
"Berselingkuh?" Tanya sang ayah menunduk.
"Ya ayah... Aku ingin bercerai dengannya! Dia tak pantas jadi istriku... Kenapa ayah tak mau memahamiku. Setidaknya tunggu hingga aku menikahi kekasihku!" Jelas Hans bersulat lidah.
"Heh... Kau sungguh naif nak. Bagai mana bisa aku membesarkan anak biadab seprti mu. Kau bilang menantuku berselingkuh... Sedangkan kau sediri dengana wanita di sampingmu itu... Ku harus berkata apa? Apakah kalian kumpul kebo!" Tanya sang ayah memaki Hans.
"Tapi ayah... Kami hanya bersama dan tak pernah melakukan apapun!" jelas Hans menepis perkataan ayahnya yang begitu menyakitkan.
"Diam Hans. Sekarang putuskan sendiri... Ayah tak akan mau mengikuti perkataanmu lagi. Ayah punya aturan sendiri... Pilihlah dua hal ini... Bercerai dengan Kania dan tak mendapatkan sepeser harta pun dari ayah. Atau terus bersama istrimu lalu jauhi wanita itu..." jelas Sang ayah memastikan anaknya tak mempermainkan dirinya.
"Ayah. Ini terlalu berat!" Bentak Hans membuang wajahnya.
"Terlalu berat bagimu... Apakah menurutmu Istrimu akan suka jika kau dekat dengan wanita lain... Sedangkan statusmu sendiri adalah suaminya!" Bentak Ayah Hans puas.
"Ayah. Tapi aku tidak mencintainya!' Bentak Hans.
"Kalau begitu pergilah dengan pacarmu dan jangan kembali menampakan wajahmu yang tak bertanggung jawab itu dari hadapanku!" Ayah Hans mulai membuang wajahnya.
Hans mengepalkan erat tangannya dan menahan tangisan yang ingin pecah "Ayah akan pergi... Rumah, aset dan segala investasi akan ayah berikan pada Kania... Juga Ginaya. Karna ayah malu punya anak tak bertanggung jawab sepertimu" perdebatan anak dan ayah itu sungguh membuat Marsha malu. Ia pun mulai mengambil suara "Kalau ini terlalu berat... Maka aku akan pergi" jelas Marsha menatap Hans. Hans meraih tangan Marsha dan memohon "Tidak sayang. Jangan tinggalkan aku..." pinta Hans.
"Aku tak pantas ada di sampingmu... Masa depanmu bukanlah aku... Maaf sebaiknya kita akhiri saja sampai di sini" Marsha melepas tangan Hans dengan jemarinya pelan.
"Tapi... Tapi aku.." Hans tetap menolak.
Marsha pergi dan mulai meninggalkan Hans... Hans mulai lemas dan mulai berlutut di lantai "Tak pantas... Kau sungguh pria yang tak pantas mendapatkan wanita baik macam Kania..." ujar sang ayah.
"...Lantas saja pria dari Velgin Group sangat antusias menginginkan Wanita baik model Kania. Karna tak ada wanita yang lebih baik darinya..." Tambah sang ayah.
__ADS_1
Hans mendonggakan wajahnya ke arah sang ayah "Apa maksud ayah?" Tanya Hans tak paham.
"Berita terhangat, Tuan Wilyem dari Valgin Group telah datang kepesta bersama kekasihnya. Lalu satu berta lagi, Tuan Hans menarik tangan kekasih Tuan Wilyem hingga wanita tersebut tercebur. Bagai maana menurutmu? Apakah kau akan klarivikasi msalah ini... Atau kau benar benar di sebut sebagai perebut kekasih orang. Tinggal pilih saja, ayah yang akan tentukan tanggal konfersi persnya" jelas sang ayah.
Hans makin marah dan ia sangat benci pada Kania. Bahkan ayahnya sendiri malah memihaknya "Mana istrimu sekarang. Ayah perlu bicara" pinta sang ayah.
"... Karna kesal aku meninggalkanya di Villa kekasihku"Balas Hans.
"Apa katamu? Cepat jemput dia! Dasar anak kurang ajar!' Hans tak bisa membatah dan mulai mencari wanita itu.
