...
Setelah memasuki beberapa kamar megah, emosi Hans makin memuncak. Ia berjalan di lorong nomor 349, dan mendengar bunyi ponsel yang begitu pamiliar di kupingnya.
"Richi kau dengar itu?" Tanya Hans menatap Richi.
"Ah tidak... Tuan bicara apa?" Balik tanya.
"Sial. Itu karna telingamu tersumbat! Biar aku saja..." Hans yang mengamuk malah mendobrak kamar 349. Saat pintu terbuka Hans malah terbelalak malu.
"Huaaaaa!Siapa kau!" Teriak sepasang kekasih yang telah saling merangkul dengan pakaian hampir telanjang.
Hans lekas menutup pintu kamar itu kembali "Sial! Karna marah aku malah jadi bodoh!" Dengus kesal Hans.
"T-tuan, sebaiknya saya saja..." Pinta Richi.
Richi mengetuk setiap kamar yang Hans curigai "Servis kamar... Apakah ada cucian kotor?" tanya Richi seraya terus mengetuk.
Dan beberapa member hotel menumpuki wajah Richi dengan beberapa lembar pakaian kotor nan bau "Apa yang kau lakukan, menjijikan... Biar aku saja yang mengetuk kamar selanjutnya. Wajahmu saja tak kelihatan karna terlalu penuh dengan pakaian dalam menjijikan itu!" Oceh Hans kesal.
Kenapa aku jadi kacau begini... Apakah ini perasaan yang sama ketika dia di acuhkan olehku. Sedangkan aku bersenang senang dengan mantan kekasihku... Coba saja jika dia ingin balas dendam dengan bermalam bersama sei tua Wily. Akan ku pastikan, hidupnya menderita seumur hidupnya!! Racau Hans terus menggumam seraya menggengam ponselnya begitu erat hingga berembun karna panas tubuhnya.
"Tuan. Apa yang anda pikirkan?" Tanya Richi membuyarkan lamunan Hans. Hans bergeming dan mulai menoleh ke arah Richi "Ya. Aku baik baik saja..." Balas Hans dengan lidah yang kelu.
Ia tak bisa bayang kan bagai mana jika saat ia membuka pintu, ia malah dapati Kania dan Wily yang tengah asyik berpelukan seperti member hotel di kamar 349.
__ADS_1
"Aagh! Richi ayo lanjutkan... Akan ku obrak abrik hotel menjijikan ini!!" Bentak Hans.
"T-tuan jangan terlalu keras, kita bisa di usir nanti" Pinta Richi.
"...Heh..." Hans membuang wajahnya.
Mereka kembali melanjutkan langkahnya... Namun Hans. Sungguh terganggu oleh panggilan masuk yang silih bergantian meski Hans telah mengabaikannya "Tuan. Angkat dulu... Siapa tahu itu hal yang penting" Pinta Richi.
"...Wanita itu menjengkelkan akhir akhir ini... Dia terus saja menelponku. Bahkan dia sendiri yang telah membuangku!" Bentak Hans meremas ponsel yang saat itu berdering. Nampaknya Marsha mulai gencar kembali setelah Hans pergi dari sisinya.
"Angkatlah dulu..." Pinta Richi lagi.
"Kenapa aku harus?" Bantah Hans.
"Siapa tahu itu penting... Meski sebentar, mungkin tak apa tuan" Richi terus saja menghasut Hans agar amarahnya mereda dan tak mengacau di hotel orang atau mereka bisa di usir.
"Sayang... Kamu kemana?" tanya Marsha mendesa-h manja.
"Sedang mencari istriku..." Ucap Hans ketus.
"...Kenapa di cari? Sayang, datang ya ke mari... Soalnya, ada hal yang ingin aku sampaikan pada mu Sayang..." Pinta Marsha.
"Tentang Hal apa itu, jika tak terlalu Urgent, kamu bisa bicara di telpon..." Ucap Hans ketus.
"...Tapi, ini sangat mendesak... Ku harap kamu bisa datang kemari..." Jelas Marsha bersikeras.
"Ya sudah aku akan ke sana sekarang. Tunggulah aku tak akan lama" Balas Hans mulai menutup ponselnya.
__ADS_1
"Sial. Dia sungguh menggangguku!" bentak Hans.
Richi tiba tiba mulai menarik Hans dan membawanya sembunyi "Ada apa Richi!" tanya Hans kesal.
'Sssttt tuan... Lihat, Itu Oscar... Dia baru saja keluar dari kamar nomor 590. Jangan jangan tuan Wily juga ada di sana" Ujar Richi.
Hans Langsung pasang badan, ia mulai melangkah lebar. Richi kembali menarik Hans, dan membawanya sembunyi... Akhirnya setelah Oskar pergi dari front kamar itu. Hans pun melangkah lebar ke arah pintu no 590.
Dan mulai menekan nomor Kania. Benar saja ponsel nya terdengar dari dalam sana. Hans. Mengerutkan alisnya, matanya mulai memerah dan berkaca kaca.
Jika benar wanita sial itu ada di sana! Habislah kau!... Bathin Hans menggumam. Tubuhnya terasa lemas dan ia tak ingin tahu hal yang sebenarnya. Ia takut jika saat ia membuka pintu... Kania sungguh telah bermesraan dengan Wily , dengan pakaian setengah telanjang.
Hans mengetuk pintu itu pelan, padahal tangannya sudah mengepal erat dan hatinya ingin sekali menerobos ke dalam sana.
"Oscar masuk saja..." Ucap Wily dari dalam sana.
Hans sungguh terbelalak dan makin marah ia ingin sangat ingin menerobos masuk ke dalam.
Akhirnya setalah Hans mengetuk pintu itu beberapa Kali. Pintu mulai terbuka dan Wily pun keluar... Pintu kamar terbuka sangatlah lebar hingga Hans bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di dalam sana.
"Kau!!" Ucap Wily.
Hans membelalakan matanya lebar lebar, tangannya kian mengepal dan emosinya memuncak hingga di ubun ubun. Bagai mana tidak, Hans melihat Wily setengah telanjang, Saat itu ia mengenakan handuk hingga bawah pinggangnya, dada yang menggoda dengan beberapa roti sobek di sana tubuh atletis itu wanita mana yang tak mencintainya. Dan Rambut Wily yang jatuh karna basah sungguh membuatnya makin seksi saja. Apalagi Hans juga iri pada wajah Wily yang sangatlah tampan bah boy band asal korea selatan.
"...Kau!!! Kau apakan istriku!!" Pekik Hans melempar bogem mentah ke arah pipi Wily dengan sangat keras hingga Wily terlempar hingga ke dalam kamar nomor 590.
"Tuan... jangan lakukan kekerasan. Tuan bicaralah dengan otak yang dingin..."Pinta Richi meredam emosi Hans
__ADS_1
Hans menggila karna rasa cemburunya... Sedangkan ia belum tahu akar permasalahannya. Apakah benar Kania ada di dalam dan telah melakukan malam pertamanya dengan Wily? Yuk simak eps selanjutnya...