
Malam itu, Hans merenggut pinggang Kania dan mendekapnya di pelukannya. Kania sedikit kaget karna sesuatu yang besar terasa menempel di area perutnya.
Astaga... Apa ini... Kenapa seperti ada sesuatu yang mengganjal tepat tertempel di perutku. Bathin Kania menggumam.
Hans membawanya berputar putar ke sana dan kemari sesuai alunan musik melow yang ada di lantai dansa tersebut.
"Apakah kau suka..." tanya Hans membenamkan kepalanya di leher jenjang Kania.
"Aku... Sedikit canggung" Balas Kania dengan jantung yang berdebaran.
"Jangan canggung. Aku ada di sampingmu..." balas Hans.
Hans dan Kania tampak serasi kala berdansa penuh ke harmonisan. Kania dan Hans terlihat menikmati alunan musik melow itu hingga part akhir.
"Lanjut ke lagu berikutnya?" Tanya Hans.
Kania terdiam sesaat, lalu ia mengangguk "Tapi... Sekali lagi ya. Aku tidak mau membuatmu malu karna aku memang tidak bisa berdansa mas" jawab Kania polos.
Hans pun mulai mengulurkan tangannya kembali "Akan ku ajari putri cantik berdansa dengan sangat lembut" Ujar Hans.
Kania pun mulai membalas uluran tangan Hans. Hans menarik Kania ke lantai dansa dengan lembut, kali ini ritme irama yang di mainkan tidak lah semelow alunan musik pertama.
__ADS_1
Kenapa rasanya musik kali ini terasa penuh energik. Bathin Kania.
Hans mendorong tubuh Kania menjauh dan tatap menggenggam tangannya. Lalu kembali menarik tangan itu dan membuat Kania berputar hingga jatuh di pelukan Hans.
Dap!
"Mas. Pelan pelan... Aku sama sekali tidak bisa berdansa" pinta Kania.
Hans tersenyum sembari menarik tangan Kania ke atas lalu memutarkan tubuh Kania beberapa putaran hingga ia kembali menjauhkan Kania dan kembali menariknya.
"Akh!" Gerakan Hans yang tak bisa Kania imbangi. Membuat Kania ke hilangan ke seimbangannya hingga ia berputar putar tanpa kendali... Tangan Hans yang terlepas dari Kania membuat Kania menjauh dari Hans.
Hans mencoba menghampiri istrinya, namun seseorang meraih tangan Kania dan mulai menghentikan putaran tubuh Kania yang tak terkendali itu.
Grap!! Pria itu menarik tangan Kania dan membuat Kania jatuh ke pelukan seseorang.
Hans terbelalak "Kau!! Kenapa kau ada di sini?" Pekik Hans membulatkan matanya.
Kania yang tak sadar jika pria yang mendekapnya itu bukan lah Hans hanya bisa terdiam seraya menyeimbangkan penglihatannya yang terasa pening itu.
"...Aahh kepalaku pusing" Bisik Kania memegang kepalanya.
__ADS_1
"Heh. Kenapa? Irama musiknya belum berhenti..." Jawab seseorang dengan suara berat. Dan kania tahu suara pria itu...
Kania mendonggakan wajahnya dan menatap pria di hadapannya "T-tuan..." Kania juga tak percaya jika pria di hadapannya itu adalah orang yang sangat ia kenal.
"Tuan Wily! Kenapa anda ada di sini?" tanya Kania menjauhkan tubuhnya dari Wily. Namun Wily malah menggenggam tangan Kania dan mengajaknya menari.
"Tuan. Tolong lepaskan saya..." Pinta Kania yang mendelik ke arah Hans.
Hans mengepalkan tangannya ketika melihat Kania berdansa dengan Wily "Bagai mana dia bisa ada di sini?" tanya Hans dalam hatinya.
"Kita juga berdansa..." Ucap Marsha meraih tangan Hans dan menariknya ke samping Wily yang menari indah bersama Kania.
"Tuan... Saya tidak enak hati, jadi tolong lepaskan saya" pinta Kania.
"Jangan khawatir, setelah part berikutnya, aku akan kembali memutarkan tanganmu...lalu kamu akan terhenti di samping Hans" Jelas Wily.
Kania mulai bungkam "Oh. Begitu ya..." bisik Kania.
Ada yang sangat janggal dalam lantai dansa kali ini, sebab kedatangan Wily dan Marsha tentu saja sudah membuat pesta romantis yang Hans buat untuk Kania menjadi hancur. Apa lagi; Hans tak suka pada Wily karna ia cemburu padanya. Begitu pun Kania yang tak suka pada Marsha karna Marsha adalah masalalu Hans...
Meski tak sudi, tapi... Irama musik di lantai dansa itu tetap saja harus di akhiri ketika hentakan dansa terakhir.
__ADS_1