"Jika kau tidak menemukannya. Akan ku backlis kau dari anggota kluarga ku!' Teriak sabga ayah marah besar.
"Sial!" Hans lekas mngambil salah satu mobilnya di bagasi dan mencari wanita itu dengan pakaian basah kuyup. Mungkin dia akan masuk angin nantinya...
***
Kania masih berjalan sempoyongan, dalam pikirannya ia sungguh tak bisa memaafkan suaminya yang tak pernah mencintai dan menghormatinya sebagai seorang wanita... Ia hanya terus melangkah ke arah di mana ia akan pulang kerumah suaminya dan mengambil semua baju bajunya lalu bercarai dengan Hans.
Kania yanh senang karna Wily di undang ke pesta Hans pun mulai bangkit dari tempat tidur lalu pergi ke arah di mana Wily menjemputnya
"Aku di sini..." ucap Wily melambaikan tangannya.
"Syukurlah..." kania menghampiri Wily seketika itu.
"Apakah kamu akan datang ke pesta Hans dengan pakaian itu?" tanya Wily. Kania menggelengkan kepalanya "Sebenarnya aku tak punya pakaian terbaik selain gaun pemberian anda..."
"Ya sudah kita pergi ke salon dulu ya" Balas Wily dengan senyuman simpul yang menawan.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi saya tidak punya uang" balas Kania menunduk.
"Jangan sungkan... Mau kamu temani saja ke pesta Hans sudah membuatku senang" Wily kembali memuji Kania.
Hati wanita mana yang tak meleleh oleh ke baikan Pria tampan yang mapan itu. Kania hanya bisa mengangguk senang... Hingga mereka tiba di salon dan di dandaninya Kania dengan sangat cantik bah bidadari yang turun dari syurga.
"Kamu sangat cantik..." Ucap Wily menghampiri Kania dan menyibat rambutnya pelan "Benarkah?" kania malu malu.
"Oh ia. Jika kita ke pesta kita harus punya kado. Apakah kamu punya sesuatu yang ingin kamu berikan pada tuan rumah mu?" Tanya Wily.
"...Aku punya jam tangan biasa, jam ini aku simpan beberapa minggu yang lalu. jam murah ini aku beli dari desa dengan tabungan ku sendiri..." Jelas Kania. Penjelasan itu sungguh membuat Wily terkesima... "Coba jika jam itu untukku... Pasti aku akan sangat senang" Jelas Wily.
Kania hanya bisa terdiam dan sedikit canggung "Aku hanya bercanda..." Wily mulai berkata demikian.
"Jika kita tidak cepat maka akan kemalaman... Ayo lekas masuk mobil" Jelas Wily.
Mereka mulai masuk mobil dan melesat cepat menuju pesta Hans. Namun siapa sangka saat datang ke sana, Hans akan begitu murka pada Kania dan membuatnya malu. Apa boleh buat, Kania di permalukan oleh Hans di muka umum. Hingga ia berniat meminta cerai dari Hans secepatnya...
"Aku bersyukur jika pria yang menjadi suamiku kelak adalah pria baik seeperti tuan Wily... Meski aku tak mencintainya. Setidaknya ada pria yang mencintaiku..." Bathin Kania menggumam.
Flasback off
"Di mana wanita itu... Seharunya ada di sekitaran sini" bisi Hans kesal.
Setelah berkendara beberapa saat, akhirnya lampu sorot mobilnya mendapati sebuah tumpukan kain di tengah jalannya "Apa itu" seraya curiga, Hans pun mulai menghentikan laju mobilnya dan mulai turun lalu menghampiri tumpukan kain itu. Netra Hans terkejut kala ia dapati tumpukan kain itu adalah gaun yang Kania pakai.
"Sial... Maana hujan lagi" kesal Hans seraya mengangkat tubuh Kania yang begitu dingin dan basah kuyup itu.
__ADS_1
Hewan pun akan mati jika ia memaksakan diri di tengah hujan. Apa lgi kania yang hanyalah seoarang wanita biasa.
"Dasar wanita yang merepotkan!'umpat Hans kesal ia lekas membawanya masuk ke dalam mobilnya.